Category Archives: Berita

Suplementasi Probiotik Memperbaiki Gejala Rinitis Alergika pada Anak

Insidens penyakit alergi pada masa kanak-kanak meningkat di seluruh dunia, terutama di negara-negara industri, hal ini kemungkinan disebabkan oleh sistem imun tidak mendapatkan stimulasi yang adekuat pada tahap awal kehidupan. Penyakit alergi dapat menyebabkan ketidakmampuan pada anak-anak, dan dapat menimbulkan penurunan kualitas hidup serta menurunkan efektivitas kerja para orang tua.

Bakteri probiotik dapat memperbaiki keseimbangan mikroba usus, dan dapat mempermudah modulasi respon imun. Terdapat perbedaan komposisi flora usus pada anak-anak yang mengalami alergi dengan yang tidak. Khususnya, jumlah Clostridia dalam flora usus lebih tinggi pada orang yang mengalami alergi, sedangkan jumlah Bifidobacteria lebih rendah.  Terlebih lagi, gaya hidup akhir-akhir ini telah mengubah komposisi mikroflora usus, dengan prevalensi enterobacteria pada Lactobacilli dan Bifidobacteria. Intervensi pada flora usus melalui konsumsi mikrobiota hidup (Lactobacilli), dapat membantu maturasi sistem imun yang tepat, dan menurunkan perkembangan alergi pada masa kanak-kanak.

Dari salah satu hasil review beberapa studi penggunaan Lactobacillus yang dikaitkan dengan gejala rinitis alergika dan asma dilakukan oleh Dr. Betsi GI, dkk, yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of Allergy, Asthma, & Immunology tahun 2008. dalam review tersebut memasukan beberapa studi klinis acak tersamar-gada, dan menunjukkan hasil bahwa; 9 dari 12 RCT yang mengevaluasi manfaat klinis pada rinitis alergika memperlihatkan adanya perbaikan terkait dengan penggunaan probiotik. Seluruh RCT mengenai  rinitis alergika musiman memperlihatkan skor gejala dan penggunaan obat-obatan yang lebih rendah dengan penggunaan probiotik dibandingkan dengan plasebo.5 dari 8 RCT mengenai  rinitis alergika musiman  memperlihatkan adanya perbaikan pada clinical outcomes. RCT yang melaporkan penilaian berbagai parameter imunologik terhadap alergi memperlihatkan tidak adanya efek probiotik yang bermakna.

Probiotik mungkin mempunyai efek yang menguntungkan terhadap rinitis alergika dengan menurunkan tingkat keparahan gejala-gejala yang timbul dan penggunaan obat-obatan. Dibutuhkan lebih banyak studi yang berkualitas baik untuk memecahkan masalah ini.

by : admi pio, lolita

Clopidogrel Dosis Ganda, Memperbaiki Efek Antiplatelet Akibat Penggunaan PPI

Penurunan efektifitas clopidogrel karena pemberian clopidogrel bersamaan dengan PPI dapat diatasi dengan meningkatkan dosis clopidogrel hingga 2 kali lipat, atau menggantikan PPI dengan ranitidine. Kesimpulan ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh dr. Pamela Moceri dan rekan dari MD the Cardiology Department, Pasteur University Hospital of Nice, Nice, Perancis

Clopidogrel telah digunakan secara luas untuk mengatasi kajadian aterotrombotik, baik pada pasien-pasien dengan kejadian kardiovaskular, serebrovaskular, dan penyakit arteri perifer, maupun pada pasien-pasien dengan risiko tinggi kardiovaskular. Dalam penelitian-penelitian seperti CAPRIE, CURE, CLARITY-TIMI serta penelitian lainnya, efektifitas clopidogrel tidaklah diragukan lagi sebagai salah satu anti-platelet andalan yang dapat menurunkan kejadian kardiovaskular. Obat-obat golongan PPI (proton pump inhibitor) seringkali diberikan bersamaan dengan clopidogrel-aspirin untuk mencegah perdarahan lambung. Namun penelitian OCLA (OCLA: Influence of Omeprazole on the Antiplatelet Action of Clopidogrel Associated to Aspirin), memperlihatkan bahwa omeprazole secara bermakna menurunkan kemampuan clopidogrel dalam menghambat trombosit sebagaimana diperlihatkan dari hasil pengujian dengan VASP (vasodilator-stimulated phosphoprotein phosphorylation).

