Kosmetik Alami sebagai Perawatan Kesehatan

 

Ketertarikan dan kegemaran kaum hawa akan kosmetik dapat ditelusuri dari zaman Mesir sekitar 4000 SM. Selain itu, penggunaan kosmetik juga dapat ditemukan pada masyarakat Yunani dan Romawi kuno.

Sementara di era Victorian, pemakaian kosmetik mendapat kecaman dari beberapa pihak, sebaliknya manusia abad 20 memandang kosmetik sebagai sebuah lahan industri yang sangat menguntungkan dan dapat meraup uang dalam jumlah banyak dengan perusahaan-perusahaan multinasionalnya. Kaum feminis boleh saja menentangnya, namun banyak yang percaya bahwa dengan memakai make-up seseorang akan tampak lebih muda, cantik, dan bahkan menigkatkan sex appeal-nya. Make up dapat mengubah penampilan seseorang secara dramatis dan digunakan oleh para aktor dan aktris secara luas, sama halnya seperti seorang dokter yang menyamarkan luka pada pasiennya secara klinis. Meski demikian, saat ini umumnya wanita-wanita di dunia menggunakan kosmetik dalam jumlah yang banyak.

Foundation atau bedak dipakai agar wajah terlihat lebih halus dan menyembunyikan noda. Sentuhan lipstik menambahkan warna, bentuk, dan isi pada bibir, sedang eye shadow dan maskara dipakai agar mata terlihat lebih berkarakter dan terlihat lebih besar. Saat ini, prosedur operasi dan make up permanen juga telah memungkinkan untuk dilakukan berkat kemajuan ilmu pengetahuan.

Setiap kemajuan dalam suatu bidang pasti ada sisi buruknya. Hal tersebut terjadi juga pada kosmetik. Lipstik bisa mengandung bahan kimia seperti besi oksida, sedang pada eye shadow terdapat dye carmine, sejenis ekstrak hewani. Disatu sisi, batas antara obat dan kosmetik menjadi kabur, sehingga mungkin saja ketika seseorang menggunakan deodoran untuk menunjang penampilannya, seseorang lainnya mungkin melihat deodorant sebagai obat antiperspirant.

Yang rumit kemudian adalah, ketika badan kesehatan suatu pemerintah memandang produk kosmetik sebagai obat-obatan, yang memerlukan izin dan proses untuk beredar, tetapi pada kenyataannya produk kosmetik justru lolos dari pengawasan tersebut. Di sisi lainnya, uji coba kosmetik yang dilakukan terhadap hewan telah menjadi kontroversi bagi aktivis pendukung hak-hak hewan. Tes pada hewan termasuk didalamnya untuk produk seperti lipstik atau ramuan yang bersifat individual. Dengan adanya tekanan dari aktivis pelindung hak-hak hewan, saat ini aturan terhadap penggunaan hewan untuk bahan uji coba kosmetik dapat ditekan.

Kosmetik berbahan natural dan organik pasti baik untuk manusia, bukan? Para ahli yakin bahwa ketika kesadaran terhadap efek yang merugikan dari produk kosmetik sintetis mulai tumbuh, industri kosmetik mulai menciptakan tren untuk mengiklankan produk mereka sebagai produk yang alami, meski faktanya tidak demikian. Apakah kita harus khawatir dengan hal itu? Ya, karena make up, meski dipakai di luar tubuh manusia, akan diserap oleh tubuh.

Faktanya, penelitian telah membuktikan bahwa hampir 60% dari apa yang dioleskan pada kulit akan diserap oleh sistem peredaran darah manusia. Jadi mungkin bahan yang terdapat dalam produk kosmetik tersebut mengandung racun dan akan diserap oleh tubuh manusia. Beberapa jenis bahan alami telah dilaporkan mengakibatkan ruam pada kulit jika digunakan bersama beberapa jenis bahan tertentu. Para ahli menyarankan agar konsumen membaca labelnya dengan seksama, jangan terpancing dengan promosi yang disampaikan, periksa apakah ada efeknya baik jangka pendek atau pun jangka panjang, dan buatlah pilihan yang bijak.

Kosmetik alami hendaknya bebas dari ekstrak sintetis dan hanya berasal dari minyak tumbuhan, getah, essential oil, ekstrak bunga, dan rempah yang kesemuanya merupakan pilihan yang aman dan sehat bagi tubuh. Dermatologis menyarankan bahwa perawatan kulit dilihat sebagai perawatan kesehatan, karena menjadi cantik saja tidak cukup apabila tidak sehat, bukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *