Manakah yang lebih menguntungkan, mengontrol tekanan darah atau kadar glukosa pada penderita DM?

Dalam suatu acara pertemuan lansia di RT 44 Kelurahan Jayabaya beberapa waktu yang lalu, salah seorang peserta bertanya pada penyuluh kesehatan yang mengisi acara tersebut. Kalau tidak salah ingatan saya, pertanyaan yang More »

GAGAL GINJAL BUKAN GAGALNYA KEHIDUPAN

Pernahkah kita bayangkan bagaimana jadinya kalau tubuh manusia tidak dilengkapi dengan organ ginjal oleh Allah SWT? Tidak dipungkiri bahwa ginjal merupakan salah satu organ penting tubuh manusia. Dengan struktur nefronnya ginjal berperan More »

Bagaimana BERITA hasil riset ” ADVANCE” ?

“ADVANCE” adalah proyek untuk mengevaluasi penatalaksanaan pengontrolan gula darah intensif dan tekanan darah pada pasien dm. Diharapkan dengan adanya pengendalian gula darah secara intensif akan memperbaiki kualitas hidup pasien dm, menurunkan kejadian More »

daging-kambing-320x157

Idul Adha, Daging Kambing, Hipertensi Dan Kolesterol?

Alhamdulillah idul adha telah menghampiri kita, hari raya dan kegembiraan bagi kaum muslimin. Dalam pikiraan beberapa orang “pesta daging” Kemudian sering kita dengar entah itu celutukan atau nasehat dari orang, “hati-hati makan More »

A_Cartoon_Elderly_Man_Jogging_Royalty_Free_Clipart_Picture_100509-137654-578053

Manfaat Rajin Lari Pagi

Berkaitan dengan Peringatan Hari Jantung Sedunia tanggal 29 September 2014 silam, Kemenkes RI menyampaikan beberapa hal penting terkait pengendalian penyakit jantung. Salah satunya adalah ‘resep lari pagi’ dari dokter. “Faktor risiko penyakit More »

Tips-Diet-Sehat-Alami

Turunkan Berat Badan Pasca Hamil dengan Diet Rendah Karbohidrat

Kehamilan adalah suatu anugrah yang indah, tapi menurunkan berat badan (BB) setelah persalinan adalah tantangan berat yang harus dihadapi oleh para ibu. Selama hamil BB saya naik 10 kg. Alhamdulillah ketika anak More »

Konsumsi Lemak? Don’t Worry… Lemak Juga Menyehatkan : Dikaitkan dengan Agama Islam

Kali ini saya akan menghubungkan dunia Gizi dengan salah satu agama, yaitu agama Islam. Hal yang akan dibahas adalah kaitannya dengan konsumsi lemak. Banyak yang sudah mengetahui bahwa lemak yang terdapat pada More »

Coffee May Reduce Risk of Basal Cell Carcinoma But Not SCC and Melanoma

July 3, 2012 — Coffee — and the caffeine it contains — may reduce the risk of developing basal cell carcinoma (BCC), according to new prospective data from more than 110,000 healthcare More »

LKTI PIO UAD Se-JATENG 2012

LKTI (lomba karya tulis ilmiyah) ini di selenggaraka oleh PIO UAD. Lomba Karya Tulis Ilmiah SMA/SMK/MA Se-jateng ini bertujuan untuk mengembangkan obat asli indonesia ( obat tradisional indonesia) sehingga kelak akan mempunyai More »

BAGAIMANA DM DI INDONESIA? APA YANG SUDAH KITA LAKUKAN? Suatu renungan memperingati hari DM

Penyakit gula darah (DM) telah menjadi wabah di hampir semua negara, tidak peduli, apakah negara maju, telah, sdang atau akan berkembang. Bertambahnya kejadian obesitas pada balita semakin meneguhkan akan semakin tingginya kejadian More »

Suplementasi Probiotik Memperbaiki Gejala Rinitis Alergika pada Anak

Suplementasi Probiotik Memperbaiki Gejala Rinitis Alergika pada Anak

Insidens penyakit alergi pada masa kanak-kanak meningkat di seluruh dunia, terutama di negara-negara industri, hal ini kemungkinan disebabkan oleh sistem imun tidak mendapatkan stimulasi yang adekuat pada tahap awal kehidupan. Penyakit alergi dapat menyebabkan ketidakmampuan pada anak-anak, dan dapat menimbulkan penurunan kualitas hidup serta menurunkan efektivitas kerja para orang tua.

Bakteri probiotik dapat memperbaiki keseimbangan mikroba usus, dan dapat mempermudah modulasi respon imun. Terdapat perbedaan komposisi flora usus pada anak-anak yang mengalami alergi dengan yang tidak. Khususnya, jumlah Clostridia dalam flora usus lebih tinggi pada orang yang mengalami alergi, sedangkan jumlah Bifidobacteria lebih rendah.  Terlebih lagi, gaya hidup akhir-akhir ini telah mengubah komposisi mikroflora usus, dengan prevalensi enterobacteria pada Lactobacilli dan Bifidobacteria. Intervensi pada flora usus melalui konsumsi mikrobiota hidup (Lactobacilli), dapat membantu maturasi sistem imun yang tepat, dan menurunkan perkembangan alergi pada masa kanak-kanak.