Hasil dari penelitian ini meningkatkan perhatian terhadap interaksi yang mungkin terjadi dan menurunnya efektifitas antiplatelet clopidogrel. Tahun 2009, FDA (Food and Drug Administration) menyampaikan peringatan mengenai pemberian clopidogrel dengan omeprazole bersamaan. Dalam peringatannya tersebut, FDA juga menyatakan bahwa pasien-pasien dengan risiko tinggi serangan jantung dan stroke yang diterapi dengan clopidogrel tidak akan memperoleh manfaat penuh dari clopidogrel bila diberikan bersamaan dengan omeprazole. FDA pada saat itu merekomendasikan perubahan label clopidogrel dengan perigatan baru, yaitu interaksi clopidogrel dengan omeprazole dan obat-obat lain yang menghambat enzim CYP2C19. Pasien yang sedang diterapi menggunakan clopidogrel dan memerlukkan obat-obat yang mengurangi asam lambung direkomendasikan untuk diterapi menggunakan antagonis H2 seperti ranitidine atau famotidine, karena FDA memiliki keyakinan bahwa obat-obat ini tidak berinteraksi dengan clopidogrel. Sedangkan obat-obat yang tidak direkomendasikan pemberiannya bersamaan dengan clopidogrel antara lain adalah seperti cimetidine, fluconazole, ketoconazole, voriconazole, etravirine, felbamate, fluoxetine, fluvoxamine, dan ticlopidine.

Sebuah penelitian dilakukan oleh dr. Pamela Moceri dan rekan dari MD the Cardiology Department, Pasteur University Hospital of Nice, Nice, Perancis, untuk meneliti efek dari esomeprazole dan ranitidine terhadap efek antiplatelet clopidogrel dan aspirin, serta untuk mengetahui, apakah meningkatkan dosis clopidogrel dapat memperbaiki efektifitas anti platelet yang hilang karena esomeprazol.

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian prospektif, acak, silang. Pemeriksaan reaktifitas platelet terhadap aspirin 75 mg dan clopidogrel 150 mg dilakukan dengan/tanpa esomeprazole dan ranitidine dan menggunakan the VerifyNow system. Pemeriksaan dilakukan dalam 4 tahapan yang masing-masing dilakukan selama 7 hari. Tahap 1 : aspirin 160 mg dan clopidogrel 75 mg; Tahap 2 : aspirin 160 mg + clopidogrel 75 mg + esomeprazole 20 mg; Tahap 3 : aspirin 160 mg + clopidogre 150 mg + esmeprazole 20 mg; dan Tahap 4 : aspirin 160 mg + clopidogrel 75 mg + ranitidine 150 mg. Hasil dikumpulkan dalam P2Y12 Reaction Units (PRU%) dan Aspirin Reaction Units (ARU).

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pada 21 pasien dengan penyakit arteri koroner, esomeprazole mengurangi efektifitas clopidogrel dengan penurunan 38.6%±24 PRU (p<0,001) (perbedaan rata-rata absolut -16.7 PRU% [-21;-12.5]), dan meningkatkan kejadian respon rendah terhadap clopidogrel sebesar 8 kali lipat (pasien dengan persebntase PRU <20%). Selain itu diketahui bahwa ternyata peningkatan dosis clopidogrel hingga 2 kali lipat memperbaiki respon platelet terhadap clopidogrel.

