Category Archives: Obat

Suplementasi Probiotik Memperbaiki Gejala Rinitis Alergika pada Anak

Insidens penyakit alergi pada masa kanak-kanak meningkat di seluruh dunia, terutama di negara-negara industri, hal ini kemungkinan disebabkan oleh sistem imun tidak mendapatkan stimulasi yang adekuat pada tahap awal kehidupan. Penyakit alergi dapat menyebabkan ketidakmampuan pada anak-anak, dan dapat menimbulkan penurunan kualitas hidup serta menurunkan efektivitas kerja para orang tua.

Bakteri probiotik dapat memperbaiki keseimbangan mikroba usus, dan dapat mempermudah modulasi respon imun. Terdapat perbedaan komposisi flora usus pada anak-anak yang mengalami alergi dengan yang tidak. Khususnya, jumlah Clostridia dalam flora usus lebih tinggi pada orang yang mengalami alergi, sedangkan jumlah Bifidobacteria lebih rendah.  Terlebih lagi, gaya hidup akhir-akhir ini telah mengubah komposisi mikroflora usus, dengan prevalensi enterobacteria pada Lactobacilli dan Bifidobacteria. Intervensi pada flora usus melalui konsumsi mikrobiota hidup (Lactobacilli), dapat membantu maturasi sistem imun yang tepat, dan menurunkan perkembangan alergi pada masa kanak-kanak.

Dari salah satu hasil review beberapa studi penggunaan Lactobacillus yang dikaitkan dengan gejala rinitis alergika dan asma dilakukan oleh Dr. Betsi GI, dkk, yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of Allergy, Asthma, & Immunology tahun 2008. dalam review tersebut memasukan beberapa studi klinis acak tersamar-gada, dan menunjukkan hasil bahwa; 9 dari 12 RCT yang mengevaluasi manfaat klinis pada rinitis alergika memperlihatkan adanya perbaikan terkait dengan penggunaan probiotik. Seluruh RCT mengenai  rinitis alergika musiman memperlihatkan skor gejala dan penggunaan obat-obatan yang lebih rendah dengan penggunaan probiotik dibandingkan dengan plasebo.5 dari 8 RCT mengenai  rinitis alergika musiman  memperlihatkan adanya perbaikan pada clinical outcomes. RCT yang melaporkan penilaian berbagai parameter imunologik terhadap alergi memperlihatkan tidak adanya efek probiotik yang bermakna.

Probiotik mungkin mempunyai efek yang menguntungkan terhadap rinitis alergika dengan menurunkan tingkat keparahan gejala-gejala yang timbul dan penggunaan obat-obatan. Dibutuhkan lebih banyak studi yang berkualitas baik untuk memecahkan masalah ini.

by : admi pio, lolita

Clopidogrel Dosis Ganda, Memperbaiki Efek Antiplatelet Akibat Penggunaan PPI

Penurunan efektifitas clopidogrel karena pemberian clopidogrel bersamaan dengan PPI dapat diatasi dengan meningkatkan dosis clopidogrel hingga 2 kali lipat, atau menggantikan PPI dengan ranitidine. Kesimpulan ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh dr. Pamela Moceri dan rekan dari MD the Cardiology Department, Pasteur University Hospital of Nice, Nice, Perancis

Clopidogrel telah digunakan secara luas untuk mengatasi kajadian aterotrombotik, baik pada pasien-pasien dengan kejadian kardiovaskular, serebrovaskular, dan penyakit arteri perifer, maupun pada pasien-pasien dengan risiko tinggi kardiovaskular. Dalam penelitian-penelitian seperti CAPRIE, CURE, CLARITY-TIMI serta penelitian lainnya, efektifitas clopidogrel tidaklah diragukan lagi sebagai salah satu anti-platelet andalan yang dapat menurunkan kejadian kardiovaskular. Obat-obat golongan PPI (proton pump inhibitor) seringkali diberikan bersamaan dengan clopidogrel-aspirin untuk mencegah perdarahan lambung. Namun penelitian OCLA (OCLA: Influence of Omeprazole on the Antiplatelet Action of Clopidogrel Associated to Aspirin), memperlihatkan bahwa omeprazole secara bermakna menurunkan kemampuan clopidogrel dalam menghambat trombosit sebagaimana diperlihatkan dari hasil pengujian dengan VASP (vasodilator-stimulated phosphoprotein phosphorylation).

