Category Archives: Artikel

Suplementasi Probiotik Memperbaiki Gejala Rinitis Alergika pada Anak

Insidens penyakit alergi pada masa kanak-kanak meningkat di seluruh dunia, terutama di negara-negara industri, hal ini kemungkinan disebabkan oleh sistem imun tidak mendapatkan stimulasi yang adekuat pada tahap awal kehidupan. Penyakit alergi dapat menyebabkan ketidakmampuan pada anak-anak, dan dapat menimbulkan penurunan kualitas hidup serta menurunkan efektivitas kerja para orang tua.

Bakteri probiotik dapat memperbaiki keseimbangan mikroba usus, dan dapat mempermudah modulasi respon imun. Terdapat perbedaan komposisi flora usus pada anak-anak yang mengalami alergi dengan yang tidak. Khususnya, jumlah Clostridia dalam flora usus lebih tinggi pada orang yang mengalami alergi, sedangkan jumlah Bifidobacteria lebih rendah.  Terlebih lagi, gaya hidup akhir-akhir ini telah mengubah komposisi mikroflora usus, dengan prevalensi enterobacteria pada Lactobacilli dan Bifidobacteria. Intervensi pada flora usus melalui konsumsi mikrobiota hidup (Lactobacilli), dapat membantu maturasi sistem imun yang tepat, dan menurunkan perkembangan alergi pada masa kanak-kanak.

Dari salah satu hasil review beberapa studi penggunaan Lactobacillus yang dikaitkan dengan gejala rinitis alergika dan asma dilakukan oleh Dr. Betsi GI, dkk, yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of Allergy, Asthma, & Immunology tahun 2008. dalam review tersebut memasukan beberapa studi klinis acak tersamar-gada, dan menunjukkan hasil bahwa; 9 dari 12 RCT yang mengevaluasi manfaat klinis pada rinitis alergika memperlihatkan adanya perbaikan terkait dengan penggunaan probiotik. Seluruh RCT mengenai  rinitis alergika musiman memperlihatkan skor gejala dan penggunaan obat-obatan yang lebih rendah dengan penggunaan probiotik dibandingkan dengan plasebo.5 dari 8 RCT mengenai  rinitis alergika musiman  memperlihatkan adanya perbaikan pada clinical outcomes. RCT yang melaporkan penilaian berbagai parameter imunologik terhadap alergi memperlihatkan tidak adanya efek probiotik yang bermakna.

Probiotik mungkin mempunyai efek yang menguntungkan terhadap rinitis alergika dengan menurunkan tingkat keparahan gejala-gejala yang timbul dan penggunaan obat-obatan. Dibutuhkan lebih banyak studi yang berkualitas baik untuk memecahkan masalah ini.

by : admi pio, lolita

Clopidogrel Dosis Ganda, Memperbaiki Efek Antiplatelet Akibat Penggunaan PPI

Penurunan efektifitas clopidogrel karena pemberian clopidogrel bersamaan dengan PPI dapat diatasi dengan meningkatkan dosis clopidogrel hingga 2 kali lipat, atau menggantikan PPI dengan ranitidine. Kesimpulan ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh dr. Pamela Moceri dan rekan dari MD the Cardiology Department, Pasteur University Hospital of Nice, Nice, Perancis

Clopidogrel telah digunakan secara luas untuk mengatasi kajadian aterotrombotik, baik pada pasien-pasien dengan kejadian kardiovaskular, serebrovaskular, dan penyakit arteri perifer, maupun pada pasien-pasien dengan risiko tinggi kardiovaskular. Dalam penelitian-penelitian seperti CAPRIE, CURE, CLARITY-TIMI serta penelitian lainnya, efektifitas clopidogrel tidaklah diragukan lagi sebagai salah satu anti-platelet andalan yang dapat menurunkan kejadian kardiovaskular. Obat-obat golongan PPI (proton pump inhibitor) seringkali diberikan bersamaan dengan clopidogrel-aspirin untuk mencegah perdarahan lambung. Namun penelitian OCLA (OCLA: Influence of Omeprazole on the Antiplatelet Action of Clopidogrel Associated to Aspirin), memperlihatkan bahwa omeprazole secara bermakna menurunkan kemampuan clopidogrel dalam menghambat trombosit sebagaimana diperlihatkan dari hasil pengujian dengan VASP (vasodilator-stimulated phosphoprotein phosphorylation).