Dr. Pamela Moceri dan rekan menyimpulkan bahwa ada interaksi negatif yang kuat antara clopidogrel dengan esomeprazol, yang dapat diatasi dengan meningkatkan dosis clopidogrel hingga 2 kali lipat, atau menggantikan esomeprazole dengan ranitidine. Hal ini merupakan solusi sederhana untuk mengatasi penurunan efek clopidogrel karena PPI.

by ; admin pio, lolita

 

OHO Thiazolidindion, Semakin Terbukti Menyebabkan Fraktur?

Obat OHO golongan thiazolidindion pada pasien diabetes melitus berhubungan dengan peningkatan risiko fraktur tulang terutama fraktur tulang pinggul dan tulang pergelangan tangan.

Sebelumnya, dianggap bahwa pasien dengan diabetes tipe 2 memiliki densitas tulang yang lebih tinggi daripada normal, sehingga risiko kejadian fraktur lebih rendah. Namun ternyata dari penelitian yang dilakukan, diketahui terjadi peningkatan risiko fraktur, terutama pada tempat-tempat yang non-vertebra, dan ini tidak tergantung dari umur, indeks massa tubuh dan densitas tulang pada pasien–pasien diabetes ini, dan diperkirakan kejadian fraktur ini berhubungan dengan komplikasi diabetes, risiko trauma dan terutama; penggunaan obat antidiabetes.

Penelitian terbaru dilakukan oleh dr. Christoph Meier dari Boston University, Massachusetts, Amerika Serikat. Penelitian yang dilakukan adalah:

  • Jumlah    : 1020 pasien dengan diabetes yang:
    • Didiagnosa fraktur oleh dokter umum di Inggris dari tahun 1994 hingga 2005
    • Umur 30-89 tahun
    • Selain itu terlibat 3728 kontrol tandingan
  • Terapi    : Pioglitazone dan rosiglitazone
  • Hasil    :
    • Pasien yang menerima resep thiazolidindion dalam rentang 12 -18 bulan, memiliki risiko fraktur 2,43 kali dibandingkan pasien yang tidak diterapi menggunakan OHO golongan thiazolidindion.
    • Para peneliti mengatakan bahwa terjadi peningkatan risiko fraktur pada pinggul dan tulang-tulang osteoporosis non-vertebra, sehingga jumlah fraktur vertebral dan iga yang terjadi terlalu rendah untuk dihubungkan dengan pemberian thiazolidindion.
    • Peningkatan risiko obat thiazolidindion: pioglitazone dan rosiglitazone tidak berbeda bermakna dalam meningkatkan risiko fraktur, dengan angka kejadian berturut-turut 2,59 dan 2,38 kali, dibandingkan dengan yang tidak diteerapi menggunakan thiazolidindion.
    • Pemberian terapi OHO thiazolidindion dalam jangka waktu pendek tidakh meningkatkan risiko fraktur. Risiko fraktur dengan terapi obat golongan thiazolidindion terlihat terutama pada pasien yang diterapi lebih dari 2 tahun.
    • Para peneliti mengatakan juga bahwa penelitian ini masih perlu dikonfirmasikan dengan penelitian terkontrol tambahan lainnya.

Dalam editorial lainnya, para peneliti juga berpendapat bahwa data-data hasil penelitian ini juga perlu dilihat dari sudut pandang lain, bahwa OHO thiazolidindion, khususnya rosiglitazone dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan OHO thiazolidindion dapat meningkatkan berat badan, berefek samping hepatotoksik, menyebabkan retensi cairan dan gagal jantung kongestif. Disamping itu juga OHO golongan thiazolidindion lebih mahal dan tidak lebih unggul dibandingan OHO lainnya.

Para ahli berpendapat bahwa hingga kini tidak ada konfirmasi dari penelitian-penelitian jangka panjang mengenai superioritas thiazolidindion dibandingkan dengan OHO lainnya dalam menurunkan hasil klinik. Oleh karena itu, OHO yang lebih tua (sulfonylurea generasi ke-2 (dan ke-3) serta metformin diberikan sebagai terapi pilihan pada pasien dengan diabetes melitus tipe 2, di mana metformin tetap menjadi first line therapy.

