Category Archives: Obat

Suplementasi Probiotik Memperbaiki Gejala Rinitis Alergika pada Anak

Insidens penyakit alergi pada masa kanak-kanak meningkat di seluruh dunia, terutama di negara-negara industri, hal ini kemungkinan disebabkan oleh sistem imun tidak mendapatkan stimulasi yang adekuat pada tahap awal kehidupan. Penyakit alergi dapat menyebabkan ketidakmampuan pada anak-anak, dan dapat menimbulkan penurunan kualitas hidup serta menurunkan efektivitas kerja para orang tua.

Bakteri probiotik dapat memperbaiki keseimbangan mikroba usus, dan dapat mempermudah modulasi respon imun. Terdapat perbedaan komposisi flora usus pada anak-anak yang mengalami alergi dengan yang tidak. Khususnya, jumlah Clostridia dalam flora usus lebih tinggi pada orang yang mengalami alergi, sedangkan jumlah Bifidobacteria lebih rendah.  Terlebih lagi, gaya hidup akhir-akhir ini telah mengubah komposisi mikroflora usus, dengan prevalensi enterobacteria pada Lactobacilli dan Bifidobacteria. Intervensi pada flora usus melalui konsumsi mikrobiota hidup (Lactobacilli), dapat membantu maturasi sistem imun yang tepat, dan menurunkan perkembangan alergi pada masa kanak-kanak.

Dari salah satu hasil review beberapa studi penggunaan Lactobacillus yang dikaitkan dengan gejala rinitis alergika dan asma dilakukan oleh Dr. Betsi GI, dkk, yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of Allergy, Asthma, & Immunology tahun 2008. dalam review tersebut memasukan beberapa studi klinis acak tersamar-gada, dan menunjukkan hasil bahwa; 9 dari 12 RCT yang mengevaluasi manfaat klinis pada rinitis alergika memperlihatkan adanya perbaikan terkait dengan penggunaan probiotik. Seluruh RCT mengenai  rinitis alergika musiman memperlihatkan skor gejala dan penggunaan obat-obatan yang lebih rendah dengan penggunaan probiotik dibandingkan dengan plasebo.5 dari 8 RCT mengenai  rinitis alergika musiman  memperlihatkan adanya perbaikan pada clinical outcomes. RCT yang melaporkan penilaian berbagai parameter imunologik terhadap alergi memperlihatkan tidak adanya efek probiotik yang bermakna.

Probiotik mungkin mempunyai efek yang menguntungkan terhadap rinitis alergika dengan menurunkan tingkat keparahan gejala-gejala yang timbul dan penggunaan obat-obatan. Dibutuhkan lebih banyak studi yang berkualitas baik untuk memecahkan masalah ini.

by : admi pio, lolita

OHO Thiazolidindion, Semakin Terbukti Menyebabkan Fraktur?

Obat OHO golongan thiazolidindion pada pasien diabetes melitus berhubungan dengan peningkatan risiko fraktur tulang terutama fraktur tulang pinggul dan tulang pergelangan tangan.

Sebelumnya, dianggap bahwa pasien dengan diabetes tipe 2 memiliki densitas tulang yang lebih tinggi daripada normal, sehingga risiko kejadian fraktur lebih rendah. Namun ternyata dari penelitian yang dilakukan, diketahui terjadi peningkatan risiko fraktur, terutama pada tempat-tempat yang non-vertebra, dan ini tidak tergantung dari umur, indeks massa tubuh dan densitas tulang pada pasien–pasien diabetes ini, dan diperkirakan kejadian fraktur ini berhubungan dengan komplikasi diabetes, risiko trauma dan terutama; penggunaan obat antidiabetes.

Penelitian terbaru dilakukan oleh dr. Christoph Meier dari Boston University, Massachusetts, Amerika Serikat. Penelitian yang dilakukan adalah:

  • Jumlah    : 1020 pasien dengan diabetes yang:
    • Didiagnosa fraktur oleh dokter umum di Inggris dari tahun 1994 hingga 2005
    • Umur 30-89 tahun
    • Selain itu terlibat 3728 kontrol tandingan
  • Terapi    : Pioglitazone dan rosiglitazone
  • Hasil    :
    • Pasien yang menerima resep thiazolidindion dalam rentang 12 -18 bulan, memiliki risiko fraktur 2,43 kali dibandingkan pasien yang tidak diterapi menggunakan OHO golongan thiazolidindion.
    • Para peneliti mengatakan bahwa terjadi peningkatan risiko fraktur pada pinggul dan tulang-tulang osteoporosis non-vertebra, sehingga jumlah fraktur vertebral dan iga yang terjadi terlalu rendah untuk dihubungkan dengan pemberian thiazolidindion.
    • Peningkatan risiko obat thiazolidindion: pioglitazone dan rosiglitazone tidak berbeda bermakna dalam meningkatkan risiko fraktur, dengan angka kejadian berturut-turut 2,59 dan 2,38 kali, dibandingkan dengan yang tidak diteerapi menggunakan thiazolidindion.
    • Pemberian terapi OHO thiazolidindion dalam jangka waktu pendek tidakh meningkatkan risiko fraktur. Risiko fraktur dengan terapi obat golongan thiazolidindion terlihat terutama pada pasien yang diterapi lebih dari 2 tahun.
    • Para peneliti mengatakan juga bahwa penelitian ini masih perlu dikonfirmasikan dengan penelitian terkontrol tambahan lainnya.

Dalam editorial lainnya, para peneliti juga berpendapat bahwa data-data hasil penelitian ini juga perlu dilihat dari sudut pandang lain, bahwa OHO thiazolidindion, khususnya rosiglitazone dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan OHO thiazolidindion dapat meningkatkan berat badan, berefek samping hepatotoksik, menyebabkan retensi cairan dan gagal jantung kongestif. Disamping itu juga OHO golongan thiazolidindion lebih mahal dan tidak lebih unggul dibandingan OHO lainnya.

Para ahli berpendapat bahwa hingga kini tidak ada konfirmasi dari penelitian-penelitian jangka panjang mengenai superioritas thiazolidindion dibandingkan dengan OHO lainnya dalam menurunkan hasil klinik. Oleh karena itu, OHO yang lebih tua (sulfonylurea generasi ke-2 (dan ke-3) serta metformin diberikan sebagai terapi pilihan pada pasien dengan diabetes melitus tipe 2, di mana metformin tetap menjadi first line therapy.

Apakah regimen yang sesuai untuk penderita MDR-TB?

Apakah factor-factor berhubungan dengan kejadian MDR-TB? dan Apakah sediaan antiTB yang cocok untuk pasien dengan MDR-TB?

Faktor-faktor berkaitan dengan kejadian MDR-TB. Kemanjuran agen lini kedua, akses pengobatan, efek samping terkait obat, dan kekhawatiran tentang kepatuhan pengobatan selama terapi berkepanjangan adalah semua faktor penting yang perlu dipertimbangkan.

Pilihan regian pada MDR-TB.

Belum ada uji coba terkontrol secara acak yang membandingkan agen lini kedua untuk TB-MDR, dan data tentang pengobatan XDR-TB sangat terbatas. Artikel ini membahas agen yang tersedia untuk pengobatan TB-MDR pada pasien yang tidak koinfeksi dengan HIV dan rekomendasi yang termasuk dalam pedoman WHO.
Pengobatan lini pertama khas untuk TB yang tidak resistan terhadap obat terdiri dari isoniazid, rifampin, etambutol, dan pirazinamid. WHO mendefinisikan TB-MDR sebagai resistansi terhadap 2 dari 4 obat anti-TB lini pertama (isoniazid dan rifampisin). XDR-TB didefinisikan sebagai resistensi terhadap kedua agen ini, ditambah fluoroquinolone dan setidaknya 1 dari 3 obat yang dapat disuntikkan (amikacin, kanamycin, atau capreomycin). Pasien dengan TB yang tidak resistan terhadap obat memiliki tingkat kesembuhan sekitar 90% ketika diobati dengan total 4 obat selama 6 bulan. Pasien yang diobati untuk MDR-TB memiliki tingkat kesembuhan 60% -75% dengan rejimen 5 obat yang diberikan selama minimal 20 bulan.
Agen yang sering tidak disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS yang digunakan untuk mengobati TB-MDR termasuk fluoroquinolon (misalnya, moxifloxacin dan levofloxacin) dan aminoglikosida (amikacin, capreomycin, dan kanamycin). Agen tambahan yang digunakan (walaupun tidak direkomendasikan sebagai MDR- awal) Pengobatan TB) adalah linezolid, amoksisilin / klavulanat, klaritromisin, dan imipenem. Pedoman WHO merekomendasikan rejimen pengobatan 5-agen berikut untuk TB-MDR: pirazinamid; sebuah fluoroquinolone; agen parenteral (biasanya amikasin atau kanamisin); ethionamide (atau prothionamide); dan cycloserine atau asam para-aminosalisilat, dengan preferensi untuk cycloserine.