Hasil dari penelitian ini meningkatkan perhatian terhadap interaksi yang mungkin terjadi dan menurunnya efektifitas antiplatelet clopidogrel. Tahun 2009, FDA (Food and Drug Administration) menyampaikan peringatan mengenai pemberian clopidogrel dengan omeprazole bersamaan. Dalam peringatannya tersebut, FDA juga menyatakan bahwa pasien-pasien dengan risiko tinggi serangan jantung dan stroke yang diterapi dengan clopidogrel tidak akan memperoleh manfaat penuh dari clopidogrel bila diberikan bersamaan dengan omeprazole. FDA pada saat itu merekomendasikan perubahan label clopidogrel dengan perigatan baru, yaitu interaksi clopidogrel dengan omeprazole dan obat-obat lain yang menghambat enzim CYP2C19. Pasien yang sedang diterapi menggunakan clopidogrel dan memerlukkan obat-obat yang mengurangi asam lambung direkomendasikan untuk diterapi menggunakan antagonis H2 seperti ranitidine atau famotidine, karena FDA memiliki keyakinan bahwa obat-obat ini tidak berinteraksi dengan clopidogrel. Sedangkan obat-obat yang tidak direkomendasikan pemberiannya bersamaan dengan clopidogrel antara lain adalah seperti cimetidine, fluconazole, ketoconazole, voriconazole, etravirine, felbamate, fluoxetine, fluvoxamine, dan ticlopidine.

Sebuah penelitian dilakukan oleh dr. Pamela Moceri dan rekan dari MD the Cardiology Department, Pasteur University Hospital of Nice, Nice, Perancis, untuk meneliti efek dari esomeprazole dan ranitidine terhadap efek antiplatelet clopidogrel dan aspirin, serta untuk mengetahui, apakah meningkatkan dosis clopidogrel dapat memperbaiki efektifitas anti platelet yang hilang karena esomeprazol.

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian prospektif, acak, silang. Pemeriksaan reaktifitas platelet terhadap aspirin 75 mg dan clopidogrel 150 mg dilakukan dengan/tanpa esomeprazole dan ranitidine dan menggunakan the VerifyNow system. Pemeriksaan dilakukan dalam 4 tahapan yang masing-masing dilakukan selama 7 hari. Tahap 1 : aspirin 160 mg dan clopidogrel 75 mg; Tahap 2 : aspirin 160 mg + clopidogrel 75 mg + esomeprazole 20 mg; Tahap 3 : aspirin 160 mg + clopidogre 150 mg + esmeprazole 20 mg; dan Tahap 4 : aspirin 160 mg + clopidogrel 75 mg + ranitidine 150 mg. Hasil dikumpulkan dalam P2Y12 Reaction Units (PRU%) dan Aspirin Reaction Units (ARU).

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pada 21 pasien dengan penyakit arteri koroner, esomeprazole mengurangi efektifitas clopidogrel dengan penurunan 38.6%±24 PRU (p<0,001) (perbedaan rata-rata absolut -16.7 PRU% [-21;-12.5]), dan meningkatkan kejadian respon rendah terhadap clopidogrel sebesar 8 kali lipat (pasien dengan persebntase PRU <20%). Selain itu diketahui bahwa ternyata peningkatan dosis clopidogrel hingga 2 kali lipat memperbaiki respon platelet terhadap clopidogrel.

Dr. Pamela Moceri dan rekan menyimpulkan bahwa ada interaksi negatif yang kuat antara clopidogrel dengan esomeprazol, yang dapat diatasi dengan meningkatkan dosis clopidogrel hingga 2 kali lipat, atau menggantikan esomeprazole dengan ranitidine. Hal ini merupakan solusi sederhana untuk mengatasi penurunan efek clopidogrel karena PPI.

by ; admin pio, lolita

 

OHO Thiazolidindion, Semakin Terbukti Menyebabkan Fraktur?

Obat OHO golongan thiazolidindion pada pasien diabetes melitus berhubungan dengan peningkatan risiko fraktur tulang terutama fraktur tulang pinggul dan tulang pergelangan tangan.