Dari salah satu hasil review beberapa studi penggunaan Lactobacillus yang dikaitkan dengan gejala rinitis alergika dan asma dilakukan oleh Dr. Betsi GI, dkk, yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of Allergy, Asthma, & Immunology tahun 2008. dalam review tersebut memasukan beberapa studi klinis acak tersamar-gada, dan menunjukkan hasil bahwa; 9 dari 12 RCT yang mengevaluasi manfaat klinis pada rinitis alergika memperlihatkan adanya perbaikan terkait dengan penggunaan probiotik. Seluruh RCT mengenai  rinitis alergika musiman memperlihatkan skor gejala dan penggunaan obat-obatan yang lebih rendah dengan penggunaan probiotik dibandingkan dengan plasebo.5 dari 8 RCT mengenai  rinitis alergika musiman  memperlihatkan adanya perbaikan pada clinical outcomes. RCT yang melaporkan penilaian berbagai parameter imunologik terhadap alergi memperlihatkan tidak adanya efek probiotik yang bermakna.

Probiotik mungkin mempunyai efek yang menguntungkan terhadap rinitis alergika dengan menurunkan tingkat keparahan gejala-gejala yang timbul dan penggunaan obat-obatan. Dibutuhkan lebih banyak studi yang berkualitas baik untuk memecahkan masalah ini.

by : admi pio, lolita

Share

Clopidogrel Dosis Ganda, Memperbaiki Efek Antiplatelet Akibat Penggunaan PPI

Clopidogrel Dosis Ganda, Memperbaiki Efek Antiplatelet Akibat Penggunaan PPI

Penurunan efektifitas clopidogrel karena pemberian clopidogrel bersamaan dengan PPI dapat diatasi dengan meningkatkan dosis clopidogrel hingga 2 kali lipat, atau menggantikan PPI dengan ranitidine. Kesimpulan ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh dr. Pamela Moceri dan rekan dari MD the Cardiology Department, Pasteur University Hospital of Nice, Nice, Perancis

Clopidogrel telah digunakan secara luas untuk mengatasi kajadian aterotrombotik, baik pada pasien-pasien dengan kejadian kardiovaskular, serebrovaskular, dan penyakit arteri perifer, maupun pada pasien-pasien dengan risiko tinggi kardiovaskular. Dalam penelitian-penelitian seperti CAPRIE, CURE, CLARITY-TIMI serta penelitian lainnya, efektifitas clopidogrel tidaklah diragukan lagi sebagai salah satu anti-platelet andalan yang dapat menurunkan kejadian kardiovaskular. Obat-obat golongan PPI (proton pump inhibitor) seringkali diberikan bersamaan dengan clopidogrel-aspirin untuk mencegah perdarahan lambung. Namun penelitian OCLA (OCLA: Influence of Omeprazole on the Antiplatelet Action of Clopidogrel Associated to Aspirin), memperlihatkan bahwa omeprazole secara bermakna menurunkan kemampuan clopidogrel dalam menghambat trombosit sebagaimana diperlihatkan dari hasil pengujian dengan VASP (vasodilator-stimulated phosphoprotein phosphorylation).

Hasil dari penelitian ini meningkatkan perhatian terhadap interaksi yang mungkin terjadi dan menurunnya efektifitas antiplatelet clopidogrel. Tahun 2009, FDA (Food and Drug Administration) menyampaikan peringatan mengenai pemberian clopidogrel dengan omeprazole bersamaan. Dalam peringatannya tersebut, FDA juga menyatakan bahwa pasien-pasien dengan risiko tinggi serangan jantung dan stroke yang diterapi dengan clopidogrel tidak akan memperoleh manfaat penuh dari clopidogrel bila diberikan bersamaan dengan omeprazole. FDA pada saat itu merekomendasikan perubahan label clopidogrel dengan perigatan baru, yaitu interaksi clopidogrel dengan omeprazole dan obat-obat lain yang menghambat enzim CYP2C19. Pasien yang sedang diterapi menggunakan clopidogrel dan memerlukkan obat-obat yang mengurangi asam lambung direkomendasikan untuk diterapi menggunakan antagonis H2 seperti ranitidine atau famotidine, karena FDA memiliki keyakinan bahwa obat-obat ini tidak berinteraksi dengan clopidogrel. Sedangkan obat-obat yang tidak direkomendasikan pemberiannya bersamaan dengan clopidogrel antara lain adalah seperti cimetidine, fluconazole, ketoconazole, voriconazole, etravirine, felbamate, fluoxetine, fluvoxamine, dan ticlopidine.

Sebuah penelitian dilakukan oleh dr. Pamela Moceri dan rekan dari MD the Cardiology Department, Pasteur University Hospital of Nice, Nice, Perancis, untuk meneliti efek dari esomeprazole dan ranitidine terhadap efek antiplatelet clopidogrel dan aspirin, serta untuk mengetahui, apakah meningkatkan dosis clopidogrel dapat memperbaiki efektifitas anti platelet yang hilang karena esomeprazol.