Hasil dari penelitian ini meningkatkan perhatian terhadap interaksi yang mungkin terjadi dan menurunnya efektifitas antiplatelet clopidogrel. Tahun 2009, FDA (Food and Drug Administration) menyampaikan peringatan mengenai pemberian clopidogrel dengan omeprazole bersamaan. Dalam peringatannya tersebut, FDA juga menyatakan bahwa pasien-pasien dengan risiko tinggi serangan jantung dan stroke yang diterapi dengan clopidogrel tidak akan memperoleh manfaat penuh dari clopidogrel bila diberikan bersamaan dengan omeprazole. FDA pada saat itu merekomendasikan perubahan label clopidogrel dengan perigatan baru, yaitu interaksi clopidogrel dengan omeprazole dan obat-obat lain yang menghambat enzim CYP2C19. Pasien yang sedang diterapi menggunakan clopidogrel dan memerlukkan obat-obat yang mengurangi asam lambung direkomendasikan untuk diterapi menggunakan antagonis H2 seperti ranitidine atau famotidine, karena FDA memiliki keyakinan bahwa obat-obat ini tidak berinteraksi dengan clopidogrel. Sedangkan obat-obat yang tidak direkomendasikan pemberiannya bersamaan dengan clopidogrel antara lain adalah seperti cimetidine, fluconazole, ketoconazole, voriconazole, etravirine, felbamate, fluoxetine, fluvoxamine, dan ticlopidine.

Sebuah penelitian dilakukan oleh dr. Pamela Moceri dan rekan dari MD the Cardiology Department, Pasteur University Hospital of Nice, Nice, Perancis, untuk meneliti efek dari esomeprazole dan ranitidine terhadap efek antiplatelet clopidogrel dan aspirin, serta untuk mengetahui, apakah meningkatkan dosis clopidogrel dapat memperbaiki efektifitas anti platelet yang hilang karena esomeprazol.

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian prospektif, acak, silang. Pemeriksaan reaktifitas platelet terhadap aspirin 75 mg dan clopidogrel 150 mg dilakukan dengan/tanpa esomeprazole dan ranitidine dan menggunakan the VerifyNow system. Pemeriksaan dilakukan dalam 4 tahapan yang masing-masing dilakukan selama 7 hari. Tahap 1 : aspirin 160 mg dan clopidogrel 75 mg; Tahap 2 : aspirin 160 mg + clopidogrel 75 mg + esomeprazole 20 mg; Tahap 3 : aspirin 160 mg + clopidogre 150 mg + esmeprazole 20 mg; dan Tahap 4 : aspirin 160 mg + clopidogrel 75 mg + ranitidine 150 mg. Hasil dikumpulkan dalam P2Y12 Reaction Units (PRU%) dan Aspirin Reaction Units (ARU).

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pada 21 pasien dengan penyakit arteri koroner, esomeprazole mengurangi efektifitas clopidogrel dengan penurunan 38.6%±24 PRU (p<0,001) (perbedaan rata-rata absolut -16.7 PRU% [-21;-12.5]), dan meningkatkan kejadian respon rendah terhadap clopidogrel sebesar 8 kali lipat (pasien dengan persebntase PRU <20%). Selain itu diketahui bahwa ternyata peningkatan dosis clopidogrel hingga 2 kali lipat memperbaiki respon platelet terhadap clopidogrel.

Dr. Pamela Moceri dan rekan menyimpulkan bahwa ada interaksi negatif yang kuat antara clopidogrel dengan esomeprazol, yang dapat diatasi dengan meningkatkan dosis clopidogrel hingga 2 kali lipat, atau menggantikan esomeprazole dengan ranitidine. Hal ini merupakan solusi sederhana untuk mengatasi penurunan efek clopidogrel karena PPI.

by ; admin pio, lolita

 

OHO Thiazolidindion, Semakin Terbukti Menyebabkan Fraktur?

Obat OHO golongan thiazolidindion pada pasien diabetes melitus berhubungan dengan peningkatan risiko fraktur tulang terutama fraktur tulang pinggul dan tulang pergelangan tangan.

Sebelumnya, dianggap bahwa pasien dengan diabetes tipe 2 memiliki densitas tulang yang lebih tinggi daripada normal, sehingga risiko kejadian fraktur lebih rendah. Namun ternyata dari penelitian yang dilakukan, diketahui terjadi peningkatan risiko fraktur, terutama pada tempat-tempat yang non-vertebra, dan ini tidak tergantung dari umur, indeks massa tubuh dan densitas tulang pada pasien–pasien diabetes ini, dan diperkirakan kejadian fraktur ini berhubungan dengan komplikasi diabetes, risiko trauma dan terutama; penggunaan obat antidiabetes.