LKTI PIO UAD Se-JATENG 2012

LKTI (lomba karya tulis ilmiyah) ini di selenggaraka oleh PIO UAD. Lomba Karya Tulis Ilmiah SMA/SMK/MA Se-jateng ini bertujuan untuk mengembangkan obat asli indonesia ( obat tradisional indonesia) sehingga kelak akan mempunyai daya saing dengan obat-obat sintetik serta mengasah kemampuan berpikir dan memberikan kesempatan kepada Generasi Muda untuk mengungkapkan ide maupun gagasan berbagai persoalan aktual dalam bentuk tulisan, yang dapat bermanfaat bagi perkembangan dunia pengobatan dan kesehatan nasional.

Walaupun Lomba ini diselenggarakan di wilayah jawa tengah.

Bagi peserta yang ingin mengirimkan file Karya Tulis Ilmiyah bisa dikirim lewat :
Email : pio_uad@yahoo.com
Pos     : ke sekretariat PIO di kampus 3 UAD
jl. prof. Dr soepomo, Janturan, Yogyakarta 55164
Lantai 2

Untuk pembayaran biaya pendaftaran bisa melalui

  • Diserahkan langsung ke sekretariat PIO UAD/ lewat wessel ke PIO UAD
  • Lewat Rek
    Bank BNI Syariah
    0173766942
    Atas nama : Zainab, M.Si., Apt
  • batas pengiriman naskah 8 september 2012
  • Lomba akan dilaksanakan pada 23 september 2012

Silahkan Untuk Pedoman penulisan dan ketentuan lain bisa di download DISINI

Menjamin keamanan dan kualitas alkes dan obat-obatan diperlukan PMS

NEJM telah mempublikasikan naskah yang berjudul “Postmarketing Surveillance of Medical Devices — Filling in the Gaps”, mari kita simak bersama:

Failures of implantable medical devices, although rare, can carry a substantial risk of serious injury. From 2000 through 2011, more than 150 new high-risk medical devices were approved by the Food and Drug Administration (FDA) through the premarket approval (known as PMA) process, and an additional 600 devices were cleared through the less demanding 510(k) process, in four medical specialty areas (cardiovascular care, neurology, obstetrics and gynecology, and orthopedics; see graphNumbers of High-Risk (Class III) Medical Devices Approved or Cleared by the FDA in Cardiovascular Care, Neurology, Obstetrics and Gynecology, and Orthopedics, 2000–2011.). The problem that Hauser describes (10.1056/NEJMp1114695) — the erosion of the insulation in St. Jude Medical’s Riata leads for implantable cardioverter–defibrillators — highlights the fact that medical devices are complex assemblies of multiple components, and the failure of any single component can lead to unexpected and serious safety problems. Because it is impossible to design an implantable medical device with zero risk of failure, effective systems for monitoring safety after a device is on the market are essential for protecting the public health. Moreover, since incremental changes are made in medical devices throughout their life cycles, it is impractical to prospectively study each change comprehensively before marketing. Balancing the need for robust postmarketing safety monitoring with the need to avoid the stifling of innovation is a prime responsibility of the Center for Devices and Radiological Health (CDRH) at the FDA.