Sebelumnya, dianggap bahwa pasien dengan diabetes tipe 2 memiliki densitas tulang yang lebih tinggi daripada normal, sehingga risiko kejadian fraktur lebih rendah. Namun ternyata dari penelitian yang dilakukan, diketahui terjadi peningkatan risiko fraktur, terutama pada tempat-tempat yang non-vertebra, dan ini tidak tergantung dari umur, indeks massa tubuh dan densitas tulang pada pasien–pasien diabetes ini, dan diperkirakan kejadian fraktur ini berhubungan dengan komplikasi diabetes, risiko trauma dan terutama; penggunaan obat antidiabetes.

Penelitian terbaru dilakukan oleh dr. Christoph Meier dari Boston University, Massachusetts, Amerika Serikat. Penelitian yang dilakukan adalah:

  • Jumlah    : 1020 pasien dengan diabetes yang:
    • Didiagnosa fraktur oleh dokter umum di Inggris dari tahun 1994 hingga 2005
    • Umur 30-89 tahun
    • Selain itu terlibat 3728 kontrol tandingan
  • Terapi    : Pioglitazone dan rosiglitazone
  • Hasil    :
    • Pasien yang menerima resep thiazolidindion dalam rentang 12 -18 bulan, memiliki risiko fraktur 2,43 kali dibandingkan pasien yang tidak diterapi menggunakan OHO golongan thiazolidindion.
    • Para peneliti mengatakan bahwa terjadi peningkatan risiko fraktur pada pinggul dan tulang-tulang osteoporosis non-vertebra, sehingga jumlah fraktur vertebral dan iga yang terjadi terlalu rendah untuk dihubungkan dengan pemberian thiazolidindion.
    • Peningkatan risiko obat thiazolidindion: pioglitazone dan rosiglitazone tidak berbeda bermakna dalam meningkatkan risiko fraktur, dengan angka kejadian berturut-turut 2,59 dan 2,38 kali, dibandingkan dengan yang tidak diteerapi menggunakan thiazolidindion.
    • Pemberian terapi OHO thiazolidindion dalam jangka waktu pendek tidakh meningkatkan risiko fraktur. Risiko fraktur dengan terapi obat golongan thiazolidindion terlihat terutama pada pasien yang diterapi lebih dari 2 tahun.
    • Para peneliti mengatakan juga bahwa penelitian ini masih perlu dikonfirmasikan dengan penelitian terkontrol tambahan lainnya.

Dalam editorial lainnya, para peneliti juga berpendapat bahwa data-data hasil penelitian ini juga perlu dilihat dari sudut pandang lain, bahwa OHO thiazolidindion, khususnya rosiglitazone dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan OHO thiazolidindion dapat meningkatkan berat badan, berefek samping hepatotoksik, menyebabkan retensi cairan dan gagal jantung kongestif. Disamping itu juga OHO golongan thiazolidindion lebih mahal dan tidak lebih unggul dibandingan OHO lainnya.

Para ahli berpendapat bahwa hingga kini tidak ada konfirmasi dari penelitian-penelitian jangka panjang mengenai superioritas thiazolidindion dibandingkan dengan OHO lainnya dalam menurunkan hasil klinik. Oleh karena itu, OHO yang lebih tua (sulfonylurea generasi ke-2 (dan ke-3) serta metformin diberikan sebagai terapi pilihan pada pasien dengan diabetes melitus tipe 2, di mana metformin tetap menjadi first line therapy.

How Is Drug-Resistant TB Treated?

The efficacy of second-line agents, medication access, medication-related adverse effects, and concern about medication adherence during prolonged therapy are all important factors to consider. There have been no randomized controlled trials comparing second-line agents for MDR-TB, and data on the treatment of XDR-TB are extremely limited. This article discusses agents available for MDR-TB treatment in patients who are not co-infected with HIV and the recommendations included in the WHO guidelines.

The typical first-line treatment for non-drug-resistant TB consists of isoniazid, rifampin, ethambutol, and pyrazinamide. The WHO defines MDR-TB as resistance to 2 of the 4 first-line anti-TB medications (isoniazid and rifampin). XDR-TB is defined as resistance to both of these agents, plus any fluoroquinolone and at least 1 of 3 injectable medications (amikacin, kanamycin, or capreomycin). Patients with non-drug-resistant TB have an approximate 90% cure rate when treated with a total of 4 drugs over 6 months. Patients treated for MDR-TB have a 60%-75% cure rate with a 5-drug regimen given for a minimum of 20 months.