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian prospektif, acak, silang. Pemeriksaan reaktifitas platelet terhadap aspirin 75 mg dan clopidogrel 150 mg dilakukan dengan/tanpa esomeprazole dan ranitidine dan menggunakan the VerifyNow system. Pemeriksaan dilakukan dalam 4 tahapan yang masing-masing dilakukan selama 7 hari. Tahap 1 : aspirin 160 mg dan clopidogrel 75 mg; Tahap 2 : aspirin 160 mg + clopidogrel 75 mg + esomeprazole 20 mg; Tahap 3 : aspirin 160 mg + clopidogre 150 mg + esmeprazole 20 mg; dan Tahap 4 : aspirin 160 mg + clopidogrel 75 mg + ranitidine 150 mg. Hasil dikumpulkan dalam P2Y12 Reaction Units (PRU%) dan Aspirin Reaction Units (ARU).

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pada 21 pasien dengan penyakit arteri koroner, esomeprazole mengurangi efektifitas clopidogrel dengan penurunan 38.6%±24 PRU (p<0,001) (perbedaan rata-rata absolut -16.7 PRU% [-21;-12.5]), dan meningkatkan kejadian respon rendah terhadap clopidogrel sebesar 8 kali lipat (pasien dengan persebntase PRU <20%). Selain itu diketahui bahwa ternyata peningkatan dosis clopidogrel hingga 2 kali lipat memperbaiki respon platelet terhadap clopidogrel.

Dr. Pamela Moceri dan rekan menyimpulkan bahwa ada interaksi negatif yang kuat antara clopidogrel dengan esomeprazol, yang dapat diatasi dengan meningkatkan dosis clopidogrel hingga 2 kali lipat, atau menggantikan esomeprazole dengan ranitidine. Hal ini merupakan solusi sederhana untuk mengatasi penurunan efek clopidogrel karena PPI.

by ; admin pio, lolita

 

Share

OHO Thiazolidindion, Semakin Terbukti Menyebabkan Fraktur?

OHO Thiazolidindion, Semakin Terbukti Menyebabkan Fraktur?

Obat OHO golongan thiazolidindion pada pasien diabetes melitus berhubungan dengan peningkatan risiko fraktur tulang terutama fraktur tulang pinggul dan tulang pergelangan tangan.

Sebelumnya, dianggap bahwa pasien dengan diabetes tipe 2 memiliki densitas tulang yang lebih tinggi daripada normal, sehingga risiko kejadian fraktur lebih rendah. Namun ternyata dari penelitian yang dilakukan, diketahui terjadi peningkatan risiko fraktur, terutama pada tempat-tempat yang non-vertebra, dan ini tidak tergantung dari umur, indeks massa tubuh dan densitas tulang pada pasien–pasien diabetes ini, dan diperkirakan kejadian fraktur ini berhubungan dengan komplikasi diabetes, risiko trauma dan terutama; penggunaan obat antidiabetes.

Penelitian terbaru dilakukan oleh dr. Christoph Meier dari Boston University, Massachusetts, Amerika Serikat. Penelitian yang dilakukan adalah:

  • Jumlah    : 1020 pasien dengan diabetes yang:
    • Didiagnosa fraktur oleh dokter umum di Inggris dari tahun 1994 hingga 2005
    • Umur 30-89 tahun
    • Selain itu terlibat 3728 kontrol tandingan
  • Terapi    : Pioglitazone dan rosiglitazone
  • Hasil    :
    • Pasien yang menerima resep thiazolidindion dalam rentang 12 -18 bulan, memiliki risiko fraktur 2,43 kali dibandingkan pasien yang tidak diterapi menggunakan OHO golongan thiazolidindion.
    • Para peneliti mengatakan bahwa terjadi peningkatan risiko fraktur pada pinggul dan tulang-tulang osteoporosis non-vertebra, sehingga jumlah fraktur vertebral dan iga yang terjadi terlalu rendah untuk dihubungkan dengan pemberian thiazolidindion.
    • Peningkatan risiko obat thiazolidindion: pioglitazone dan rosiglitazone tidak berbeda bermakna dalam meningkatkan risiko fraktur, dengan angka kejadian berturut-turut 2,59 dan 2,38 kali, dibandingkan dengan yang tidak diteerapi menggunakan thiazolidindion.
    • Pemberian terapi OHO thiazolidindion dalam jangka waktu pendek tidakh meningkatkan risiko fraktur. Risiko fraktur dengan terapi obat golongan thiazolidindion terlihat terutama pada pasien yang diterapi lebih dari 2 tahun.
    • Para peneliti mengatakan juga bahwa penelitian ini masih perlu dikonfirmasikan dengan penelitian terkontrol tambahan lainnya.

Dalam editorial lainnya, para peneliti juga berpendapat bahwa data-data hasil penelitian ini juga perlu dilihat dari sudut pandang lain, bahwa OHO thiazolidindion, khususnya rosiglitazone dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan OHO thiazolidindion dapat meningkatkan berat badan, berefek samping hepatotoksik, menyebabkan retensi cairan dan gagal jantung kongestif. Disamping itu juga OHO golongan thiazolidindion lebih mahal dan tidak lebih unggul dibandingan OHO lainnya.