The FDA’s safety-surveillance strategy has relied on physicians, health care institutions, manufacturers, and patients to report medical device failures and complications through the Medical Device Reporting system. This system can identify unanticipated medical device failures and complications but requires extensive analytic review and has important limitations.1 Although the CDRH receives more than 100,000 reports annually, the proportion of medical device failures that are registered is estimated to be less than 0.5%; this low reporting rate greatly limits the information available regarding the balance of risk and health improvement associated with a given medical device.2

Several FDA initiatives have been launched to fill the gaps in the passive event-reporting system. In 2002, the CDRH established the Medical Product Safety Network, which represents more than 300 health care institutions that collaborate to identify and investigate trends in device failures and adverse events. In 2007, the FDA was given the regulatory authority to mandate follow-up safety studies after initial market approval (the Section 522 rule) — a change that improves the agency’s flexibility to investigate potential safety concerns. In 2009, the FDA launched the Sentinel initiative, a program to integrate the electronic health records of large, representative U.S. populations for postmarketing safety analysis. However, despite great success in linking nearly 100 million claims-based health records, Sentinel projects have thus far focused only on medications — at least in part because of the very limited information about medical devices currently available in billing claims data.

In contrast to drugs, medical devices suffer from a major impediment to safety monitoring: the lack of unique device identifiers (UDIs). To address this limitation, the FDA Amendments Act of 2007 authorized the agency to develop a comprehensive UDI system, which is currently under review within the Office of Management and Budget. As a UDI system is integrated with administrative and claims databases, it will become possible to identify patients who have been exposed to specific devices. However, the complex interplay among device design, the procedural safety of implantation, the learning curve associated with medical devices, and the risks to individual patients will continue to make it difficult to conduct effective and reliable safety surveillance using only billing data.

There are important opportunities to leverage large, disease-specific clinical registries for monitoring device safety. In many countries, such registries are a mandatory component of the health care system and required for all implantations of high-risk devices. In the United States, there is no national system to ensure that registries exist for high-risk medical devices. Nevertheless, several nonprofit professional medical organizations in the United States have recognized the critical need for medical device registries and have spearheaded their development in an effort to monitor and improve the quality of care. The American College of Cardiology, in conjunction with several partner organizations, has established detailed clinical registries covering many high-risk cardiovascular devices, including coronary stents, implantable defibrillators, and defibrillator leads, which together contain information on approximately 4 million implantation procedures. The recently developed transcatheter heart-valve registry will provide early postmarketing information about the safety of this revolutionary treatment for patients with high-risk aortic-valve stenosis. Clinical registries in cardiac surgery already exist, and newer efforts by professional societies related to orthopedics, ophthalmology, and other fields are under way.

Perhaps the most successful example of a coordinated effort to study newly introduced devices has been the Interagency Registry for Mechanically Assisted Circulatory Support (INTERMACS), established to capture detailed clinical data on all patients receiving implantable ventricular assist pumps in the United States. Its success is related to the requirement by the Centers for Medicare and Medicaid Services (CMS) that patient information be entered into an audited national registry as a condition of reimbursement. INTERMACS now serves as a ready infrastructure to support the postapproval study of every new generation of mechanical cardiac support device, saving manufacturers substantial time and resources that they would otherwise have to invest in establishing new systems of data collection, auditing, and analysis.3

Creating and maintaining these detailed clinical registries is challenging and expensive. Many registries are supported by voluntary submissions from health care providers, so hospitals must bear the costs of collecting and submitting information. Emerging standards for electronic health records, including “meaningful use” regulations, will provide unprecedented opportunities for securely mapping clinical information to distributed clinical registries.

But having reliable and complete clinical data is not enough. The development of sound methods and practical tools for monitoring safety over a product’s life cycle is essential. We have advocated a strategy of automated prospective surveillance of high-risk implantable devices, using database monitoring tools to support continuous surveillance of clinical registries.4 Such tools are capable of monitoring hundreds of high-risk medical devices simultaneously, to maximize efficiency in detecting unrecognized safety problems. Automated surveillance systems constantly watch a growing database of clinical experience and trigger an alert when the rate of a device failure or complication rises above threshold levels. Automated monitoring tools must incorporate the best available statistical methods to account for the complexity of the surveillance of device safety, including risk differences among patients, effects of physicians’ learning curves, and interactions between the device and medications; they must also balance specificity and sensitivity in the detection of safety signals to permit efficient epidemiologic exploration of such alerts.