Preferred agents not approved by the US Food and Drug Administration that are used to treat MDR-TB include fluoroquinolones (eg, moxifloxacin and levofloxacin) and aminoglycosides (amikacin, capreomycin, and kanamycin).Additional agents used (although not recommended as initial MDR-TB treatment) are linezolid, amoxicillin/clavulanate, clarithromycin, and imipenem. The WHO guidelines recommend the following 5-agent treatment regimen for MDR-TB: pyrazinamide; a fluoroquinolone; a parenteral agent (typically amikacin or kanamycin); ethionamide (or prothionamide); and either cycloserine or para-aminosalicylic acid, with preference for cycloserine.

For patients who have not previously received MDR-TB treatment, the intensive phase of therapy should last a minimum of 8 months (including the parenteral aminoglycoside), with a total treatment duration of at least 20 months.Because data are limited data, there is no recommended treatment regimen for XDR-TB. Regimen design is similar to that for MDR-TB, and it is important to perform drug susceptibility testing to guide therapy. The WHO recommends monitoring MDR-TB treatment through monthly sputum-smear microscopy and culture to identify early treatment failure.

As the basis of their MDR-TB treatment recommendations, the WHO guidelines focus on a pooled meta-analysis of data from 3 unpublished systematic reviews (The Collaborative Group for Meta-Analysis of Individual Patient Data in MDR-TB. Unpublished data).On the basis of this meta-analysis, aminoglycosides are the preferred parenteral agents, with no superior efficacy demonstrated among amikacin, capreomycin, and kanamycin. The cure rate was higher with ethionamide than with cycloserine, and with cycloserine than para-aminosalicylic acid. However, in patients previously treated for MDR-TB, ethionamide was associated with little efficacy. Among the additional agents (linezolid, macrolides, and imipenem), there was no difference in cure rates; however, patients treated with these agents had worse outcomes that were attributed to confounding factors (The Collaborative Group for Meta-Analysis of Individual Patient Data in MDR-TB. Unpublished data).

Dosing regimens for MDR-TB agents vary in the literature, and use of the lowest efficacious dose is important, because patients are at an increased risk for medication-related adverse effects owing to the prolonged treatment courses. Trials of oral levofloxacin have been dosed at 300 mg/day or 500 mg/day, while oral moxifloxacin has been studied at 400 mg/day.Potential adverse effects associated with fluoroquinolones include but are not limited to central nervous system effects (eg, tremor, confusion, dizziness, and seizures), QTc prolongation, gastrointestinal disturbances, and tendon rupture.

Amikacin and kanamycin are typically dosed at 15 mg/kg/day or 25 mg/kg 3 times per week intravenously, and both dosing regimens seem to be similar in limiting potential adverse effects with weekly serum level monitoring. Potential adverse effects of aminoglycosides include but are not limited to nephrotoxicity and ototoxicity.Varying doses of oral linezolid have been studied, including once-daily doses of 300 mg and 600 mg.Bone marrow suppression, peripheral neuropathy, and neurotoxicity are all potential adverse effects of linezolid; lower doses or once-daily administration has been considered in an attempt to minimize their occurrence or severity. Appropriate monitoring and patient counseling on potential medication-related adverse effects is essential for all MDR-TB agents.

The following is a potential empiric treatment regimen for a non-HIV-infected adult with normal renal function who is being treated for MDR-TB:

  • Moxifloxacin 400 mg/day orally;
  • Amikacin 25 mg/kg intravenously 3 times per week;
  • Oral daily pyrazinamide, dosed on the basis of lean body weight: 1000 mg for patients weighing 40-55 kg, 1500 mg for those weighing 56-75 kg, or 2000 mg (maximum dose) for those weighing 76-90 kg;
  • Ethionamide 15-20 mg/kg/day orally; initial dose of 250 mg/day, with titration every 1-2 days as tolerated to an average dose of 750 mg/day (maximum of 1 g/day in 3-4 divided doses); and
  • Cycloserine 250 mg orally every 12 hours for 14 days, followed by 500-1000 mg/day, divided twice daily.

