Category Archives: Info Penyakit

Suplementasi Probiotik Memperbaiki Gejala Rinitis Alergika pada Anak

Insidens penyakit alergi pada masa kanak-kanak meningkat di seluruh dunia, terutama di negara-negara industri, hal ini kemungkinan disebabkan oleh sistem imun tidak mendapatkan stimulasi yang adekuat pada tahap awal kehidupan. Penyakit alergi dapat menyebabkan ketidakmampuan pada anak-anak, dan dapat menimbulkan penurunan kualitas hidup serta menurunkan efektivitas kerja para orang tua.

Bakteri probiotik dapat memperbaiki keseimbangan mikroba usus, dan dapat mempermudah modulasi respon imun. Terdapat perbedaan komposisi flora usus pada anak-anak yang mengalami alergi dengan yang tidak. Khususnya, jumlah Clostridia dalam flora usus lebih tinggi pada orang yang mengalami alergi, sedangkan jumlah Bifidobacteria lebih rendah.  Terlebih lagi, gaya hidup akhir-akhir ini telah mengubah komposisi mikroflora usus, dengan prevalensi enterobacteria pada Lactobacilli dan Bifidobacteria. Intervensi pada flora usus melalui konsumsi mikrobiota hidup (Lactobacilli), dapat membantu maturasi sistem imun yang tepat, dan menurunkan perkembangan alergi pada masa kanak-kanak.

Dari salah satu hasil review beberapa studi penggunaan Lactobacillus yang dikaitkan dengan gejala rinitis alergika dan asma dilakukan oleh Dr. Betsi GI, dkk, yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of Allergy, Asthma, & Immunology tahun 2008. dalam review tersebut memasukan beberapa studi klinis acak tersamar-gada, dan menunjukkan hasil bahwa; 9 dari 12 RCT yang mengevaluasi manfaat klinis pada rinitis alergika memperlihatkan adanya perbaikan terkait dengan penggunaan probiotik. Seluruh RCT mengenai  rinitis alergika musiman memperlihatkan skor gejala dan penggunaan obat-obatan yang lebih rendah dengan penggunaan probiotik dibandingkan dengan plasebo.5 dari 8 RCT mengenai  rinitis alergika musiman  memperlihatkan adanya perbaikan pada clinical outcomes. RCT yang melaporkan penilaian berbagai parameter imunologik terhadap alergi memperlihatkan tidak adanya efek probiotik yang bermakna.

Probiotik mungkin mempunyai efek yang menguntungkan terhadap rinitis alergika dengan menurunkan tingkat keparahan gejala-gejala yang timbul dan penggunaan obat-obatan. Dibutuhkan lebih banyak studi yang berkualitas baik untuk memecahkan masalah ini.

by : admi pio, lolita

Obat herbal kanker payudara: Inilah obat herbal kanker payudara yang efektif sembuhkan penyakit kanker payudara

 

Obat herbal kanker payudara – Bagi anda khususnya perempuan yang menderita penyakit kanker payudara yang ingin menyembuhkan kanker payudara secara alami dan aman, kami berikan solusi pengobatan kanker payudara secara alami dengan mengkonsumsi obat herbal kanker payudara XAMthone plus yang sudah terbukti ampuh sembuhkan penyakit kanker payudara tanpa melakukan operasi.

Bagaimana bisa obat herbal xamthone plus sembuhkan penyakit kanker payudara?

Kanker Payudara adalah suatu penyakit dimana terjadi pertumbuhan berlebihan atau perkembangan tidak terkontrol dari sel-sel (jaringan) payudara, Hal ini bisa terjadi terhadap wanita maupun pria. Dari seluruh penjuru dunia, penyakir kanker payudara (Breast Cancer/Carcinoma mammae) diberitakan sebagai salah satu penyakit kanker yang menyebabkan kematian nomor lima (5) setelah ; kaker paru, kanker rahim, kanker hati dan kanker usus.
Kanker payudara adalah kanker pada jaringan payudara. Ini adalah jenis kanker paling umum yang diderita kaum wanita. Kaum pria juga dapat terserang kanker payudara, walaupun kemungkinannya lebih kecil dari 1 di antara 1000. Pengobatan yang paling lazim adalah dengan pembedahan dan jika perlu dilanjutkan dengan kemoterapi maupun radiasi.

Diagnosa Penyakit Kanker Payudara

Penyakit kanker payudara dapat diketahui dengan pasti dengan cara pengambilan sample jaringan sel payudara yang mengalami pembenjolan (tindakan biopsi). Dengan cara ini akan diketahui jenis pertumbuhan sel yang dialami, apakah bersifat tumor jinak atau tumor ganas (kanker).