Penelitian terbaru dilakukan oleh dr. Christoph Meier dari Boston University, Massachusetts, Amerika Serikat. Penelitian yang dilakukan adalah:

  • Jumlah    : 1020 pasien dengan diabetes yang:
    • Didiagnosa fraktur oleh dokter umum di Inggris dari tahun 1994 hingga 2005
    • Umur 30-89 tahun
    • Selain itu terlibat 3728 kontrol tandingan
  • Terapi    : Pioglitazone dan rosiglitazone
  • Hasil    :
    • Pasien yang menerima resep thiazolidindion dalam rentang 12 -18 bulan, memiliki risiko fraktur 2,43 kali dibandingkan pasien yang tidak diterapi menggunakan OHO golongan thiazolidindion.
    • Para peneliti mengatakan bahwa terjadi peningkatan risiko fraktur pada pinggul dan tulang-tulang osteoporosis non-vertebra, sehingga jumlah fraktur vertebral dan iga yang terjadi terlalu rendah untuk dihubungkan dengan pemberian thiazolidindion.
    • Peningkatan risiko obat thiazolidindion: pioglitazone dan rosiglitazone tidak berbeda bermakna dalam meningkatkan risiko fraktur, dengan angka kejadian berturut-turut 2,59 dan 2,38 kali, dibandingkan dengan yang tidak diteerapi menggunakan thiazolidindion.
    • Pemberian terapi OHO thiazolidindion dalam jangka waktu pendek tidakh meningkatkan risiko fraktur. Risiko fraktur dengan terapi obat golongan thiazolidindion terlihat terutama pada pasien yang diterapi lebih dari 2 tahun.
    • Para peneliti mengatakan juga bahwa penelitian ini masih perlu dikonfirmasikan dengan penelitian terkontrol tambahan lainnya.

Dalam editorial lainnya, para peneliti juga berpendapat bahwa data-data hasil penelitian ini juga perlu dilihat dari sudut pandang lain, bahwa OHO thiazolidindion, khususnya rosiglitazone dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan OHO thiazolidindion dapat meningkatkan berat badan, berefek samping hepatotoksik, menyebabkan retensi cairan dan gagal jantung kongestif. Disamping itu juga OHO golongan thiazolidindion lebih mahal dan tidak lebih unggul dibandingan OHO lainnya.

Para ahli berpendapat bahwa hingga kini tidak ada konfirmasi dari penelitian-penelitian jangka panjang mengenai superioritas thiazolidindion dibandingkan dengan OHO lainnya dalam menurunkan hasil klinik. Oleh karena itu, OHO yang lebih tua (sulfonylurea generasi ke-2 (dan ke-3) serta metformin diberikan sebagai terapi pilihan pada pasien dengan diabetes melitus tipe 2, di mana metformin tetap menjadi first line therapy.

Aspartam Dalam Minuman Berenergi

 

Aspartam merupakan pemanis buatan yang diizinkan penggunaannya dalam batas tertentu. Menurut ketentuan Surat Keputusan Kepala Badan POM No. H.K.00.05.5.1.4547 tentang Persyaratan Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pemanis Buatan dalam Produk Pangan, maka aspartam dapat digunakan secara aman dan tidak bermasalah bila sesuai takaran yang diperbolehkan. Untuk kategori pangan minuman berkarbonasi dan non karbonasi, batas maksimum penggunaan Aspartam adalah 600 mg/kg.

Kandungan aspartam pada produk minuman berenergi yang disebutkan pada pesan singkat/SMS tersebut, jika produk tersebut sudah terdaftar di Badan POM (cek nomor registrasi pada kemasannya), berarti sudah melalui proses evaluasi terhadap aspek keamanan, manfaat, dan mutunya, berarti kandungan aspartamnya sesuai dengan kadar yang diizinkan. Yang kemudian akan menjadi masalah adalah bila seseorang mengkonsumsi produk yang mengandung aspartam secara berlebihan sehingga jika diakumulasi dapat melebihi kadar asupan harian yang dapat diterima tubuh (acceptable daily intake/ADI).  Nilai ADI Aspartam adalah 50 mg/kg berat badan. Jadi sebaiknya kita tidak mengkonsumsi produk secara berlebihan.