Potentially promising new agents for drug-resistant TB are being developed and have begun clinical testing. A new class is the bicyclic nitroimidazoles, which are prodrugs shown to be effective against both actively replicating and nonreplicating bacteria. The difficulty in the eradication of nonreplicating bacteria is the reason why current treatment involves prolonged duration in order to achieve cure and avoid relapse.

The active metabolite for the agent PA-824, des-nitroimidazole, has bactericidal activity against nonreplicating bacteria through the release of reactive nitrogen species, particularly nitric oxide. A phase 2 trial of 8 weeks of combination therapy with PA-824, moxifloxacin, and pyrazinamide has been designed but not yet initiated.

Patients receiving therapy for drug-resistant TB are at high risk for treatment failure owing to the use of second-line agents, which can be expensive, have significant adverse effect profiles, require a longer duration of treatment, are based on less rigorous data, and are less effective than first-line regimens for non-MDR-TB. With the aid of the WHO guidelines and drug susceptibilities, therapy should be patient-specific, with appropriate monitoring and patient education to achieve optimal response to therapy and minimize medication-related adverse effects.

Join the Forum discussion on this post

PELEMBAB WAJAH DARI MINYAK NABATI ALAMI-LOTION-ANTIOKSIDAN-VITAMIN-MINERAL

LOTION WAJAH HERBAL FACIAL OIL

 

Pelembab wajah satu ini tidak seperti pelembab yang biasanya Anda temui dipasaran dalam bentuk krim atau lotion. Pelembab ini murni dari minyak nabati yang berasal dari tanaman herbal dan bunga. Minyak nabati adalah bahan utama untuk kecantikan kulit dari luar dan dalam. Rempah-rempah yang dikandung lotion ini memiliki anti oksidan, vitamin, dan mineral yang melembabkan dan meremajakan tanpa mengiritasi kulit cantik Anda. Kini, Anda tidak perlu lagi khawatir dengan bahan berbahaya pada produk kecantikan Anda.

Tersedia untuk:
1. kulit normal – kombinasi (berminyak dan kering)
2. kulit berminyak – cenderung berjerawat

Cara Pemakaian:
Tuang tiga tetes pada jari anda secara bergantian. Usapkan pada kulit wajah (sedikit pada dahi, pipi, hidung dan dagu) yang sebelumya sudah dibersihkan.

Pakailah pada pagi dan petang, atau saat kulit terasa kering.

Paling bagus digunakan dengan Herbal Cleansing Oil dan sebelumnya gunakan Herbal Vinegar.

Komposisi;
grapeseed oil, organic coconut oil, green tea, rosemary, lemon peel, hibiscus, ginseng, sunflower oil, rice bran oil, organic extra virgin olive oil, sandalwood oil, palm kernel oil, aloe vera eo, carrot extact, alang-alang, pegagan, melati, vit E tocopherols, chamomile, rose flower, basil seeds, basil leaves.

Join the Forum discussion on this post

KENIKIR

Kenikir atau ulam raja merupakan terna tropika yang berasal dari Amerika Latin, tetapi tumbuh liar dan mudah didapati di Florida, Amerika Serikat, serta di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Kenikir adalah anggota dari Asteraceae. Manakala tumbuhan bunga yang berwarna kuning jarang digunakannya sebagai ulam, yang berwarna ungu merupakan sayuran ulam yang sangat populer dimakan mentah bersama nasi atau dicacah dengan budu, sambal terasi, tempoyak, serta cincalok.

Berdasarkan kajian tempatan, kenikir mengandung 3 persen protein, 0,4 persen lemak dan karbohidrat serta kaya dengan kalsium dan vitamin A.

