Category Archives: Afrilia

farmasi UAD 09023214

Aspartam Dalam Minuman Berenergi

 

Aspartam merupakan pemanis buatan yang diizinkan penggunaannya dalam batas tertentu. Menurut ketentuan Surat Keputusan Kepala Badan POM No. H.K.00.05.5.1.4547 tentang Persyaratan Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pemanis Buatan dalam Produk Pangan, maka aspartam dapat digunakan secara aman dan tidak bermasalah bila sesuai takaran yang diperbolehkan. Untuk kategori pangan minuman berkarbonasi dan non karbonasi, batas maksimum penggunaan Aspartam adalah 600 mg/kg.

Kandungan aspartam pada produk minuman berenergi yang disebutkan pada pesan singkat/SMS tersebut, jika produk tersebut sudah terdaftar di Badan POM (cek nomor registrasi pada kemasannya), berarti sudah melalui proses evaluasi terhadap aspek keamanan, manfaat, dan mutunya, berarti kandungan aspartamnya sesuai dengan kadar yang diizinkan. Yang kemudian akan menjadi masalah adalah bila seseorang mengkonsumsi produk yang mengandung aspartam secara berlebihan sehingga jika diakumulasi dapat melebihi kadar asupan harian yang dapat diterima tubuh (acceptable daily intake/ADI).  Nilai ADI Aspartam adalah 50 mg/kg berat badan. Jadi sebaiknya kita tidak mengkonsumsi produk secara berlebihan.

Di dalam tubuh, Aspartam dipecah menjadi tiga macam senyawa, yaitu metanol, asam aspartat, dan fenilalanin. Meskipun metanol bersifat toksik bagi tubuh, berdasarkan penelitian diketahui bahwa konsumsi produk yang mengandung Aspartam tidak mencapai tingkat toksik metanol. Kesimpulan yang sama juga berlaku bagi asam aspartat. Namun demikian, sejumlah kecil fenilalanin dapat menyebabkan kerusakan otak berat pada individu yang menderita kelainan genetik fenilketonuria (Phenylketouria/PKU). Jadi sebaiknya produk yang mengandung Aspartam dihindarkan bagi penderita kelainan tersebut.

Neurotoksisitas aspartam bergantung pada peningkatan kadar aspartam di dalam darah, dan peningkatan kadar tersebut bergantung pada usia dan individu yang mengalami dan beresiko PKU (Stegink, 1979). Stegink (1979) menunjukkan bahwa menelan 100-200 mg/kg aspartam oleh orang dewasa maupun bayi, menghasilkan rata-rata konsentrasi plasma puncak sebesar 49 µmol fenilalanin/100 mL darah pada menit ke 45-90 setelah dicerna.  Kadar ini masih di bawah dosis toksik. Baik AMA (American Medical Association, 1986) dan AAP (American Academy of Pediatrics, 1985) menyatakan bahwa aspartam aman digunakan untuk orang yang tidak mengidap PKU dan aman untuk janin pada kadar yang telah ditentukan. American Diabetes Association (ADA) menyetujui bahwa aspartam aman digunakan.

sumber : http://ik.pom.go.id

Kosmetik Alami sebagai Perawatan Kesehatan

 

Ketertarikan dan kegemaran kaum hawa akan kosmetik dapat ditelusuri dari zaman Mesir sekitar 4000 SM. Selain itu, penggunaan kosmetik juga dapat ditemukan pada masyarakat Yunani dan Romawi kuno.

Sementara di era Victorian, pemakaian kosmetik mendapat kecaman dari beberapa pihak, sebaliknya manusia abad 20 memandang kosmetik sebagai sebuah lahan industri yang sangat menguntungkan dan dapat meraup uang dalam jumlah banyak dengan perusahaan-perusahaan multinasionalnya. Kaum feminis boleh saja menentangnya, namun banyak yang percaya bahwa dengan memakai make-up seseorang akan tampak lebih muda, cantik, dan bahkan menigkatkan sex appeal-nya. Make up dapat mengubah penampilan seseorang secara dramatis dan digunakan oleh para aktor dan aktris secara luas, sama halnya seperti seorang dokter yang menyamarkan luka pada pasiennya secara klinis. Meski demikian, saat ini umumnya wanita-wanita di dunia menggunakan kosmetik dalam jumlah yang banyak.

Foundation atau bedak dipakai agar wajah terlihat lebih halus dan menyembunyikan noda. Sentuhan lipstik menambahkan warna, bentuk, dan isi pada bibir, sedang eye shadow dan maskara dipakai agar mata terlihat lebih berkarakter dan terlihat lebih besar. Saat ini, prosedur operasi dan make up permanen juga telah memungkinkan untuk dilakukan berkat kemajuan ilmu pengetahuan.

Setiap kemajuan dalam suatu bidang pasti ada sisi buruknya. Hal tersebut terjadi juga pada kosmetik. Lipstik bisa mengandung bahan kimia seperti besi oksida, sedang pada eye shadow terdapat dye carmine, sejenis ekstrak hewani. Disatu sisi, batas antara obat dan kosmetik menjadi kabur, sehingga mungkin saja ketika seseorang menggunakan deodoran untuk menunjang penampilannya, seseorang lainnya mungkin melihat deodorant sebagai obat antiperspirant.

Continue reading