Type Penyakit Kanker Payudara

Melalui pemeriksaan yang di sebut dengan mammograms, maka type kanker payudara ini dapat dikategorikan dalam dua bagian yaitu :
obat herbal kanker payudara secara alami dan aman1. Kanker payudara non invasive, kanker yang terjadi pada kantung (tube) susu {penghubung antara alveolus (kelenjar yang memproduksi susu) dan puting payudara}. Dalam bahasa kedokteran disebut ‘ductal carcinoma in situ’ (DCIS), yang mana kanker belum menyebar ke bagian luar jaringan kantung susu.

2. Kanker payudara invasive, kanker yang telah menyebar keluar bagian kantung susu dan menyerang jaringan sekitarnya bahkan dapat menyebabkan penyebaran (metastase) kebagian tubuh lainnya seperti kelenjar lympa dan lainnya melalui peredaran darah.

Pencegahan Penyakit Kanker Payudara

Bagi anda yang merasakan ada hal yang tampak berbeda pada payudara, segeralah memeriksakannya ke dokter jangan sampai terlambat. Misalnya adanya pembesaran sebelah, adanya benjolan disekitar payudara, nyeri terus menerus pada puting susu dan sebagainya seperti pada keterangan tanda dan gejala payudara diatas.

Tindakan lain yang bisa anda lakukan adalah Hindari kegemukan, Kurangi makan lemak, Usahakan banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A dan C, Jangan terlalu banyak makan makanan yang diasinkan dan diasap, Olahraga secara teratur, dan Check-up payudara sejak usia 30 tahun secara teratur.

Source : http://www.infopenyakit.com/2008/01/penyakit-kanker-payudara.html

Solusi terbaik dan aman untuk pengobatan kanker payudara dengan obat herbal kanker payudara jus manggis xamthone plus

Apa itu xamthone plus ? Amazing Juice For Amazing Health!!!!

Xamthone plus merupakan sebuah  merek produk minuman kesehatan yang berasal dari buah manggis kulaitas nomor 1 .
Xamthone plus di formulasikan dari nutrisi murni buah manggis , buah eksotik yang sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Khasiatnya tidak  di ragukan lagi .

Mengapa xamthone plus jus manggis memiliki kemampuan mengobati kanker payudara ?
Obat herbal kanker payudara
Jawaban pertanyaan ini terjawab dengan penelitian terkini yang membuktikan bahwa manggis mengandung antioksidan yang sangat kuat yaitu xanthone, melebihi beberapa kali lipat dari kekuatan vitamin c dan E .
Journal of  pharmacology, mempublikasikan bahwa xanthone memilik efek anti kanker seperti kanker payudara , kanker darah (leukeumia) dan kanker hati . Selain itu juga xanthone  memiliki banyak manfaat kesehatan terutama kesehatan kardiovaskuler seperti mengatasi sakit jantung, aterosklerosis, hipertensi dan trombosit. Xanthone juga memperlebar pembuluh darah dan memeperlancar peredaran darah. manggis juga kaya akan mineral kalium yang membantu metabolisme energi.

Khasiat XANTHONE bukan sekedar antioksidan, tetapi juga antikanker seperti hasil riset Moongkarndi. Peneliti Fakultas Farmasi Universitas Mahidol itu menguji XANTHONE dalam riset praklinis dengan SKBR3 alias kultur sel kanker payudara manusia. Hasilnya? Ekstrak kulit manggis bersifat antiproliferasi yang kuat untuk menghambat pertumbuhan sel kanker.   Selain itu ekstrak itu juga bersifat apoptosis atau mendukung penghancuran sel kanker.

Chi Kuan Ho dari Veterans General Hospital dari Taipei mengungkapkan bahwa turunan XANTHONE mujarab mengatasi sel HCCs hepatocellular carcinomas atau kanker hati. Turunan XANTHONE itu adalah Garcinone E. Kami menyarankan bahwa Garcinone E mungkin berpotensi untuk digunakan dalam perawatan beberapa tipe kanker yang berhubungan dengan pencernaan dan paru-paru.

penyakit obesitas

Overweight dan Obesitas sebagai suatu resiko penyakit degeneratif PDF Cetak E-mail
Jumat, 15 April 2011 10:27

Overweight dan Obesitas adalah suatu kondisi kronik yang sangat erat hubungannya dengan peningkatan resiko sejumlah penyakit Degeneratif. Penyakit Degeneratif adalah suatu kondisi penyakit yang muncul akibat proses kemunduran fungsi sel-sel tubuh yaitu dari keadaan normal menjadi lebih buruk dan berlangsung secara kronis. Penyakit yang termasuk dalam kelompok ini adalah Diabetes Melitus Type II, Stroke, Hipertensi, Penyakit Kardiovaskular, Dislipidemia, dsb. Penyakit Degeneratif yang paling sering menyertai Obesitas adalah Diabetes melitus Type II, Hipertensi dan Hiperkolesterolemia (Dislipidemia). Sebuah data dari NHANES (National Health and Nutrition Examination Survey, US) tahun 1994 memperlihatkan bahwa dua per tiga pasien Overweight dan Obesitas dewasa mengidap paling sedikit satu dari penyakit kronis tersebut dan sebanyak 27 % dari mereka mengidap dua atau lebih penyakit.