Khasiat

Ulamnya yang digelarkan “ulam raja” telah digunakan secara tradisi untuk memperbaiki peredaran darah dan mencuci darah, serta untuk menguatkan tulang. Ulamnya mempunyai keupayaan antioksida (AEAC) yang amat tinggi, iaitu setiap 100 gram ulam yang segar mempunyai keupayaan antioksida yang sama dengan 2,400 miligram L-asid askorbik. Melebihi dua puluh jenis bahan antioksida telah dikenal pasti dalam ulam raja. Bahan-bahan antioksida yang utama disebabkan oleh kehadiran bilangan proantosianidin yang wujud sebagai dimer, melalui heksamer, kuersetin glikosida, asid klorogenik, asid neoklorogenik, asid kripto-klorogenik, serta penangkap (+)-. Keupayaan ulam raja untuk mengurangkan tekanan oksidatif mungkin sebagiannya terdiri daripada kandungan antioksidanya yang tinggi

Obat Tradisional Darah Tinggi

Obat Tradisional Darah Tinggi. Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah satu faktor risiko untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung dan aneurisma arterial, dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis. Penyakit darah tinggi tak bisa dianggap remeh tapi harus sesegera mungkin diatasi. Jika anda termasuk golongan yang ekonominya menengah ke bawah sebaiknya lakukan saja pengobatan dengan obat tradisional darah tinggi ini.

Continue reading

AKAR PASAK BUMI sebagai ANTIKANKER

Akar Pasak Bumi Eurycoma longifolia Jack) merupakan salah satu tumbuhan obat asal hutan yang memiliki banyak khasiat. Berdasarkan kajian farmakologis, Pasak Bumi mengandung empat senyawa penting yaitu senyawa canthin, senyawa turunan eurycomanone, senyawa quassinoid, dan senyawa etanol. Senyawa canthin pada tumbuhan pasak bumi mampu menghambat pertumbuhan sel kanker, senyawa turunan eurycomanone sebagai anti malaria, senyawa quassinoid berfungsi sebagai anti leukimia, dan prospektif untuk anti HIV, senyawa etanol berfungsi sebagai afrodisiak. Manfaat yang beragam tersebut menyebabkan pasak bumi banyak diekspor ke luar negeri untuk keperluan pembuatan obat herbal. Produk pasak bumi kering memiliki harga cukup mahal, produk berupa cacahan akar (chipped root) harganya 60 USD/kg sedangkan produk berupa ekstrak harganya 80 USD/kg.

 

Pasak bumi memiliki daerah penyebaran di Semenanjung Malaysia, Sumatera dan Kalimantan. Di Pulau Sumatera hanya beberapa daerah yang diduga masih ditemui tumbuhan pasak bumi yaitu kawasan Leuser, sebagian Provinsi Riau dan kawasan Kerinci Seblat. Hampir seluruh bagian tumbuhan ini mengandung substansi pahit yang dapat digunakan untuk obat. Akar tumbuhan ini dicampur dengan tumbuhan obat lain seperti kayu manis dan digunakan untuk tonik penyehat di Sabah. Selain itu di Malaysia kulit akarnya digunakan juga sebagai penawar demam, penyembuh luka-luka di gusi atau gangguan cacing serta tonikum setelah melahirkan. Kulit batang digunakan untuk koagulan darah setelah melahirkan, sedangkan di Kalimantan dan Sabah kulit batang digunakan untuk mengobati nyeri pada tulang. Daun pasak bumi yang muda dapat dimakan untuk pengobatan sakit perut. Di Vietnam bunga dan buah pasak bumi digunakan untuk obat disentri. Menurut sifat fisis, mekanis dan keawetan, kayu pasak bumi memiliki berat jenis 0,65, kelas awet 4-5, dan kelas kuat II. Kayu golongan ini dapat digunakan untuk keperluan konstruksi dan mebel.

Menurut WHO, 80% lebih penduduk dunia masih menggantungkan diri terhadap pengobatan tradisional termasuk penggunaan obat yang berasal dari tumbuhan. Indonesia adalah negara megabiodiversity yang kaya akan tanaman obat, dan sangat potensial untuk dikembangkan, namun belum dikelola secara maksimal. Kekayaan alam tumbuhan di Indonesia meliputi 30.000 jenis tumbuhan dari total 40.000 jenis tumbuhan di dunia, 940 jenis diantaranya merupakan tumbuhan berkhasiat obat (jumlah ini merupakan 90% dari jumlah tumbuhan obat di Asia). Berdasarkan hasil penelitian, dari sekian banyak jenis tanaman obat, baru 20-22% yang dibudidayakan. Sedangkan sekitar 78% diperoleh melalui pengambilan langsung (eksplorasi) dari hutan. Potensi tanaman obat di Indonesia, termasuk tanaman obat kehutanan antara lain Pasak Bumi, apabila dikelola dengan baik akan sangat bermanfaat dari segi ekonomi, sosial budaya maupun lingkungan.