The complexity of device-safety surveillance requires the use of complementary approaches in an organized, prospective strategy. A comprehensive national safety surveillance system must include several key elements, beginning with the adoption of the proposed UDI system. We recommend expedited review and finalization of the UDI rule to permit implementation as soon as possible. Next, the FDA, together with the CMS, should require that detailed information regarding the use of high-risk devices and clinical outcomes be submitted to selected national registries operated by independent academic or professional medical organizations. We recommend that the FDA retain full rights of access to the data for additional analysis as needed. Third, the FDA should redirect a portion of the resources currently spent by the medical device industry on underpowered condition-of-approval studies to support the national device-safety registries. Fourth, automated safety-surveillance tools should be applied to device registries to prospectively monitor for the most severe and the most common device failures and complications. Finally, methods for linking information across premarketing studies, the new registries, and existing FDA surveillance systems to provide valid safety estimates require further development.

Complementing existing event-reporting systems with enhanced prospective surveillance of high-quality registries will permit the FDA to efficiently monitor the safety of increasingly complex and widely used medical devices.

Disclosure forms provided by the authors are available with the full text of this article at NEJM.org.

This article (10.1056/NEJMp1114865) was published on February 14, 2012, at NEJM.org.

Source Information

From the Cardiovascular Division, Brigham and Women’s Hospital (F.S.R.); the Department of Health Care Policy, Harvard Medical School (S.-L.T.N.); and the Department of Biostatistics, Harvard School of Public Health (S.-L.T.N.) — all in Boston

FDA merelease obat baru lagi, Vismodegib, obat ca sel basalis metastasis

Vismodegib merupakan obat untuk karsinoma sel basal metastasis atau kanker kulit sel basal fase lanjut yang tidak memungkinkan untu pembedahan atau kekambuhan pasca terapi pembedahan.

Prinsip kerja dari kerja obat baru ini adalah mempengaruhi signaling pada bagian subseluler yang disebut sistem signaling “hedgehog pathway”. Sebagaimana tampak pada gambar

hedgehog pathway

Berita lengkap tentang obat baru ini silakan baca pada paparan berikut:

On January 30, 2012, the U. S. Food and Drug Administration approved vismodegib (ERIVEDGE Capsule, Genentech, Inc.) for the treatment of adults with metastatic basal cell carcinoma or with locally advanced basal cell carcinoma that has recurred following surgery or who are not candidates for surgery, and who are not candidates for radiation.

obat kanker sel basalis

vismodegip

Efficacy was demonstrated in a single-arm, parallel cohort trial enrolling 104 patients. Patients received 150 mg of vismodegib daily. Central pathologic review of archival or baseline tissue confirmed the diagnosis of basal cell carcinoma (BCC) in 96 patients: 33 patients with metastatic basal cell carcinoma (mBCC) and 63 patients with locally advanced basal cell carcinoma (laBCC).

Efficacy was evaluated in these 96 patients with confirmed BCC. The median age of this population was 62 years, 61% were male, and 97% had an ECOG performance status of 0 or 1. Twenty‑one percent of patients carried a diagnosis of Gorlin syndrome. Sixty-six percent had locally advanced disease; 34% had metastatic disease. Among those with mBCC, 97% were previously treated. Prior therapy included surgery (97%), radiotherapy (58%), and systemic therapies (30%). Among laBCC patients, 94% were previously treated. Prior therapies included surgery (89%), radiotherapy (27%), and systemic/topical therapies (11%).

The trial’s primary endpoint was objective response rate (ORR) assessed by an independent review facility. Tumor response criteria for laBCC included assessment of tumor size, the presence or absence of ulceration, and biopsy of local disease sites. The criteria for complete response in localized disease required tumor biopsy (ies) demonstrating no pathologic evidence of BCC. RECIST version 1.0 criteria were used to assess responses in the mBCC population.