Regimen antiTB bagi MDR-TB pertama kali. Untuk pasien yang belum pernah menerima pengobatan TB-MDR, fase terapi intensif harus berlangsung minimal 8 bulan (termasuk aminoglikosida parenteral), dengan total durasi pengobatan minimal 20 bulan. Karena data adalah data terbatas, ada tidak ada rejimen pengobatan yang disarankan untuk XDR-TB. Desain rejimen serupa dengan MDR-TB, dan penting untuk melakukan tes kerentanan obat untuk memandu terapi. WHO merekomendasikan pemantauan pengobatan TB-MDR melalui mikroskopi dahak bulanan dan kultur untuk mengidentifikasi kegagalan pengobatan dini.
Sebagai dasar rekomendasi pengobatan MDR-TB mereka, pedoman WHO fokus pada gabungan meta analisis data dari 3 tinjauan sistematis yang tidak dipublikasikan (Grup Kolaborasi untuk Meta-Analisis Data Pasien Perorangan dalam TB-MDR. Data yang tidak dipublikasikan) .Dalam dasar dari meta-analisis ini, aminoglikosida adalah agen parenteral yang lebih disukai, tanpa efikasi superior yang ditunjukkan antara amikacin, capreomycin, dan kanamycin. Tingkat kesembuhan lebih tinggi dengan ethionamide dibandingkan dengan cycloserine, dan dengan cycloserine.

Join the Forum discussion on this post

PELEMBAB WAJAH DARI MINYAK NABATI ALAMI-LOTION-ANTIOKSIDAN-VITAMIN-MINERAL

LOTION WAJAH HERBAL FACIAL OIL

 

Pelembab wajah satu ini tidak seperti pelembab yang biasanya Anda temui dipasaran dalam bentuk krim atau lotion. Pelembab ini murni dari minyak nabati yang berasal dari tanaman herbal dan bunga. Minyak nabati adalah bahan utama untuk kecantikan kulit dari luar dan dalam. Rempah-rempah yang dikandung lotion ini memiliki anti oksidan, vitamin, dan mineral yang melembabkan dan meremajakan tanpa mengiritasi kulit cantik Anda. Kini, Anda tidak perlu lagi khawatir dengan bahan berbahaya pada produk kecantikan Anda.

Tersedia untuk:
1. kulit normal – kombinasi (berminyak dan kering)
2. kulit berminyak – cenderung berjerawat

Cara Pemakaian:
Tuang tiga tetes pada jari anda secara bergantian. Usapkan pada kulit wajah (sedikit pada dahi, pipi, hidung dan dagu) yang sebelumya sudah dibersihkan.

Pakailah pada pagi dan petang, atau saat kulit terasa kering.

Paling bagus digunakan dengan Herbal Cleansing Oil dan sebelumnya gunakan Herbal Vinegar.

Komposisi;
grapeseed oil, organic coconut oil, green tea, rosemary, lemon peel, hibiscus, ginseng, sunflower oil, rice bran oil, organic extra virgin olive oil, sandalwood oil, palm kernel oil, aloe vera eo, carrot extact, alang-alang, pegagan, melati, vit E tocopherols, chamomile, rose flower, basil seeds, basil leaves.

Join the Forum discussion on this post

KENIKIR

Kenikir atau ulam raja merupakan terna tropika yang berasal dari Amerika Latin, tetapi tumbuh liar dan mudah didapati di Florida, Amerika Serikat, serta di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Kenikir adalah anggota dari Asteraceae. Manakala tumbuhan bunga yang berwarna kuning jarang digunakannya sebagai ulam, yang berwarna ungu merupakan sayuran ulam yang sangat populer dimakan mentah bersama nasi atau dicacah dengan budu, sambal terasi, tempoyak, serta cincalok.

Berdasarkan kajian tempatan, kenikir mengandung 3 persen protein, 0,4 persen lemak dan karbohidrat serta kaya dengan kalsium dan vitamin A.