Para ahli berpendapat bahwa hingga kini tidak ada konfirmasi dari penelitian-penelitian jangka panjang mengenai superioritas thiazolidindion dibandingkan dengan OHO lainnya dalam menurunkan hasil klinik. Oleh karena itu, OHO yang lebih tua (sulfonylurea generasi ke-2 (dan ke-3) serta metformin diberikan sebagai terapi pilihan pada pasien dengan diabetes melitus tipe 2, di mana metformin tetap menjadi first line therapy.

Share

Coffee May Reduce Risk of Basal Cell Carcinoma But Not SCC and Melanoma

Coffee May Reduce Risk of Basal Cell Carcinoma But Not SCC and Melanoma

July 3, 2012 — Coffee — and the caffeine it contains — may reduce the risk of developing basal cell carcinoma (BCC), according to new prospective data from more than 110,000 healthcare professionals who participated in 2 large, surveillance studies.

Study participants who drank more than 3 cups of caffeinated coffee a day had a 17% reduction in their relative risk of BCC compared with individuals who drank less than 1 cup per month.

Women benefited a bit more than men from drinking 3 cups a day, but in each case, the dose-response relationship was significant when compared with that noted in people who rarely drank coffee (Ptrend < .0001 in women; Ptrend = .003 in men).

A protective association was also found with other dietary sources of caffeine (chocolate, tea, and cola). “However, decaffeinated coffee consumption was not associated with a similar decrease in BCC risk,” report the authors, led by Fengju Song, PhD, of Harvard Medical School, in Boston, Massachusetts, and Tiajin Medical University Cancer Institute, in China.

Their new study appears in the July 1st edition of Cancer Research.

These authors used data from the Nurses’ Health Study (NHS; women) and the Health Professional Follow-up Study (HPFS; men) to explore a possible association between caffeine and skin cancers.

It is interesting to note that they did not find an association between consumption of coffee and other caffeine products and either squamous cell carcinoma (SCC) or melanoma.

The authors call for confirmatory studies to validate their findings. “BCC is increasing by 4% to 8% per year in the United States,” they say, “and accounts for approximately 80% of newly diagnosed skin cancers and 30% of all newly diagnosed cancers. The prevalence of BCC will soon equal that of all other cancers combined,” write Dr. Song and colleagues.

Animal studies have shown that oral or topical caffeine administration “markedly reduces the risk of skin cancer,” say the authors. However, the triggering effect of caffeine on apoptosis, which eliminates damaged skin cells, “may be apparent only in basal cells but not in squamous cells,” they speculate. Furthermore, with regard to melanoma, there is no scientific evidence that caffeine eliminates damaged melanocytes in the way it has been shown to eliminate keratinocytes, the precursors to nonmelanoma skin cancers, they say.

The new study provides an important addition to the literature, according to the authors.

An inverse association between coffee and nonmelanoma skin cancer risk was reported as early as 1986, but various studies have not distinguished between caffeinated and decaffeinated coffee or tea. “Therefore, it was unknown whether the inverse association was due to caffeine or other components of coffee,” explain the authors.

Study Details

A total of 112,897 eligible participants (72,921 female nurses and 39,976 male health professionals) were included in the analyses. As participants in their respective cohort studies, the men and women completed self-administered questionnaires biennially with updated information on their lifestyle, diet, and medical history.

Skin cancer identification was conducted routinely in both the NHS (24 years of follow-up from 1984) and the HPFS (22 years of follow-up from 1986).

Coffee consumption was categorized into 5 groups: less than 1 cup per month, 1 cup per month to 1 cup per day, 1 to 2 cups per day, 2 to 3 cups per day, and more than 3 cups per day.

Compared with individuals who consumed less than 1 cup of caffeinated coffee per month, study participants who consumed more than 3 cups per day had the lowest risk (relative risk, 0.83; 95% confidence interval, 0.77 – 0.87).

Coffee accounted for 78.5% of all caffeine consumption. “Caffeine from other dietary sources (tea, 18%; cola, 3%; and chocolate, 0.5%)…was also inversely associated with BCC risk, with nonsignificant relative risk comparable with that of caffeine from coffee,” report the authors.

The authors admitted that their data on tea drinking — and a “number of possibly relevant issues” — were limited. They were unable to differentiate between green and black tea, brewing strength, and other matters because of “lack of detailed information about tea consumption on the food frequency questionnaires.”

The study was supported by the National Institutes of Health. The authors have disclosed no relevant financial relationships.

Cancer Res. 72(13) July 1, 2012; doi: 10.1158/0008-5472.CAN-11-3511. Nick Mulcahy

Share

The Evidence Doesn’t Justify Steps By State Medicaid programs To Restrict Opioid Addiction Treatment With Buprenorphine

  1. Robin E. Clark1,*,
  2. Mihail Samnaliev2,
  3. Jeffrey D. Baxter3 and
  4. Gary Y. Leung4

+ Author Affiliations


  1. 1Robin E. Clark (robin.clark@umassmed.edu) is an associate professor at the University of Massachusetts Medical School, in Worcester.

  2. 2Mihail Samnaliev is a lecturer in health economics in the clinical research program of Children’s Hospital in Boston, Massachusetts.