 

 Overweight dan Obesitas saat ini sudah menjadi suatu masalah global yang serius. Data yang dikumpulkan dari seluruh dunia memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan prevalensi Overweight dan Obesitas pada 10 sampai 15 tahun terakhir dengan angka kejadian terbanyak di Amerika. Saat ini diperkirakan sebanyak lebih dari 100 juta penduduk di seluruh dunia menderita Obesitas, dan angka ini masih akan terus meningkat. Diperkirakan apabila keadaan ini terus berlanjut maka pada tahun 2230 sebanyak 100 % penduduk Amerika Serikat akan menjadi Obese. Bagaimana dengan kondisi di Indonesia ? Menurut data yang diperoleh dari Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes tahun 1997, sebanyak 12,8 % pria dewasa mengalami Overweight dan sebanyak 2,5 % mengalami Obesitas. Sedangkan pada wanita angka ini menjadi lebih besar lagi yaitu 20 % dan 5,9 %. 

 

 Perkiraan prevalensi overweight dan obesitas di Indonesia (Dit BGM DepKes, 1997)

   Dari perkiraan 210 juta penduduk Indonesia thn 2000 jumlah penduduk yang overweight diperkirakan mencapai 76.7 juta (17.5%) dan pasien obesitas berjumlah lebih dari 9.8 juta (4.7%). Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa Overweight dan Obesitas di Indonesia telah menjadi masalah besar yang memerlukan penanganan secara serius.

 Indeks Massa Tubuh (IMT) Sebagai Alat Ukur Overweight & Obesitas

          Overweight dan Obesitas merupakan suatu akumulasi lemak berlebih di dalam tubuh yang dapat mengganggu kesehatan secara keseluruhan. Overweight dan Obesitas terjadi disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang keluar. Metoda paling praktis dan sederhana dalam menentukan tingkat Overweight dan Obesitas pada seseorang adalah Indeks Massa Tubuh (IMT)/Body Mass Index. IMT diperoleh dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat dari tinggi badan (meter). Nilai IMT yang didapat tidak dipengaruhi oleh umur dan jenis kelamin.


Klasifikasi IMT menurut World Health Organization (WHO) tahun 1998 mendefinisikan Overweight apabila diperoleh IMT ≥ 25 dan Obesitas apabila IMT ≥ 30. IMT ini bermanfaat dalam menentukan seberapa besar seseorang dapat terkena resiko penyakit-penyakit tertentu yang disebabkan karena berat badannya.

Resiko Penyakit Degeneratif pada Overweight & Obesitas

          Meningkatnya angka Overweight dan Obesitas secara global di seluruh dunia saat ini dianggap sebagai akibat dari beberapa faktor, antara lain peningkatan dalam konsumsi makanan padat energi tinggi lemak dan gula namun rendah dalam kandungan vitamin, mineral dan mikronutrien lain. Selain itu juga diakibatkan adanya suatu trend penurunan aktivitas fisik yang disebabkan oleh gaya hidup (sedentary), pekerjaan, perubahan model transportasi dan peningkatan urbanisasi. Overweight dan Obesitas yang dibiarkan memiliki dampak kesehatan yang cukup serius. Resiko menderita penyakit degeneratif akan meningkat secara progresif seiring dengan peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT yang meningkat merupakan faktor resiko utama penyakit-penyakit kronis seperti Kardiovaskular (penyakit Jantung dan Stroke), Diabetes (yang saat ini sudah menjadi epidemi global), gangguan otot dan tulang (paling sering adalah Osteoarthritis) dan beberapa penyakit keganasan. Pada anak, angka Obesitas juga semakin meningkat dari tahun ke tahun baik di negara maju maupun di negara sedang berkembang. Disamping itu Obesitas pada anak beresiko tinggi menjadi Obesitas pada usia dewasa dan berpotensi menimbulkan penyakit Degeneratif di kemudian hari.

           Beberapa studi epidemiologis yang telah dilakukan mengemukakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara angka kejadian mortalitas (kematian) dan Obesitas. Diketahui terdapat peningkatan angka kematian yang dimulai pada IMT diatas 25 dan semakin jelas pada individu dengan IMT diatas atau sama dengan 30. Angka mortalitas pada individu dengan IMT diatas 30 penyebabnya bervariasi namun yang terbanyak adalah angka mortalitas yang disebabkan oleh penyakit Kardiovaskular. Penelitian yang dilakukan oleh Framingham Heart Study di Amerika menemukan adanya korelasi antara tekanan darah dan obesitas. Disebutkan pada studi tersebut bahwa pada individu dewasa muda dengan obesitas akan mengalami peningkatan tekanan darah sebanyak 10 kali lebih besar daripada individu dengan berat badan normal. 