Khasiat

Ulamnya yang digelarkan “ulam raja” telah digunakan secara tradisi untuk memperbaiki peredaran darah dan mencuci darah, serta untuk menguatkan tulang. Ulamnya mempunyai keupayaan antioksida (AEAC) yang amat tinggi, iaitu setiap 100 gram ulam yang segar mempunyai keupayaan antioksida yang sama dengan 2,400 miligram L-asid askorbik. Melebihi dua puluh jenis bahan antioksida telah dikenal pasti dalam ulam raja. Bahan-bahan antioksida yang utama disebabkan oleh kehadiran bilangan proantosianidin yang wujud sebagai dimer, melalui heksamer, kuersetin glikosida, asid klorogenik, asid neoklorogenik, asid kripto-klorogenik, serta penangkap (+)-. Keupayaan ulam raja untuk mengurangkan tekanan oksidatif mungkin sebagiannya terdiri daripada kandungan antioksidanya yang tinggi

Obat Tradisional Darah Tinggi

Obat Tradisional Darah Tinggi. Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah satu faktor risiko untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung dan aneurisma arterial, dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis. Penyakit darah tinggi tak bisa dianggap remeh tapi harus sesegera mungkin diatasi. Jika anda termasuk golongan yang ekonominya menengah ke bawah sebaiknya lakukan saja pengobatan dengan obat tradisional darah tinggi ini.

Continue reading

AKAR PASAK BUMI sebagai ANTIKANKER

Akar Pasak Bumi Eurycoma longifolia Jack) merupakan salah satu tumbuhan obat asal hutan yang memiliki banyak khasiat. Berdasarkan kajian farmakologis, Pasak Bumi mengandung empat senyawa penting yaitu senyawa canthin, senyawa turunan eurycomanone, senyawa quassinoid, dan senyawa etanol. Senyawa canthin pada tumbuhan pasak bumi mampu menghambat pertumbuhan sel kanker, senyawa turunan eurycomanone sebagai anti malaria, senyawa quassinoid berfungsi sebagai anti leukimia, dan prospektif untuk anti HIV, senyawa etanol berfungsi sebagai afrodisiak. Manfaat yang beragam tersebut menyebabkan pasak bumi banyak diekspor ke luar negeri untuk keperluan pembuatan obat herbal. Produk pasak bumi kering memiliki harga cukup mahal, produk berupa cacahan akar (chipped root) harganya 60 USD/kg sedangkan produk berupa ekstrak harganya 80 USD/kg.

 

Pasak bumi memiliki daerah penyebaran di Semenanjung Malaysia, Sumatera dan Kalimantan. Di Pulau Sumatera hanya beberapa daerah yang diduga masih ditemui tumbuhan pasak bumi yaitu kawasan Leuser, sebagian Provinsi Riau dan kawasan Kerinci Seblat. Hampir seluruh bagian tumbuhan ini mengandung substansi pahit yang dapat digunakan untuk obat. Akar tumbuhan ini dicampur dengan tumbuhan obat lain seperti kayu manis dan digunakan untuk tonik penyehat di Sabah. Selain itu di Malaysia kulit akarnya digunakan juga sebagai penawar demam, penyembuh luka-luka di gusi atau gangguan cacing serta tonikum setelah melahirkan. Kulit batang digunakan untuk koagulan darah setelah melahirkan, sedangkan di Kalimantan dan Sabah kulit batang digunakan untuk mengobati nyeri pada tulang. Daun pasak bumi yang muda dapat dimakan untuk pengobatan sakit perut. Di Vietnam bunga dan buah pasak bumi digunakan untuk obat disentri. Menurut sifat fisis, mekanis dan keawetan, kayu pasak bumi memiliki berat jenis 0,65, kelas awet 4-5, dan kelas kuat II. Kayu golongan ini dapat digunakan untuk keperluan konstruksi dan mebel.

Menurut WHO, 80% lebih penduduk dunia masih menggantungkan diri terhadap pengobatan tradisional termasuk penggunaan obat yang berasal dari tumbuhan. Indonesia adalah negara megabiodiversity yang kaya akan tanaman obat, dan sangat potensial untuk dikembangkan, namun belum dikelola secara maksimal. Kekayaan alam tumbuhan di Indonesia meliputi 30.000 jenis tumbuhan dari total 40.000 jenis tumbuhan di dunia, 940 jenis diantaranya merupakan tumbuhan berkhasiat obat (jumlah ini merupakan 90% dari jumlah tumbuhan obat di Asia). Berdasarkan hasil penelitian, dari sekian banyak jenis tanaman obat, baru 20-22% yang dibudidayakan. Sedangkan sekitar 78% diperoleh melalui pengambilan langsung (eksplorasi) dari hutan. Potensi tanaman obat di Indonesia, termasuk tanaman obat kehutanan antara lain Pasak Bumi, apabila dikelola dengan baik akan sangat bermanfaat dari segi ekonomi, sosial budaya maupun lingkungan.