  3. 3Jeffrey D. Baxter is an assistant professor at the University of Massachusetts Medical School.

  4. 4Gary Y. Leung is a statistician at the North Carolina Central Cancer Registry, in Raleigh.
  1. *Corresponding author

Abstract

Many state Medicaid programs restrict access to buprenorphine, a prescription medication that relieves withdrawal symptoms for people addicted to heroin or other opiates. The reason is that officials fear that the drug is costlier or less safe than other therapies such as methadone. To find out if this is true, we compared spending, the use of services related to drug-use relapses, and mortality for 33,923 Massachusetts Medicaid beneficiaries receiving either buprenorphine, methadone, drug-free treatment, or no treatment during the period 2003–07. Buprenorphine appears to have significantly expanded access to treatment because the drug can be prescribed by a physician and taken at home compared with methadone, which by law must be administered at an approved clinic. Buprenorphine was associated with more relapse-related services but $1,330 lower mean annual spending than methadone when used for maintenance treatment. Mortality rates were similar for buprenorphine and methadone. By contrast, mortality rates were 75 percent higher among those receiving drug-free treatment, and more than twice as high among those receiving no treatment, compared to those receiving buprenorphine. The evidence does not support rationing buprenorphine to save money or ensure safety.

Share

How Is Drug-Resistant TB Treated?

The efficacy of second-line agents, medication access, medication-related adverse effects, and concern about medication adherence during prolonged therapy are all important factors to consider. There have been no randomized controlled trials comparing second-line agents for MDR-TB, and data on the treatment of XDR-TB are extremely limited. This article discusses agents available for MDR-TB treatment in patients who are not co-infected with HIV and the recommendations included in the WHO guidelines.

The typical first-line treatment for non-drug-resistant TB consists of isoniazid, rifampin, ethambutol, and pyrazinamide. The WHO defines MDR-TB as resistance to 2 of the 4 first-line anti-TB medications (isoniazid and rifampin). XDR-TB is defined as resistance to both of these agents, plus any fluoroquinolone and at least 1 of 3 injectable medications (amikacin, kanamycin, or capreomycin). Patients with non-drug-resistant TB have an approximate 90% cure rate when treated with a total of 4 drugs over 6 months. Patients treated for MDR-TB have a 60%-75% cure rate with a 5-drug regimen given for a minimum of 20 months.

Preferred agents not approved by the US Food and Drug Administration that are used to treat MDR-TB include fluoroquinolones (eg, moxifloxacin and levofloxacin) and aminoglycosides (amikacin, capreomycin, and kanamycin).Additional agents used (although not recommended as initial MDR-TB treatment) are linezolid, amoxicillin/clavulanate, clarithromycin, and imipenem. The WHO guidelines recommend the following 5-agent treatment regimen for MDR-TB: pyrazinamide; a fluoroquinolone; a parenteral agent (typically amikacin or kanamycin); ethionamide (or prothionamide); and either cycloserine or para-aminosalicylic acid, with preference for cycloserine.

For patients who have not previously received MDR-TB treatment, the intensive phase of therapy should last a minimum of 8 months (including the parenteral aminoglycoside), with a total treatment duration of at least 20 months.Because data are limited data, there is no recommended treatment regimen for XDR-TB. Regimen design is similar to that for MDR-TB, and it is important to perform drug susceptibility testing to guide therapy. The WHO recommends monitoring MDR-TB treatment through monthly sputum-smear microscopy and culture to identify early treatment failure.

As the basis of their MDR-TB treatment recommendations, the WHO guidelines focus on a pooled meta-analysis of data from 3 unpublished systematic reviews (The Collaborative Group for Meta-Analysis of Individual Patient Data in MDR-TB. Unpublished data).On the basis of this meta-analysis, aminoglycosides are the preferred parenteral agents, with no superior efficacy demonstrated among amikacin, capreomycin, and kanamycin. The cure rate was higher with ethionamide than with cycloserine, and with cycloserine than para-aminosalicylic acid. However, in patients previously treated for MDR-TB, ethionamide was associated with little efficacy. Among the additional agents (linezolid, macrolides, and imipenem), there was no difference in cure rates; however, patients treated with these agents had worse outcomes that were attributed to confounding factors (The Collaborative Group for Meta-Analysis of Individual Patient Data in MDR-TB. Unpublished data).

Dosing regimens for MDR-TB agents vary in the literature, and use of the lowest efficacious dose is important, because patients are at an increased risk for medication-related adverse effects owing to the prolonged treatment courses. Trials of oral levofloxacin have been dosed at 300 mg/day or 500 mg/day, while oral moxifloxacin has been studied at 400 mg/day.Potential adverse effects associated with fluoroquinolones include but are not limited to central nervous system effects (eg, tremor, confusion, dizziness, and seizures), QTc prolongation, gastrointestinal disturbances, and tendon rupture.