The ORRs were 30.3% (95% CI: 15.6, 48.2) and 42.9% (95% CI: 30.5, 56.0) in patients with mBCC and laBCC, respectively. All responses in the mBCC cohort were partial responses. For the 63 evaluable patients with laBCC, 13 (20.6%) patients had complete responses and 14 (22.2%) had partial responses. The median response duration was 7.6 months (95% CI: 5.6, not estimable) and 7.6 months (95% CI: 5.6, 9.7) for patients with mBCC and laBCC, respectively.

Safety was evaluated in 138 patients who received vismodegib as monotherapy for laBCC or mBCC. Adverse reactions occurring in more than 10% of patients were muscle spasms, alopecia, dysgeusia, weight loss, fatigue, nausea, diarrhea, decreased appetite, constipation, arthralgias, vomiting, and ageusia. In clinical trials, a total of 3 of 10 pre-menopausal women developed amenorrhea. Grade 3 adverse reactions occurring in more than 1% of patients were weight loss, fatigue, muscle spasms, and decreased appetite.

Healthcare professionals should verify pregnancy status prior to the initiation of vismodegib, counsel pregnant women on the potential risks to the embryo/fetus, and advise non-pregnant women to use highly effective contraception during treatment with vismodegib and for up to 7 months after the last dose. To avoid exposing an embryo/fetus to vismodegib that may be contained in semen, male patients should use condoms with spermicide during treatment with vismodegib, and for 2 months after the last dose. Healthcare providers should report to Genentech any cases of exposure during pregnancy (either direct exposure in female patients or through seminal fluid from male patients), and should encourage pregnant women to participate in the Erivedge pregnancy pharmacogvigilance program to collect information on pregnancy outcomes.

Vismodegib inhibits the Hedgehog pathway, an important embryonic developmental pathway. Reproductive toxicology studies in rats demonstrated that vismodegib exposure during organogensis results in embryo-fetal death at higher exposures and severe birth defects at exposures within the range achieved with the recommended human dose.

The recommended dose and schedule for vismodegib is 150 mg orally daily. Vismodegib may be taken with or without food.

Full prescribing information, including clinical trial information, safety, dosing, drug-drug interactions and contraindications is available at: http://www.accessdata.fda.gov/drugsatfda_docs/label/2012/203388lbl.pdf[download id=”1″]

Healthcare professionals should report all serious adverse events suspected to be associated with the use of any medicine and device to FDA’s MedWatch Reporting System by completing a form online at http://www.fda.gov/medwatch/report.htm, by faxing (1-800-FDA-0178) or mailing the postage-paid address form provided online, or by telephone (1-800-FDA-1088).

Tahukah Anda kenapa urtikaria Alergi dingin bisa dialami sesorang?

Memang urtika atau gatal-gatal karena dingin bukan masalahn kesehatan yang berat dan berbahaya, sebagaimana berat atau berbahayanya stroke atau serangan jantung, tetapi meskipun begitu bagi sebagian penderita kelainan ini sering merepotkan dan tidak mudah untuk mengatasinya. Berdasarkan laporan penelitian yang berjudul” Cold Urticaria, Immunodeficiency, and Autoimmunity Related to PLCG2Deletions” di NEJM maka salah satu faktor biang keladi terjadinya gejala gatal dan bentol-bentol apabila terkena udara atau cuaca dingin (urtikaria karena dingin) sudah diketemukan. Adalah gen  PLOG2 yang mengalami mutasi”delesi” yang menyebabkan sesorang mudah mengalami urtikaria karena dingin.