(Sumber : www.dephut.co.id)

Join the Forum discussion on this post

Bunuh Kolesterol dengan Seledri

Salah satu penyakit paling populer di zaman ini adalah kelebihan kolesterol atau hiperkolesterolemia yang juga bisa mengganggu kesehatan jantung. Dengan berpantang makanan sumber kolesterol, kadar kolesterol darah bisa dikurangi. Apabila sudah terlanjur tinggi, bisa juga diturunkan dengan mengkonsumsi bahan alami seperti seledri, bawang putih, bawang prei, atau temulawak. Selain itu kita juga harus giat berolahraga dan diet secara teratur.

Continue reading

Tips Aman Mengkonsumsi Obat Saat Hamil

Sahabat, penggunaan obat selama kehamilan sering menjadi dilema. Di satu sisi ibu hamil membutuhkan obat untuk terapi dari penyakit yang diderita selama kehamilan. Tetapi di sisi lain muncul kekuatiran tentang efek samping obat yang dapat membahayakan janin dalam kandungannya.

daftar obat

Lantas apa yang harus dilakukan? Semoga TIPS aman mengkonsumsi obat berikut ini dapat membantu mengurangi kecemasan para ibu hamil.

Apakah ibu hamil boleh mengggunakan obat – obatan selama sakit ?

Ibu hamil sebaiknya tidak menggunakan obat tanpa resep atau tanpa anjuran dokter yang merawat.Karena kandungan zat kimia dalam obat dapat berpengaruh buruk pada pertumbuhan dan perkembangan janin.Terutama pada masa kehamilan tiga bulan pertama. Pada trimester pertama kehamilan, adalah masa yang sangat rawan, karena sedang berlangsung proses pertumbuhan dan perkembangan organ – organ tubuh janin.

Namun demikian dalam keadaan terpaksa dimana seorang ibu hamil dalam kondisi sakit sangat membutuhkan terapi, maka dokter akan berusaha memberikan obat yang paling aman dalam dosis yang direkomendasikan untuk di konsumsi dengan resiko seminimal mungkin.

Hal – hal apa saja yang harus diperhatikan oleh ibu hamil sehubungan dengan penggunaan obat – obatan ?

1.Ibu hamil disarankan tidak minum obat atau suplemen vitamin yang dijual bebas tanpa seijin dokter atau bidan yang merawat kehamilan.

2.Hindari minum jamu kemasan kering ataupun obat tradisional yang tidak memiliki ijin dari BPOM. Sebaiknya ibu hamil tidak mengkonsumsi obat resep dokter dan obat tradisional ( obat alternatif ) dalam waktu bersamaan tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis atau dokter yang merawat anda.

3.Jangan lupa bila ibu sakit dan berobat ke rumah sakit atau Puskesmas selalu menginformasikan pada dokter atau bidan yang merawat,bahwa ibu dalam kondisi hamil. Hal ini penting agar dokter atau bidan akan meresepkan obat yang aman

4.Selalu memeriksa tanggal kadaluarsa, bentuk kemasan, tampilan dari obat yang ibu hamil terima dari apotik atau toko obat .

5.Pastikan ibu hamil mengunjungi apotik yang sudah terpercaya untuk mendapatkan obat yang bermutu. Hal ini untuk menghindari resiko kemungkinan ada obat yang dipalsukan.Cek ulang kembali pada saat ibu menerima obat dari apotik apakah nama ibu dan jenis obat sesuai dengan yang diresepkan dokter.

6.Menginformasikan kepada dokter atau bidan tentang riwayat alergi obat tertentu jika pernah mengalami, agar tidak terulang pemberian obat yang sejenis.

7.Mengimbangi dengan minum air putih yang cukup untuk mengurangi reaksi obat terhadap fungsi hati dan ginjal .

8.Jangan lupa untuk mencatat reaksi alergi dari obat dan jenis obat baru yang diresepkan oleh dokter dan tenaga kesehatan lainnya.