Amikacin and kanamycin are typically dosed at 15 mg/kg/day or 25 mg/kg 3 times per week intravenously, and both dosing regimens seem to be similar in limiting potential adverse effects with weekly serum level monitoring. Potential adverse effects of aminoglycosides include but are not limited to nephrotoxicity and ototoxicity.Varying doses of oral linezolid have been studied, including once-daily doses of 300 mg and 600 mg.Bone marrow suppression, peripheral neuropathy, and neurotoxicity are all potential adverse effects of linezolid; lower doses or once-daily administration has been considered in an attempt to minimize their occurrence or severity. Appropriate monitoring and patient counseling on potential medication-related adverse effects is essential for all MDR-TB agents.

The following is a potential empiric treatment regimen for a non-HIV-infected adult with normal renal function who is being treated for MDR-TB:

  • Moxifloxacin 400 mg/day orally;
  • Amikacin 25 mg/kg intravenously 3 times per week;
  • Oral daily pyrazinamide, dosed on the basis of lean body weight: 1000 mg for patients weighing 40-55 kg, 1500 mg for those weighing 56-75 kg, or 2000 mg (maximum dose) for those weighing 76-90 kg;
  • Ethionamide 15-20 mg/kg/day orally; initial dose of 250 mg/day, with titration every 1-2 days as tolerated to an average dose of 750 mg/day (maximum of 1 g/day in 3-4 divided doses); and
  • Cycloserine 250 mg orally every 12 hours for 14 days, followed by 500-1000 mg/day, divided twice daily.

Potentially promising new agents for drug-resistant TB are being developed and have begun clinical testing. A new class is the bicyclic nitroimidazoles, which are prodrugs shown to be effective against both actively replicating and nonreplicating bacteria. The difficulty in the eradication of nonreplicating bacteria is the reason why current treatment involves prolonged duration in order to achieve cure and avoid relapse.

The active metabolite for the agent PA-824, des-nitroimidazole, has bactericidal activity against nonreplicating bacteria through the release of reactive nitrogen species, particularly nitric oxide. A phase 2 trial of 8 weeks of combination therapy with PA-824, moxifloxacin, and pyrazinamide has been designed but not yet initiated.

Patients receiving therapy for drug-resistant TB are at high risk for treatment failure owing to the use of second-line agents, which can be expensive, have significant adverse effect profiles, require a longer duration of treatment, are based on less rigorous data, and are less effective than first-line regimens for non-MDR-TB. With the aid of the WHO guidelines and drug susceptibilities, therapy should be patient-specific, with appropriate monitoring and patient education to achieve optimal response to therapy and minimize medication-related adverse effects.

Join the Forum discussion on this post

Share

LKTI PIO UAD Se-JATENG 2012

LKTI PIO UAD Se-JATENG 2012

LKTI (lomba karya tulis ilmiyah) ini di selenggaraka oleh PIO UAD. Lomba Karya Tulis Ilmiah SMA/SMK/MA Se-jateng ini bertujuan untuk mengembangkan obat asli indonesia ( obat tradisional indonesia) sehingga kelak akan mempunyai daya saing dengan obat-obat sintetik serta mengasah kemampuan berpikir dan memberikan kesempatan kepada Generasi Muda untuk mengungkapkan ide maupun gagasan berbagai persoalan aktual dalam bentuk tulisan, yang dapat bermanfaat bagi perkembangan dunia pengobatan dan kesehatan nasional.

Walaupun Lomba ini diselenggarakan di wilayah jawa tengah.

Bagi peserta yang ingin mengirimkan file Karya Tulis Ilmiyah bisa dikirim lewat :
Email : pio_uad@yahoo.com
Pos     : ke sekretariat PIO di kampus 3 UAD
jl. prof. Dr soepomo, Janturan, Yogyakarta 55164
Lantai 2

Untuk pembayaran biaya pendaftaran bisa melalui

  • Diserahkan langsung ke sekretariat PIO UAD/ lewat wessel ke PIO UAD
  • Lewat Rek
    Bank BNI Syariah
    0173766942
    Atas nama : Zainab, M.Si., Apt
  • batas pengiriman naskah 8 september 2012
  • Lomba akan dilaksanakan pada 23 september 2012

Silahkan Untuk Pedoman penulisan dan ketentuan lain bisa di download DISINI

Share

BAGAIMANA DM DI INDONESIA? APA YANG SUDAH KITA LAKUKAN? Suatu renungan memperingati hari DM

Penyakit gula darah (DM) telah menjadi wabah di hampir semua negara, tidak peduli, apakah negara maju, telah, sdang atau akan berkembang. Bertambahnya kejadian obesitas pada balita semakin meneguhkan akan semakin tingginya kejadian DM di dunia, termasuk di Indonesia.  Memang obesitas bukan merupakan satu-satunya sinyal awal kejadian DM, tetapi obesitas merupakan isyarat yang muadah untuk dibaca dan dimengerti hubungannya dengan kejadian DM. Dalam waktu tidak lama lagi Indonesia akan menjadi negara keempat terbesar jumlah kejadian DM.

kardiovaskuler stroke gagal ginjal DM merupakan faktor risiko utama terhadap kejadian hipertensi, serangan jantung, gagal jantung, stroke, gagal ginjal dan berbagai penyakit degeneratif lainnya. Apabila kejadian baru DM di masyarakat tidak diantisipasi dan penderita DM tidak dikelola dengan benar maka berbagai penyakit degeneratif dan penyakit berbahaya yang bahayanya level”1″ akan merebak di masyarakat. Maka oleh karenanya melakukan antisipasi untuk menghambat laju insidensi DM dengan berbagai upaya promotif dan edukatif serta upaya pengelolaan yang benar dan efektif pada penderita DM agar tidak muncul komplikasi adalah tuntutan yang seharusnya segera dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat dan bangsa ini.