  Strategi Pencegahan Overweight dan Obesitas

          Overweight dan Obesitas merupakan suatu kondisi dengan penyebab multi faktor, oleh karena itu penanganan yang tepat hendaknya mempertimbangkan pendekatan secara multi disiplin. Pencegahan Overweight dan Obesitas terdiri dari tiga tahapan yaitu Pencegahan primer, sekunder dan tertier. Pencegahan Primer adalah dengan pendekatan komunitas untuk mempromosikan cara hidup sehat. Usaha pencegahan dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja dan pusat kesehatan masyarakat. Pencegahan sekunder bertujuan untuk menurunkan prevalensi Obesitas sedangkan pencegahan tertier bertujuan untuk mengurangi Obesitas dan komplikasi penyakit yang ditimbulkannya.

           Pada dasarnya prinsip dari pencegahan dan penatalaksanaan Overweight dan Obesitas adalah mengurangi asupan energi serta meningkatkan keluaran energi, dengan cara pengaturan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, modifikasi gaya hidup serta dukungan secara mental dan sosial.

 1. Pengaturan nutrisi dan pola makan

  Tujuan utama pengaturan nutrisi pada individu dengan overweight dan obesitas tidak hanya sekedar menurunkan berat badan, namun juga mempertahankan berat badan agar tetap stabil dan mencegah peningkatan kembali berat badan yang telah didapat. Konsumsilah sedikit lemak (30 % dari jumlah keseluruhan kalori yang dikonsumsi). Kurangi konsumsi makanan tinggi karbohidrat dan lemak, perbanyak konsumsi serat. Upayakan tetap memilih makanan dan minuman secara berhati-hati agar tetap dapat mengontrol kalori, lemak, gula dan garam yang dikonsumsi.Konsumsi makanan yang dilakukan harus tetap dapat memenuhi kecukupan gizi. Ini berarti vitamin dan mineral harus terdapat dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan.

 2. Perbanyak aktivitas fisik

  Olahraga dan aktivitas fisik memberi manfaat yang sangat besar dalam penatalaksanaan overweight dan obesitas. Olahraga akan memberikan serangkaian perubahan baik fisik maupun psikologis yang sangat bermanfaat dalam mengendalikan berat badan. Contoh yang paling jelas adalah sebagai berikut,  jika kita melakukan aktivitas lari selama 1 jam penuh kegiatan ini akan membakar 600 kalori setara dengan kalori yang dihasilkan jika kita mengkonsumsi satu buah hamburger fast food. Olahraga yang dilakukan secara konsisten dan teratur tidak hanya dapat membakar kalori, namun juga mengurangi lemak, meningkatkan massa otot tubuh, dan memberi manfaat yang cukup baik secara psikologis.

3.  Modifikasi pola hidup dan perilaku

  Perubahan pola hidup dan perilaku diperlukan untuk mengatur atau memodifikasi pola makan dan aktifitas fisik pada individu dengan overweight dan obese. Dengan demikian diharapkan upaya ini dapat mengatasi hambatan-hambatan terhadap kepatuhan individu pada pola makan sehat dan olahraga. Strategi yang dapat dilakukan adalah pengawasan sendiri terhadap berat badan, asupan makanan dan aktivitas fisik; mengontrol keinginan untuk makan (motivasi keluarga dan lingkungan seringkali diperlukan dalam hal ini); mengubah perilaku makan dengan mengontrol porsi dan jenis makanan yang dikonsumsi; dan dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan.

 

Tahukah Anda kenapa urtikaria Alergi dingin bisa dialami sesorang?

Memang urtika atau gatal-gatal karena dingin bukan masalahn kesehatan yang berat dan berbahaya, sebagaimana berat atau berbahayanya stroke atau serangan jantung, tetapi meskipun begitu bagi sebagian penderita kelainan ini sering merepotkan dan tidak mudah untuk mengatasinya. Berdasarkan laporan penelitian yang berjudul” Cold Urticaria, Immunodeficiency, and Autoimmunity Related to PLCG2Deletions” di NEJM maka salah satu faktor biang keladi terjadinya gejala gatal dan bentol-bentol apabila terkena udara atau cuaca dingin (urtikaria karena dingin) sudah diketemukan. Adalah gen  PLOG2 yang mengalami mutasi”delesi” yang menyebabkan sesorang mudah mengalami urtikaria karena dingin.