Di dalam tubuh, Aspartam dipecah menjadi tiga macam senyawa, yaitu metanol, asam aspartat, dan fenilalanin. Meskipun metanol bersifat toksik bagi tubuh, berdasarkan penelitian diketahui bahwa konsumsi produk yang mengandung Aspartam tidak mencapai tingkat toksik metanol. Kesimpulan yang sama juga berlaku bagi asam aspartat. Namun demikian, sejumlah kecil fenilalanin dapat menyebabkan kerusakan otak berat pada individu yang menderita kelainan genetik fenilketonuria (Phenylketouria/PKU). Jadi sebaiknya produk yang mengandung Aspartam dihindarkan bagi penderita kelainan tersebut.

Neurotoksisitas aspartam bergantung pada peningkatan kadar aspartam di dalam darah, dan peningkatan kadar tersebut bergantung pada usia dan individu yang mengalami dan beresiko PKU (Stegink, 1979). Stegink (1979) menunjukkan bahwa menelan 100-200 mg/kg aspartam oleh orang dewasa maupun bayi, menghasilkan rata-rata konsentrasi plasma puncak sebesar 49 µmol fenilalanin/100 mL darah pada menit ke 45-90 setelah dicerna.  Kadar ini masih di bawah dosis toksik. Baik AMA (American Medical Association, 1986) dan AAP (American Academy of Pediatrics, 1985) menyatakan bahwa aspartam aman digunakan untuk orang yang tidak mengidap PKU dan aman untuk janin pada kadar yang telah ditentukan. American Diabetes Association (ADA) menyetujui bahwa aspartam aman digunakan.

sumber : http://ik.pom.go.id

Simvastatin Side Effects: Diabetes & What Else

The Food and Drug Administration upset the applecart when it announced that statin-type cholesterol-lowering medications like simvastatin (Zocor) could raise blood sugar levels and increase the risk for diabetes. Millions of people with elevated cholesterol are trying desperately to reduce their likelihood of having a heart attack or a stroke. The last thing they need is to have their blood sugar go up, since that can increase the risk of the very complications people are trying to avoid (heart attacks and strokes, not to mention kidney damage, nerve pain and eye problems).

The FDA has worded its warning cautiously:

“A small increased risk of raised blood sugar levels and the development of Type 2 diabetes have been reported with the use of statins.”

We are not so sure this is such a “small increased risk.” Eric Topol, MD, seems to agree with us. He is one of the country’s leading cardiologists. In an op-ed article published in the New York Times (March 4, 2012) titled, “The Diabetic Dilemma for Statin Users,” Dr. Topol points out that the way the data were analyzed could be misleading. The FDA lumped relatively “weak” statins together with more potent statins like atorvastatin (Lipitor), rosuvastatin (Crestor) and simvastatin (Zocor). With this data manipulation the FDA diluted the impact of potent statins on blood sugar increases. According to Dr. Topol, the stronger the statin and the higher the dose the greater the likelihood of diabetes. He states:

“More than 20 million Americans take statins. That would equate to 100,000 new statin-induced diabetics. Not a good thing for the public health and certainly not good for the individual affected with a new serious chronic illness.”

http://tinyurl.com/79raddj

Amidst the statistics we tend to forget that individuals are affected. We have heard from many people who have had significant problems with blood sugar control while taking a statin-type drug. The first case came to our attention almost ten years ago. A husband and wife taking Lipitor had increasing trouble controlling their glucose levels. Why did it take the FDA so long to figure this out?

What other side effects should we be paying more attention to when it comes to statin-type drugs:

• Altoprev (lovastatin extended-release)
• Crestor (rosuvastatin)
• Lescol (fluvastatin)
• Lipitor (atorvastatin)
• Livalo (pitavastatin)
• Mevacor (lovastatin)
• Pravachol (pravastatin)
• Zocor (simvastatin).

Products containing statins in combination with other drugs include:

• Advicor (lovastatin/niacin extended-release)
• Simcor (simvastatin/niacin extended-release)
• Vytorin (simvastatin/ezetimibe).