Persoalannya sekarang adalah “apakah yang sudah kita lakukan untuk menghambat laju kejadian DM di Indonesia?”. ” apakah kontribusi positif yang sudah kita sumbangkan untuk peningkatan status kesehatan masyarakat melalui penghambatan laju kejadian DM atau menghambat dampak DM di masyarakat?”

Melakukan kebaikan untuk sesama tidak perlu menunggu orang lain untuk melakukannya. Kita semua dapat melakukannya melalui inisiatif pribadi baik dalam sekala perseorangan maupun sekala berkelompok.

Sungguh setitik kebajikan yang ditebarkan ditengah masyarakat yang berisiko mengalami DM akan mampu memberikan banyak efek posit dan kemanfaatan besar di masyarakat. Mari kita semua mencoba dan berbuat untuk kebaikan kita semua.

Salam

HAKMAA

Share

Obat herbal kanker payudara: Inilah obat herbal kanker payudara yang efektif sembuhkan penyakit kanker payudara

 

Obat herbal kanker payudara – Bagi anda khususnya perempuan yang menderita penyakit kanker payudara yang ingin menyembuhkan kanker payudara secara alami dan aman, kami berikan solusi pengobatan kanker payudara secara alami dengan mengkonsumsi obat herbal kanker payudara XAMthone plus yang sudah terbukti ampuh sembuhkan penyakit kanker payudara tanpa melakukan operasi.

Bagaimana bisa obat herbal xamthone plus sembuhkan penyakit kanker payudara?

Kanker Payudara adalah suatu penyakit dimana terjadi pertumbuhan berlebihan atau perkembangan tidak terkontrol dari sel-sel (jaringan) payudara, Hal ini bisa terjadi terhadap wanita maupun pria. Dari seluruh penjuru dunia, penyakir kanker payudara (Breast Cancer/Carcinoma mammae) diberitakan sebagai salah satu penyakit kanker yang menyebabkan kematian nomor lima (5) setelah ; kaker paru, kanker rahim, kanker hati dan kanker usus.
Kanker payudara adalah kanker pada jaringan payudara. Ini adalah jenis kanker paling umum yang diderita kaum wanita. Kaum pria juga dapat terserang kanker payudara, walaupun kemungkinannya lebih kecil dari 1 di antara 1000. Pengobatan yang paling lazim adalah dengan pembedahan dan jika perlu dilanjutkan dengan kemoterapi maupun radiasi.

Diagnosa Penyakit Kanker Payudara

Penyakit kanker payudara dapat diketahui dengan pasti dengan cara pengambilan sample jaringan sel payudara yang mengalami pembenjolan (tindakan biopsi). Dengan cara ini akan diketahui jenis pertumbuhan sel yang dialami, apakah bersifat tumor jinak atau tumor ganas (kanker).

Type Penyakit Kanker Payudara

Melalui pemeriksaan yang di sebut dengan mammograms, maka type kanker payudara ini dapat dikategorikan dalam dua bagian yaitu :
obat herbal kanker payudara secara alami dan aman1. Kanker payudara non invasive, kanker yang terjadi pada kantung (tube) susu {penghubung antara alveolus (kelenjar yang memproduksi susu) dan puting payudara}. Dalam bahasa kedokteran disebut ‘ductal carcinoma in situ’ (DCIS), yang mana kanker belum menyebar ke bagian luar jaringan kantung susu.

2. Kanker payudara invasive, kanker yang telah menyebar keluar bagian kantung susu dan menyerang jaringan sekitarnya bahkan dapat menyebabkan penyebaran (metastase) kebagian tubuh lainnya seperti kelenjar lympa dan lainnya melalui peredaran darah.

Pencegahan Penyakit Kanker Payudara

Bagi anda yang merasakan ada hal yang tampak berbeda pada payudara, segeralah memeriksakannya ke dokter jangan sampai terlambat. Misalnya adanya pembesaran sebelah, adanya benjolan disekitar payudara, nyeri terus menerus pada puting susu dan sebagainya seperti pada keterangan tanda dan gejala payudara diatas.

Tindakan lain yang bisa anda lakukan adalah Hindari kegemukan, Kurangi makan lemak, Usahakan banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A dan C, Jangan terlalu banyak makan makanan yang diasinkan dan diasap, Olahraga secara teratur, dan Check-up payudara sejak usia 30 tahun secara teratur.

Source : http://www.infopenyakit.com/2008/01/penyakit-kanker-payudara.html

Solusi terbaik dan aman untuk pengobatan kanker payudara dengan obat herbal kanker payudara jus manggis xamthone plus

Apa itu xamthone plus ? Amazing Juice For Amazing Health!!!!