Kesejukan

keindahan

Urtika karena dingin merupakan salah satu bentuk kelainan inflamasi yang khas, dicirikan dengan adanya degranulasi sel mas yang dipicu adanya paparan dingin dan kemudian berakhir dengan reaksi anafilaksis. Variasi manifestasi klinik penderita urtika oleh karena alergi dingindipengaruhi oleh banyak faktor antara lain faktor keturunan 9genetik), lama sakit dan kepekaan terhadap dingin.  Sudah lama sel mast diketahui sebagai sel yang bertanggung jawab terhadap adanya reaksi inflamasi akibat paparan dingin tetapi pengetahuan mengapa sel mast pada penderita urtika karena dingin  (alergi dingin) lebih aktif dan mengapa pada kelompok masyarakat normal lainnya sel mastnya kurang begitu reaktif belum diketahui dengan jelas. Dari hasil penelitian ini akhirnya bahwa aktivitas sel mas dikendalikan oleh salah satu gen yaitu gen PLGO2. Wah menarikkan! Anda berminat menyumbang hasil temuan? ayo meneliti agar bisa andil menyumbang ilmu baru. Berita selengkapnya tentang laporan penelitian ini silakan di buka pada www.nejm.com.

admn:Akrom

 

Rabies Bisa di Cegah


Tanggal 28 September diperingati dunia sebagai Hari Rabies Dunia. Indonesia pertama kali memperingati tahun 2009 di Bali. Saat itu, Bali tengah dilanda peningkatan kasus rabies.

Kematian karena rabies pertama kali dilaporkan di Kabupaten Badung pada November 2008. Tahun 2010 dan tahun 2011, peringatan juga dipusatkan di Bali. Hal itu untuk mendukung Pemerintah Provinsi Bali mewujudkan Bali bebas rabies di tahun 2012.

Rabies adalah suatu penyakit menular akut yang Continue reading

Virus Rekayasa Pelawan Sel Kanker Diteliti

SEBUAH virus rekayasa, yang disuntikkan ke dalam darah, secara selektif dapat menargetkan sel-sel kanker di seluruh tubuh, seperti dikutip dari jurnal Nature, Kamis (1/9).

Virus ini bisa menyerang tumor saja dan melewatkan jaringan sehat. Hal itu setidaknya telah terbukti dalam uji coba terhadap 23 pasien. “Kami sangat gembira karena ini adalah pertama kalinya dalam sejarah medis bahwa terapi virus telah terbukti secara konsisten dan selektif mereplikasi jaringan kanker setelah infus intravena pada manusia,” kata John Bell, seorang peneliti utama dan dari Continue reading

Apakah Anda tahu? apa artinya ketonuria?

Pada sebagian masyarakat di dalam urinnya mengandung benda – benda keton, dimana kondisi ini disebut sebagai ketonuria. Pertanda apakah ketonuria itu? kapankah benda-benda keton dalam urin perlu dichek?
Ketonuria menunjukkan bahwa tubuh mengalami perubahan atau gangguan metabolisme. Pada kondisi normal, energi atau kalori dihasilkan dari metabolisme glukosa, namun pada kondisi hipoglikemia, dimana tubuh kekurangan glukosa dari luar atau kondisi starvasi maka energi atau kalori akan diambilkan dari hasil metabolisme nonglukosa misalnya lemak, yang akan menghasilkan metabolit benda-benda keton, seperti aseton, asetoasetat dan asam hidroksibutirat-beta. Pada pasien dengan DM tipe I dimana tubuh tidak mampu menyerap glukosa dari luar juga akan memberikan gambaran positif ketonuria. Kondisi lain yang perlu diwaspadai akan adanya benda keton dalam urin selengkapnya adalah sbb: The testing of urine for the presence of ketonuria is an essential part of diabetes monitoring. Ketone acids include acetoacetic acid anda beta hydroxybutyric acid. Acetoacetic acid spontaneously degrades to form a molecule of acetone and carbon dioxide. The currently available clinical tests only measure acetoacetic acid,yet the levels of beta-hydroxy butyric acid are usually four times that of acetoacetic acid. During hypoxia, severe shock or when there is lactic acidosis, this ratio may be greatly increased and a measure of the acetoacetic acid level may greatly underestimate the actual total level of ketone acids.

Urine should be tested for ketones in the following circumstances:

If vomiting occurs.
Any time the blood glucose is above 15 mmol/L ,especially if the child or adolescent is unwell and especially if the blood glucose has been high for more than 24 hours
If unusually drowsiness is present.
In the presence of high temperature, vomiting or diarrhoea, even when the blood glucose is 15 mmol/L.
In abdominal pain occur.
If breathing is rapid and suggestive of ketoacidosis
If the child or adolescent has flushed checks

Ketonuria is the presence of hyperglycaemia is in indicative of severe insulin deficiency and calls for urgent therapy to prevent progression into ketoacidosis. Ketonuria in the prense of low blood glucose levels is indicative of a starvation state or is the result of a counter-regulatory response to hypoglycaemia.

Kiat mencegah membengkaknya korban gangguan stroke dan jantung

NEJM edisi 13 september 2011 memuat artikel perspektif tentang stroke dan penyakit jantung. Tidak dapat dipungkiri bahwa stroke dan jantung telah menjadi momok yang menakutkan di seantero jagad raya. Stroke dan penyakit jantung telah menjadi penyebab kematian terbesar. Di Amerika, stroke dan penyakit kardiovaskuler diidap lebih dari 2 juta dengan 800.000 atau lebih penderita berakhir dengan kematian. Bagaimana kiat untuk mengerem laju perkembangan kedua penyakit pembunuh ini, baca Berita selengkapnya sebagai berikut:
Perspective
The “Million Hearts” Initiative — Preventing Heart Attacks and Strokes

Thomas R. Frieden, M.D., M.P.H., and Donald M. Berwick, M.D., M.P.P.