Potential adverse reactions patients and their families should be aware of include:

• Muscle pain or spasms (any where in the body, including legs, shoulders, back, arms or neck)
• Arthritis
• Blood sugar elevation
• Memory problems, cognitive dysfunction, confusion, amnesia
• Nerve pain, peripheral ne
uropathy, leg cramps
• Digestive upset, nausea, constipation, diarrhea, flatulence
• Headache
• Insomnia
• Urinary tract infections
• Skin reactions, hives
• Pancreatitis
• Sexual problems, erectile dysfunction,

What we do not know is how common some of these side effects may be. Until recently the FDA assumed that memory problems and blood sugar elevation were so rare as to be almost forgettable. The recent alert changes that equation. How common are sexual problems with statins? No one really knows. What about arthritis, nerve pain or peripheral neuropathy? Again we are clueless.

We recognize that some people really do need these medications to prevent a heart attack or a stroke. The data suggest that people who have clearly diagnosed heart disease can benefit. Those who have had one heart attack can reduce the risk of a second by taking a statin. And many individuals never suffer any side effects. Good for them. They are fortunate.

Others are not so lucky. We don’t know what the true incidence of some of the so-called minor side effects really is. That’s why we need your help. Please let us know how you or someone you love has fared on a statin-type drug. You can comment below. Thanks for letting us know about your experience. And one more thing…no one should stop a statin without consulting the prescriber. We do not want anyone to go from the frying pan into the fire. Your doctor needs to know about how you are doing on any medication, especially a statin!

6 Langkah Mendapatkan Tidur Berkualitas

 


Para Ahli tidur mengatakan bahwa tidur yang lelap tidak akan berhasil kita dapatkan, jika hanya memperbaiki sebagian perilaku.

Kita harus secara konsisten melakukan tip berikut ini, selama 6 minggu berturut-turut, untuk meningkatkan kualitas tidur.

 

 

1. Tidur secara rutin.

Tubuh sangat tergantung pada jadwal tidur yang regular. Jadi, cobalah untuk tidur dan bangun di saat yang sama setiap hari. Hal ini berarti kita tidak boleh membiarkan diri tidur hingga siang hari di akhir minggu atau saat libur.

Jika Anda tak bisa tidur cepat malam hari, tak perlu memaksa. Bangkit dari tempat tidur, dan beraktivitaslah di ruang lain. Pilih aktivitas yang tenang, seperti mendengarkan musik atau membaca, namun jangan membiarkan diri Anda tertidur ketika melakukan aktivitas itu. Kembalilah ke kamar tidur ketika Anda mengantuk. Lakukanlah hal ini setiap hari, sesuai kebutuhan Anda.

 

 

2. Berpakaian nyaman untuk tidur.

Kenakan baju tidur yang membuat Anda tidak merasa nyaman. Suhu tubuh kita cenderung turun menjelang tidur, namun akan kembali meningkat di tengah malam, dan kembali turun menjelang kita terbangun. Karenanya, pilihlah jenis baju tidur yang dapat membuat Anda bertahan melalui perubahan suhu tubuh ini. Kenakan selapis baju tidur di saat musim kemarau, dan sediakan selimut saat musim hujan.

3. Perhatikan kondisi kasur.

Tubuh membutuhkan kenyamanan saat tidur. Jadi, ganti segera kasur Anda jika tak dapat lagi menopang tubuh saat tidur.

Continue reading

penyakit obesitas

Overweight dan Obesitas sebagai suatu resiko penyakit degeneratif PDF Cetak E-mail
Jumat, 15 April 2011 10:27

Overweight dan Obesitas adalah suatu kondisi kronik yang sangat erat hubungannya dengan peningkatan resiko sejumlah penyakit Degeneratif. Penyakit Degeneratif adalah suatu kondisi penyakit yang muncul akibat proses kemunduran fungsi sel-sel tubuh yaitu dari keadaan normal menjadi lebih buruk dan berlangsung secara kronis. Penyakit yang termasuk dalam kelompok ini adalah Diabetes Melitus Type II, Stroke, Hipertensi, Penyakit Kardiovaskular, Dislipidemia, dsb. Penyakit Degeneratif yang paling sering menyertai Obesitas adalah Diabetes melitus Type II, Hipertensi dan Hiperkolesterolemia (Dislipidemia). Sebuah data dari NHANES (National Health and Nutrition Examination Survey, US) tahun 1994 memperlihatkan bahwa dua per tiga pasien Overweight dan Obesitas dewasa mengidap paling sedikit satu dari penyakit kronis tersebut dan sebanyak 27 % dari mereka mengidap dua atau lebih penyakit.