(Sumber : www.dephut.co.id)

Join the Forum discussion on this post

Bunuh Kolesterol dengan Seledri

Salah satu penyakit paling populer di zaman ini adalah kelebihan kolesterol atau hiperkolesterolemia yang juga bisa mengganggu kesehatan jantung. Dengan berpantang makanan sumber kolesterol, kadar kolesterol darah bisa dikurangi. Apabila sudah terlanjur tinggi, bisa juga diturunkan dengan mengkonsumsi bahan alami seperti seledri, bawang putih, bawang prei, atau temulawak. Selain itu kita juga harus giat berolahraga dan diet secara teratur.

Continue reading

Tips Aman Mengkonsumsi Obat Saat Hamil

Sahabat, penggunaan obat selama kehamilan sering menjadi dilema. Di satu sisi ibu hamil membutuhkan obat untuk terapi dari penyakit yang diderita selama kehamilan. Tetapi di sisi lain muncul kekuatiran tentang efek samping obat yang dapat membahayakan janin dalam kandungannya.

daftar obat

Lantas apa yang harus dilakukan? Semoga TIPS aman mengkonsumsi obat berikut ini dapat membantu mengurangi kecemasan para ibu hamil.

Apakah ibu hamil boleh mengggunakan obat – obatan selama sakit ?

Ibu hamil sebaiknya tidak menggunakan obat tanpa resep atau tanpa anjuran dokter yang merawat.Karena kandungan zat kimia dalam obat dapat berpengaruh buruk pada pertumbuhan dan perkembangan janin.Terutama pada masa kehamilan tiga bulan pertama. Pada trimester pertama kehamilan, adalah masa yang sangat rawan, karena sedang berlangsung proses pertumbuhan dan perkembangan organ – organ tubuh janin.

Namun demikian dalam keadaan terpaksa dimana seorang ibu hamil dalam kondisi sakit sangat membutuhkan terapi, maka dokter akan berusaha memberikan obat yang paling aman dalam dosis yang direkomendasikan untuk di konsumsi dengan resiko seminimal mungkin.

Hal – hal apa saja yang harus diperhatikan oleh ibu hamil sehubungan dengan penggunaan obat – obatan ?

1.Ibu hamil disarankan tidak minum obat atau suplemen vitamin yang dijual bebas tanpa seijin dokter atau bidan yang merawat kehamilan.

2.Hindari minum jamu kemasan kering ataupun obat tradisional yang tidak memiliki ijin dari BPOM. Sebaiknya ibu hamil tidak mengkonsumsi obat resep dokter dan obat tradisional ( obat alternatif ) dalam waktu bersamaan tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis atau dokter yang merawat anda.

3.Jangan lupa bila ibu sakit dan berobat ke rumah sakit atau Puskesmas selalu menginformasikan pada dokter atau bidan yang merawat,bahwa ibu dalam kondisi hamil. Hal ini penting agar dokter atau bidan akan meresepkan obat yang aman

4.Selalu memeriksa tanggal kadaluarsa, bentuk kemasan, tampilan dari obat yang ibu hamil terima dari apotik atau toko obat .

5.Pastikan ibu hamil mengunjungi apotik yang sudah terpercaya untuk mendapatkan obat yang bermutu. Hal ini untuk menghindari resiko kemungkinan ada obat yang dipalsukan.Cek ulang kembali pada saat ibu menerima obat dari apotik apakah nama ibu dan jenis obat sesuai dengan yang diresepkan dokter.

6.Menginformasikan kepada dokter atau bidan tentang riwayat alergi obat tertentu jika pernah mengalami, agar tidak terulang pemberian obat yang sejenis.

7.Mengimbangi dengan minum air putih yang cukup untuk mengurangi reaksi obat terhadap fungsi hati dan ginjal .

8.Jangan lupa untuk mencatat reaksi alergi dari obat dan jenis obat baru yang diresepkan oleh dokter dan tenaga kesehatan lainnya.

Segera ke dokter atau bidan bila setelah minum obat lalu ibu hamil mengalami keluhan mual muntah, nyeri kepala hebat, jantung berdebar – debar dan keringat dingin, gatal – gatal seluruh tubuh, mata bengkak dan sebagainya.