September 13, 2011 (10.1056/NEJMp1110421)

Article
References

Each year, more than 2 million Americans have a heart attack or stroke, and more than 800,000 of them die; cardiovascular disease is the leading cause of death in the United States and the largest cause of lower life expectancy among blacks. Related medical costs and productivity losses approach $450 billion annually, and inflation-adjusted direct medical costs are projected to triple over the next two decades if present trends continue.1

To reduce this burden, the Department of Health and Human Services (DHHS), other federal, state, and local government agencies, and a broad range of private-sector partners are today launching a “Million Hearts” initiative to prevent 1 million heart attacks and strokes over the next 5 years by implementing proven, effective, inexpensive interventions (see tableThe Million Hearts Initiative: Principles and Examples of Interventions.).

Cardiovascular prevention works in two realms: the clinic and the community. Clinical and community interventions each contributed about equally to the 50% reduction in U.S. mortality due to heart attacks between 1980 and 2000.2 If used consistently, proven interventions could prevent more than half of heart attacks and strokes. It’s time to take the next big step.

In the clinical realm, Million Hearts will improve management of the “ABCS” — aspirin for high-risk patients, blood-pressure control, cholesterol management, and smoking cessation. As for community-based prevention, the initiative will encourage efforts to reduce smoking, improve nutrition, and reduce blood pressure. It will implement the cardiovascular-disease–prevention priorities of the National Quality and National Prevention Strategies and help in meeting targets set by Healthy People 2020.

Improving management of the ABCS can prevent more deaths than other clinical preventive services.3 Patients reduce their risk of heart attack or stroke by taking aspirin as appropriate. Treating high blood pressure and high cholesterol substantially and quickly reduces mortality among high-risk patients. Even brief smoking-cessation advice from clinicians doubles the likelihood of a successful quit attempt, and the use of medications increases quit rates further.

Currently, less than half of people with ischemic heart disease take daily aspirin or another antiplatelet agent; less than half with hypertension have it adequately controlled; only a third with hyperlipidemia have adequate treatment; and less than a quarter of smokers who try to quit get counseling or medications. As a result, more than 100 million people — half of American adults — smoke or have uncontrolled high blood pressure or cholesterol; many have more than one of these cardiovascular risk factors. Increasing utilization of these simple interventions could save more than 100,000 lives a year.3 Measuring and monitoring can encourage providers to improve preventive care.4

Improving care is particularly critical in light of increases in the prevalence of obesity and diabetes. Obesity and physical activity are currently being addressed by complementary efforts designed to improve understanding, implement pilot or community-based programs, and evaluate outcomes. The First Lady’s “Let’s Move” campaign is a comprehensive initiative with the goal of ending childhood obesity — a precursor to cardiovascular disease — within a generation by fostering environments that support increased physical activity and improved nutrition for children and families. And public and private partners are working to expand the Diabetes Prevention Program, which promotes weight loss, improved nutrition, and increased physical activity among people at highest risk.

The Affordable Care Act (ACA) provides a strong foundation for Million Hearts by increasing coverage and facilitating improved care. It waives patient cost sharing for preventive services, including blood-pressure and cholesterol screening and smoking-cessation counseling and treatment, for enrollees in new private insurance plans. The new annual wellness visit for Medicare beneficiaries will help physicians focus on reducing cardiovascular risk and target interventions appropriately. Eliminating Medicare’s “doughnut hole” in prescription-drug coverage will increase access to blood-pressure, cholesterol-lowering, and smoking-cessation medications. Covering 32 million currently uninsured Americans will reduce financial barriers to preventive care, and expanding community health centers will increase access to care and reduce health disparities. In addition, electronic health records (EHRs) will support improved clinical decision making.

Additional means of increasing control of the ABCS include reducing or eliminating copayments for medications, once-a-day dosing, team-based care approaches, stepwise care management, and new forms of payment and delivery for higher-quality, higher-value, and coordinated care, such as those envisioned for accountable care organizations.

Expanding use of prevention-oriented EHRs will enable providers and health systems to track and improve management of the ABCS. Incorporating core ABCS-related quality measures and decision-support tools into the 2013–2014 criteria for “meaningful use” of information technology and providing technical assistance through quality-improvement organizations in all states, the 62 Health Information Technology Regional Extension Centers (which reach nearly 100,000 primary care doctors), and Beacon Communities will reach more than 100 million patients within the next few years.

Million Hearts will work to standardize core ABCS indicators across medical practices, insurers, institutional providers, and systems in public and nonpublic settings. Standardization will facilitate public reporting and identification and diffusion of best practices and will reduce providers’ burden by streamlining quality measurement and improvement. The initiative will be linked to quality-recognition programs (e.g., the Physician Quality Reporting System and star ratings for Medicare Part D and Medicare Advantage plans) and may eventually support approaches in which providers are paid more for better preventive care.