Segera ke dokter atau bidan bila setelah minum obat lalu ibu hamil mengalami keluhan mual muntah, nyeri kepala hebat, jantung berdebar – debar dan keringat dingin, gatal – gatal seluruh tubuh, mata bengkak dan sebagainya.

9. Perhatikan cara penyimpanan obat misalnya pada suhu tertentu harus disesuaikan agar tidak mengurangi khasiat obat, jangka waktu pemberian obat harus tepat jangan terlalu dekat juga jangan terlambat.

10.Khusus untuk obat antibiotik yang sudah diresepkan dalam dosis yang aman bagi ibu hamil, obat harus di minum sampai habis sesuai jadwal dari dokter.

Catatan :

Jenis obat yang termasuk berbahaya untuk ibu hamil dan dapat berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang janin antara lain sebagai berikut :

Ibuprofen ( penghilang nyeri ), Lithium ( obat untuk gangguan jiwa ), Carbimazole ( obat untuk gangguan kelenjar tiroid, Warfarin dan jenis obat pembeku darah lainnya, Vaksin untuk cacar, campak jerman ( rubela ), Tetrasikline ( antibiotik ), Phenytoin ( obat epilepsi ), Choloroquin ( obat anti malaria ), obat anti kanker, Radiasi sinar X, obat kulit yang mengandung vitamin A. ( Sumber Materi Kelas Ibu 1 DEPKES )

 

DAFTAR OBAT AMAN DAN BERBAHAYA UNTUK IBU HAMIL DAN MENYUSUI

Kelompok Analgetik, NSAIDS, Obat Batuk dan Pilek,

Anti Alergi dan Asma, Anestesi

Obat untuk Penghilang Rasa Sakit (Pain Killer)
Nama Obat

AAP approved?*

Kategori Risiko Kehamilan**

Risiko Menyusui**

Notes

Acetaminophen (Tylenol)

Approved

B

L1

Aspirin

Caution

C (1st, 2nd trim.)
D (3rd trim.)

L3

1

Azapropazone (Rheumox)

Approved

L2

Butalbital (Fioricet, Fiorinal, Bancap, Two-dyne)

NR

D

L3

2

Butorphanol (Stadol)

Approved

B (1st, 2nd trim.)
D (3rd trim.)

L3

Celecoxib (Celebrex))

NR

C

L2

Codeine (in Tylenol #3, #4)

Approved

C

L3

3

Colchicine

Approved

D

L4

Diclofenac (Cataflam, Voltaren)

NR

B

L2

Fentanyl (Sublimaze)

Approved

B

L2

Flurbiprofen (Ansaid, Froben, Ocufen)

NR

B (1st, 2nd trim.)
C (3rd trim.)

L2

Hydrocodone (Lortab, Vicodin)

NR

B

L3

4

Hydromorphone (Dilaudid)

NR

C

L3

5

Ibuprofen (Advil, Nuprin, Motrin, Pediaprofen)

Approved

B (1st, 2nd trim.)
D (3rd trim.)

L1

Indomethacin (Indocin)

Approved

B (1st, 2nd trim.)
D (3rd trim.)

L3

Ketorolac (Toradol, Acular)

Approved

B (1st, 2nd trim.)
D (3rd trim.)

L2

Meperidine (Demerol)

Approved

B

L2;
L3 early postpartum

6

Methadone (Dolophine)

Approved

B

L3

7

Morphine (Duramorph, Infumorph, Epimorph, MS Contin)

Approved

B

L3

8

Nalbuphine (Nubain)

NR

B

L2

Naproxen (Anaprox, Naprosyn, Naproxen, Aleve)

Approved

B

L3;
L4 for chronic use

9

Nefopam (Acupan)

Approved

NR

Oxycodone (Tylox, Percodan,Oxycontin, Roxicet, Endocet, Roxiprin, Percocet)

NR

B

L3

10

Pentosan polysulfate (Elmiron)

NR

B

L2

Piroxicam (Feldene)

Approved

B

L2

Propoxyphene (Darvocet N, Propacet, Darvon)

Approved

C

L2

11

Rofecoxib (Vioxx)

Withdrawn from the market

12

Secobarbital (Seconal)

Approved

D

L3

13

Tolmetin (Tolectin)

Approved

C

L3

Tramadol HCL (Ultram, Ultracet)

NR

C

L3

14

Valdecoxib (Bextra)

Withdrawn from the market

more

Continue reading