9. Perhatikan cara penyimpanan obat misalnya pada suhu tertentu harus disesuaikan agar tidak mengurangi khasiat obat, jangka waktu pemberian obat harus tepat jangan terlalu dekat juga jangan terlambat.

10.Khusus untuk obat antibiotik yang sudah diresepkan dalam dosis yang aman bagi ibu hamil, obat harus di minum sampai habis sesuai jadwal dari dokter.

Catatan :

Jenis obat yang termasuk berbahaya untuk ibu hamil dan dapat berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang janin antara lain sebagai berikut :

Ibuprofen ( penghilang nyeri ), Lithium ( obat untuk gangguan jiwa ), Carbimazole ( obat untuk gangguan kelenjar tiroid, Warfarin dan jenis obat pembeku darah lainnya, Vaksin untuk cacar, campak jerman ( rubela ), Tetrasikline ( antibiotik ), Phenytoin ( obat epilepsi ), Choloroquin ( obat anti malaria ), obat anti kanker, Radiasi sinar X, obat kulit yang mengandung vitamin A. ( Sumber Materi Kelas Ibu 1 DEPKES )

 

DAFTAR OBAT AMAN DAN BERBAHAYA UNTUK IBU HAMIL DAN MENYUSUI

Kelompok Analgetik, NSAIDS, Obat Batuk dan Pilek,

Anti Alergi dan Asma, Anestesi

Obat untuk Penghilang Rasa Sakit (Pain Killer)
Nama Obat

AAP approved?*

Kategori Risiko Kehamilan**

Risiko Menyusui**

Notes

Acetaminophen (Tylenol)

Approved

B

L1

Aspirin

Caution

C (1st, 2nd trim.)
D (3rd trim.)

L3

1

Azapropazone (Rheumox)

Approved

L2

Butalbital (Fioricet, Fiorinal, Bancap, Two-dyne)

NR

D

L3

2

Butorphanol (Stadol)

Approved

B (1st, 2nd trim.)
D (3rd trim.)

L3

Celecoxib (Celebrex))

NR

C

L2

Codeine (in Tylenol #3, #4)

Approved

C

L3

3

Colchicine

Approved

D

L4

Diclofenac (Cataflam, Voltaren)

NR

B

L2

Fentanyl (Sublimaze)

Approved

B

L2

Flurbiprofen (Ansaid, Froben, Ocufen)

NR

B (1st, 2nd trim.)
C (3rd trim.)

L2

Hydrocodone (Lortab, Vicodin)

NR

B

L3

4

Hydromorphone (Dilaudid)

NR

C

L3

5

Ibuprofen (Advil, Nuprin, Motrin, Pediaprofen)

Approved

B (1st, 2nd trim.)
D (3rd trim.)

L1

Indomethacin (Indocin)

Approved

B (1st, 2nd trim.)
D (3rd trim.)

L3

Ketorolac (Toradol, Acular)

Approved

B (1st, 2nd trim.)
D (3rd trim.)

L2

Meperidine (Demerol)

Approved

B

L2;
L3 early postpartum

6

Methadone (Dolophine)

Approved

B

L3

7

Morphine (Duramorph, Infumorph, Epimorph, MS Contin)

Approved

B

L3

8

Nalbuphine (Nubain)

NR

B

L2

Naproxen (Anaprox, Naprosyn, Naproxen, Aleve)

Approved

B

L3;
L4 for chronic use

9

Nefopam (Acupan)

Approved

NR

Oxycodone (Tylox, Percodan,Oxycontin, Roxicet, Endocet, Roxiprin, Percocet)

NR

B

L3

10

Pentosan polysulfate (Elmiron)

NR

B

L2

Piroxicam (Feldene)

Approved

B

L2

Propoxyphene (Darvocet N, Propacet, Darvon)

Approved

C

L2

11

Rofecoxib (Vioxx)

Withdrawn from the market

12

Secobarbital (Seconal)

Approved

D

L3

13

Tolmetin (Tolectin)

Approved

C

L3

Tramadol HCL (Ultram, Ultracet)

NR

C

L3

14

Valdecoxib (Bextra)

Withdrawn from the market

more

Continue reading