Community-based prevention works by facilitating healthy choices. Important community-based prevention initiatives include those funded by the American Recovery and Reinvestment Act’s Communities Putting Prevention to Work program and programs supported by the ACA’s Prevention and Public Health Fund, including Community Transformation Grants, initiatives for tobacco control and chronic-disease prevention and control, many National Prevention Strategy initiatives, and state and local actions addressing tobacco use, nutrition, and the linkage between clinical and community-based prevention.

Reductions in smoking, sodium consumption, and trans fat consumption can substantially and rapidly improve cardiovascular health. Warning people about the harms of tobacco use through mass media and other measures, as well as package labeling as enabled by the Family Smoking Prevention and Tobacco Control Act, and creating smoke-free public places and workplaces, as detailed in the National Prevention Strategy and facilitated through ACA-funded community grants, should further reduce smoking rates by discouraging smoking initiation and encouraging cessation.

Reducing sodium intake, another key National Prevention Strategy intervention, reduces risks of hypertension and cardiovascular disease. Because most dietary sodium comes from processed and restaurant foods, it’s difficult for Americans to limit their sodium consumption. Procurement guidelines from the DHHS and the General Services Administration and proposed school-food standards from the Department of Agriculture include a focus on sodium reduction. Menu-labeling requirements in chain restaurants will help people make more informed choices. The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) is increasing public and professional education regarding sodium, and the CDC’s National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) will begin collecting information on sodium consumption.

Consumption of artificial trans fat increases the risk of cardiovascular disease by raising low-density lipoprotein (LDL) cholesterol levels and lowering high-density lipoprotein (HDL) cholesterol levels. Replacing artificial trans fat with heart-healthy oils is feasible and does not increase the cost or change the flavor or texture of foods. Since the Food and Drug Administration began requiring listing of trans fat content on food labels, the industry has voluntarily reformulated foods, and according to CDC data, Americans’ trans fat consumption has decreased by at least half. Elimination of such consumption could prevent 50,000 deaths per year.5

Million Hearts will leverage, focus, and align existing investments and generally not require new public spending. Voluntary initiatives will simplify, harmonize, and automate clinicians’ reporting requirements, decrease administrative burden, improve the quality of prevention and care, and inform the public more fully. Improvements in control of the ABCS, nutrition, and smoking are projected to prevent more than a million heart attacks and strokes over the initiative’s first 5 years. By focusing our initial efforts where they will save the most lives, we aim to make progress toward a health system that will serve Americans’ needs in the 21st century.

Mana yang lebih menguntungkan Rivaroxaban atau Warfarin pada Nonvalvular Atrial Fibrillation

Non valvular atrial fibrilasis merupakan salah satu faktor risiko stroke iskemia dan embolisme pada pembuluh darah. Selama ini warfarin merupakan salah satu obat pilihan untuk pencegahan strok iskemia maupun pembentukan emboli pada pasien dengan fibrilasis termasuk pasien dengan nonvalvular atrial fibrilasis. Hasil Uji klinis untuk membandingkan kemanjuran rivaroxaban dengan warfarin pada nonvalvular atrial fibrilasis telah dilaporkan oleh NEJM.

rivaroxaban

rivaroxaban

faktor risiko cvd

faktior risiko cvd

Original Article

Rivaroxaban versus Warfarin in Nonvalvular Atrial Fibrillation

Manesh R. Patel, M.D., Kenneth W. Mahaffey, M.D., Jyotsna Garg, M.S., Guohua Pan, Ph.D., Daniel E. Singer, M.D., Werner Hacke, M.D., Ph.D., Günter Breithardt, M.D., Jonathan L. Halperin, M.D., Graeme J. Hankey, M.D., Jonathan P. Piccini, M.D., Richard C. Becker, M.D., Christopher C. Nessel, M.D., John F. Paolini, M.D., Ph.D., Scott D. Berkowitz, M.D., Keith A.A. Fox, M.B., Ch.B., Robert M. Califf, M.D., and the ROCKET AF Steering Committee for the ROCKET AF Investigators

N Engl J Med 2011; 365:883-891September 8, 2011

Comments open through September 14, 2011

Abstract
Article
References
Citing Articles (1)
Comments (3)

Background

The use of warfarin reduces the rate of ischemic stroke in patients with atrial fibrillation but requires frequent monitoring and dose adjustment. Rivaroxaban, an oral factor Xa inhibitor, may provide more consistent and predictable anticoagulation than warfarin.

Full Text of Background…

Methods

In a double-blind trial, we randomly assigned 14,264 patients with nonvalvular atrial fibrillation who were at increased risk for stroke to receive either rivaroxaban (at a daily dose of 20 mg) or dose-adjusted warfarin. The per-protocol, as-treated primary analysis was designed to determine whether rivaroxaban was noninferior to warfarin for the primary end point of stroke or systemic embolism.