Kesejukan

keindahan

Urtika karena dingin merupakan salah satu bentuk kelainan inflamasi yang khas, dicirikan dengan adanya degranulasi sel mas yang dipicu adanya paparan dingin dan kemudian berakhir dengan reaksi anafilaksis. Variasi manifestasi klinik penderita urtika oleh karena alergi dingindipengaruhi oleh banyak faktor antara lain faktor keturunan 9genetik), lama sakit dan kepekaan terhadap dingin.  Sudah lama sel mast diketahui sebagai sel yang bertanggung jawab terhadap adanya reaksi inflamasi akibat paparan dingin tetapi pengetahuan mengapa sel mast pada penderita urtika karena dingin  (alergi dingin) lebih aktif dan mengapa pada kelompok masyarakat normal lainnya sel mastnya kurang begitu reaktif belum diketahui dengan jelas. Dari hasil penelitian ini akhirnya bahwa aktivitas sel mas dikendalikan oleh salah satu gen yaitu gen PLGO2. Wah menarikkan! Anda berminat menyumbang hasil temuan? ayo meneliti agar bisa andil menyumbang ilmu baru. Berita selengkapnya tentang laporan penelitian ini silakan di buka pada www.nejm.com.

admn:Akrom

 

Apakah perlu penanganan kelebihan berat badan di pelayanan primer?

perokok hiperaktif

kegemukan dan perokok sama-sama berbahaya

Obesitas atau kelebihan berat badan telah menjadi perhatian dibidang kesehatan. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa obesitas berhubungan dengan kejadian hipertensi, penyakit DM, gangguan jantung dsb. Salah satu upaya untuk menurunkan kejadian penyakit degeneratif (hipertensi, DM, kardiovaskuler) tersebut adalah mengatasi atau menurunkan obesitas yang terjadi di masyarakat. Masalahnya adalah apakah program penanganan kelebihan berat badan ini layak dilakukan di lembaga pelayanan kesehatan dasar/primer seperti Puskesmas atau praktek dokter umum? Nejm telah melaporkan hasil riset tentang konseling penanganan penderita obesitas oleh dokter umum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling penanganan obesitas oleh dokter umum dapat menurunkan 1/3 kejadian obesitas di masyarakat. Siapa yang akan mencoba program ini? Ingin ceritanya lebih jauh baca di www.nejm.com

Ada kabar menggembirakan!!!!Obat-obat anti ADHD (attention deficit–hyperactivity disorder) atau gangguan hiperaktif tidak menimbulkan efek samping serius gangguan kardiovaskuler

Penggunaan obat anti ADHD (attention deficit–hyperactivity disorder) diduga menimbulkan efek samping berupa gangguan kardiovaskuler, namun penelitian besar di Amerika utara menunjukkan hasil sebaliknya. Hasil penelitian di Amerika utara menunjukkan bahwa kejadian gangguan kardiovaskuler pada pengguna obat ADHD tidak lebih tinggi jika dibanding bukan pengguna. Penelitian kohort prospektif pada 1,200,438 anak, remaja dan dewasa muda, berumur antara 2-24 tahun, dengan pengguna aktif obat antiADHD dalam pengamatan sebanyak 373,667 person-years menunjukkan bahwa penggunaan obat antiADHD tidak meningkatkan risiko  untuk gangguan kardiovaskuler. Gangguan kardiovaskuler yang diamati yaitu sudden cardiac death, acute myocardial infarction, and stroke.

perokok hiperaktif

perokok hiperaktif

Pengguna aktif obat anti ADHD (Current users of ADHD drugs) tidak mengalami kenaikan risiko kejadian gangguan kardiovaskuler berat seperti yang dipradugakan dengan nilai  adjusted hazard ratio, 0.75 pada konfidens interval  95% [CI], sebesar 0.31 to 1.85. Berita ini tentu saja merupakan kabar gembira bagi orang tua atau praktisi klinik yang senantiasa merawat anak-anak dengan gangguan hiperaktivitas yang biasanya sangat tergantung dengan obat-obat ini. Siapa lagi yang akan menjadi pahlawan kesehatan dengan hasil penemuan riset terbarunya yang meringankan saudara-saudara kita yang diuji dengan sakit?