Xamthone plus merupakan sebuah  merek produk minuman kesehatan yang berasal dari buah manggis kulaitas nomor 1 .
Xamthone plus di formulasikan dari nutrisi murni buah manggis , buah eksotik yang sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Khasiatnya tidak  di ragukan lagi .

Mengapa xamthone plus jus manggis memiliki kemampuan mengobati kanker payudara ?
Obat herbal kanker payudara
Jawaban pertanyaan ini terjawab dengan penelitian terkini yang membuktikan bahwa manggis mengandung antioksidan yang sangat kuat yaitu xanthone, melebihi beberapa kali lipat dari kekuatan vitamin c dan E .
Journal of  pharmacology, mempublikasikan bahwa xanthone memilik efek anti kanker seperti kanker payudara , kanker darah (leukeumia) dan kanker hati . Selain itu juga xanthone  memiliki banyak manfaat kesehatan terutama kesehatan kardiovaskuler seperti mengatasi sakit jantung, aterosklerosis, hipertensi dan trombosit. Xanthone juga memperlebar pembuluh darah dan memeperlancar peredaran darah. manggis juga kaya akan mineral kalium yang membantu metabolisme energi.

Khasiat XANTHONE bukan sekedar antioksidan, tetapi juga antikanker seperti hasil riset Moongkarndi. Peneliti Fakultas Farmasi Universitas Mahidol itu menguji XANTHONE dalam riset praklinis dengan SKBR3 alias kultur sel kanker payudara manusia. Hasilnya? Ekstrak kulit manggis bersifat antiproliferasi yang kuat untuk menghambat pertumbuhan sel kanker.   Selain itu ekstrak itu juga bersifat apoptosis atau mendukung penghancuran sel kanker.

Chi Kuan Ho dari Veterans General Hospital dari Taipei mengungkapkan bahwa turunan XANTHONE mujarab mengatasi sel HCCs hepatocellular carcinomas atau kanker hati. Turunan XANTHONE itu adalah Garcinone E. Kami menyarankan bahwa Garcinone E mungkin berpotensi untuk digunakan dalam perawatan beberapa tipe kanker yang berhubungan dengan pencernaan dan paru-paru.

Share

Aspartam Dalam Minuman Berenergi

aspartam

 

Aspartam merupakan pemanis buatan yang diizinkan penggunaannya dalam batas tertentu. Menurut ketentuan Surat Keputusan Kepala Badan POM No. H.K.00.05.5.1.4547 tentang Persyaratan Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pemanis Buatan dalam Produk Pangan, maka aspartam dapat digunakan secara aman dan tidak bermasalah bila sesuai takaran yang diperbolehkan. Untuk kategori pangan minuman berkarbonasi dan non karbonasi, batas maksimum penggunaan Aspartam adalah 600 mg/kg.

Kandungan aspartam pada produk minuman berenergi yang disebutkan pada pesan singkat/SMS tersebut, jika produk tersebut sudah terdaftar di Badan POM (cek nomor registrasi pada kemasannya), berarti sudah melalui proses evaluasi terhadap aspek keamanan, manfaat, dan mutunya, berarti kandungan aspartamnya sesuai dengan kadar yang diizinkan. Yang kemudian akan menjadi masalah adalah bila seseorang mengkonsumsi produk yang mengandung aspartam secara berlebihan sehingga jika diakumulasi dapat melebihi kadar asupan harian yang dapat diterima tubuh (acceptable daily intake/ADI).  Nilai ADI Aspartam adalah 50 mg/kg berat badan. Jadi sebaiknya kita tidak mengkonsumsi produk secara berlebihan.

Di dalam tubuh, Aspartam dipecah menjadi tiga macam senyawa, yaitu metanol, asam aspartat, dan fenilalanin. Meskipun metanol bersifat toksik bagi tubuh, berdasarkan penelitian diketahui bahwa konsumsi produk yang mengandung Aspartam tidak mencapai tingkat toksik metanol. Kesimpulan yang sama juga berlaku bagi asam aspartat. Namun demikian, sejumlah kecil fenilalanin dapat menyebabkan kerusakan otak berat pada individu yang menderita kelainan genetik fenilketonuria (Phenylketouria/PKU). Jadi sebaiknya produk yang mengandung Aspartam dihindarkan bagi penderita kelainan tersebut.

Neurotoksisitas aspartam bergantung pada peningkatan kadar aspartam di dalam darah, dan peningkatan kadar tersebut bergantung pada usia dan individu yang mengalami dan beresiko PKU (Stegink, 1979). Stegink (1979) menunjukkan bahwa menelan 100-200 mg/kg aspartam oleh orang dewasa maupun bayi, menghasilkan rata-rata konsentrasi plasma puncak sebesar 49 µmol fenilalanin/100 mL darah pada menit ke 45-90 setelah dicerna.  Kadar ini masih di bawah dosis toksik. Baik AMA (American Medical Association, 1986) dan AAP (American Academy of Pediatrics, 1985) menyatakan bahwa aspartam aman digunakan untuk orang yang tidak mengidap PKU dan aman untuk janin pada kadar yang telah ditentukan. American Diabetes Association (ADA) menyetujui bahwa aspartam aman digunakan.

sumber : http://ik.pom.go.id

Share