Full Text of Methods…

Results

In the primary analysis, the primary end point occurred in 188 patients in the rivaroxaban group (1.7% per year) and in 241 in the warfarin group (2.2% per year) (hazard ratio in the rivaroxaban group, 0.79; 95% confidence interval [CI], 0.66 to 0.96; P<0.001 for noninferiority). In the intention-to-treat analysis, the primary end point occurred in 269 patients in the rivaroxaban group (2.1% per year) and in 306 patients in the warfarin group (2.4% per year) (hazard ratio, 0.88; 95% CI, 0.74 to 1.03; P<0.001 for noninferiority; P=0.12 for superiority). Major and nonmajor clinically relevant bleeding occurred in 1475 patients in the rivaroxaban group (14.9% per year) and in 1449 in the warfarin group (14.5% per year) (hazard ratio, 1.03; 95% CI, 0.96 to 1.11; P=0.44), with significant reductions in intracranial hemorrhage (0.5% vs. 0.7%, P=0.02) and fatal bleeding (0.2% vs. 0.5%, P=0.003) in the rivaroxaban group.

Full Text of Results…

Conclusions

In patients with atrial fibrillation, rivaroxaban was noninferior to warfarin for the prevention of stroke or systemic embolism. There was no significant between-group difference in the risk of major bleeding, although intracranial and fatal bleeding occurred less frequently in the rivaroxaban group. (Funded by Johnson & Johnson and Bayer; ROCKET AF ClinicalTrials.gov number, NCT00403767.)

Dipasang stenting atau terapi obat pada stenosis arteri intracranial?

Telah dilakukan penelitian untuk menilai kemanjuran antara operasi angioplasti dan pemasangan stanting dengan terapi obat pada pasien dengan stenosis arteri intracranial. NEJM edisi Minggu I septem ber 2011 telah melaporkan bahwa terapi obat pada pasien dengan stenosis arteri intracranial lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan operasi angioplasti dan pemasangan stenting. Tidak dapat dipungkiri bahwa stenosis arteri intracranial merupakan faktor risiko utama kejadian stroke dan sering berakibat fatal. Makalah selengkapnya silakan baca di:

Original Article

stenosis arteri intracranial

stenosis arteri intracranial

Stenting versus Aggressive Medical Therapy for Intracranial Arterial Stenosis

Marc I. Chimowitz, M.B., Ch.B., Michael J. Lynn, M.S., Colin P. Derdeyn, M.D., Tanya N. Turan, M.D., David Fiorella, M.D., Ph.D., Bethany F. Lane, R.N., L. Scott Janis, Ph.D., Helmi L. Lutsep, M.D., Stanley L. Barnwell, M.D., Ph.D., Michael F. Waters, M.D., Ph.D., Brian L. Hoh, M.D., J. Maurice Hourihane, M.D., Elad I. Levy, M.D., Andrei V. Alexandrov, M.D., Mark R. Harrigan, M.D., David Chiu, M.D., Richard P. Klucznik, M.D., Joni M. Clark, M.D., Cameron G. McDougall, M.D., Mark D. Johnson, M.D., G. Lee Pride, Jr., M.D., Michel T. Torbey, M.D., M.P.H., Osama O. Zaidat, M.D., Zoran Rumboldt, M.D., and Harry J. Cloft, M.D., Ph.D. for the SAMMPRIS Trial Investigators

September 7, 2011 (10.1056/NEJMoa1105335)

Comments open through September 21, 2011

Abstract
Article
References
Comments

Background

Atherosclerotic intracranial arterial stenosis is an important cause of stroke that is increasingly being treated with percutaneous transluminal angioplasty and stenting (PTAS) to prevent recurrent stroke. However, PTAS has not been compared with medical management in a randomized trial.

Full Text of Background…

Methods

We randomly assigned patients who had a recent transient ischemic attack or stroke attributed to stenosis of 70 to 99% of the diameter of a major intracranial artery to aggressive medical management alone or aggressive medical management plus PTAS with the use of the Wingspan stent system. The primary end point was stroke or death within 30 days after enrollment or after a revascularization procedure for the qualifying lesion during the follow-up period or stroke in the territory of the qualifying artery beyond 30 days.

Full Text of Methods…

Results

Enrollment was stopped after 451 patients underwent randomization, because the 30-day rate of stroke or death was 14.7% in the PTAS group (nonfatal stroke, 12.5%; fatal stroke, 2.2%) and 5.8% in the medical-management group (nonfatal stroke, 5.3%; non–stroke-related death, 0.4%) (P=0.002). Beyond 30 days, stroke in the same territory occurred in 13 patients in each group. Currently, the mean duration of follow-up, which is ongoing, is 11.9 months. The probability of the occurrence of a primary end-point event over time differed significantly between the two treatment groups (P=0.009), with 1-year rates of the primary end point of 20.0% in the PTAS group and 12.2% in the medical-management group.