 

 Overweight dan Obesitas saat ini sudah menjadi suatu masalah global yang serius. Data yang dikumpulkan dari seluruh dunia memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan prevalensi Overweight dan Obesitas pada 10 sampai 15 tahun terakhir dengan angka kejadian terbanyak di Amerika. Saat ini diperkirakan sebanyak lebih dari 100 juta penduduk di seluruh dunia menderita Obesitas, dan angka ini masih akan terus meningkat. Diperkirakan apabila keadaan ini terus berlanjut maka pada tahun 2230 sebanyak 100 % penduduk Amerika Serikat akan menjadi Obese. Bagaimana dengan kondisi di Indonesia ? Menurut data yang diperoleh dari Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes tahun 1997, sebanyak 12,8 % pria dewasa mengalami Overweight dan sebanyak 2,5 % mengalami Obesitas. Sedangkan pada wanita angka ini menjadi lebih besar lagi yaitu 20 % dan 5,9 %. 

 

 Perkiraan prevalensi overweight dan obesitas di Indonesia (Dit BGM DepKes, 1997)

   Dari perkiraan 210 juta penduduk Indonesia thn 2000 jumlah penduduk yang overweight diperkirakan mencapai 76.7 juta (17.5%) dan pasien obesitas berjumlah lebih dari 9.8 juta (4.7%). Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa Overweight dan Obesitas di Indonesia telah menjadi masalah besar yang memerlukan penanganan secara serius.

 Indeks Massa Tubuh (IMT) Sebagai Alat Ukur Overweight & Obesitas

          Overweight dan Obesitas merupakan suatu akumulasi lemak berlebih di dalam tubuh yang dapat mengganggu kesehatan secara keseluruhan. Overweight dan Obesitas terjadi disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang keluar. Metoda paling praktis dan sederhana dalam menentukan tingkat Overweight dan Obesitas pada seseorang adalah Indeks Massa Tubuh (IMT)/Body Mass Index. IMT diperoleh dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat dari tinggi badan (meter). Nilai IMT yang didapat tidak dipengaruhi oleh umur dan jenis kelamin.


Klasifikasi IMT menurut World Health Organization (WHO) tahun 1998 mendefinisikan Overweight apabila diperoleh IMT ≥ 25 dan Obesitas apabila IMT ≥ 30. IMT ini bermanfaat dalam menentukan seberapa besar seseorang dapat terkena resiko penyakit-penyakit tertentu yang disebabkan karena berat badannya.

Resiko Penyakit Degeneratif pada Overweight & Obesitas

          Meningkatnya angka Overweight dan Obesitas secara global di seluruh dunia saat ini dianggap sebagai akibat dari beberapa faktor, antara lain peningkatan dalam konsumsi makanan padat energi tinggi lemak dan gula namun rendah dalam kandungan vitamin, mineral dan mikronutrien lain. Selain itu juga diakibatkan adanya suatu trend penurunan aktivitas fisik yang disebabkan oleh gaya hidup (sedentary), pekerjaan, perubahan model transportasi dan peningkatan urbanisasi. Overweight dan Obesitas yang dibiarkan memiliki dampak kesehatan yang cukup serius. Resiko menderita penyakit degeneratif akan meningkat secara progresif seiring dengan peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT yang meningkat merupakan faktor resiko utama penyakit-penyakit kronis seperti Kardiovaskular (penyakit Jantung dan Stroke), Diabetes (yang saat ini sudah menjadi epidemi global), gangguan otot dan tulang (paling sering adalah Osteoarthritis) dan beberapa penyakit keganasan. Pada anak, angka Obesitas juga semakin meningkat dari tahun ke tahun baik di negara maju maupun di negara sedang berkembang. Disamping itu Obesitas pada anak beresiko tinggi menjadi Obesitas pada usia dewasa dan berpotensi menimbulkan penyakit Degeneratif di kemudian hari.

           Beberapa studi epidemiologis yang telah dilakukan mengemukakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara angka kejadian mortalitas (kematian) dan Obesitas. Diketahui terdapat peningkatan angka kematian yang dimulai pada IMT diatas 25 dan semakin jelas pada individu dengan IMT diatas atau sama dengan 30. Angka mortalitas pada individu dengan IMT diatas 30 penyebabnya bervariasi namun yang terbanyak adalah angka mortalitas yang disebabkan oleh penyakit Kardiovaskular. Penelitian yang dilakukan oleh Framingham Heart Study di Amerika menemukan adanya korelasi antara tekanan darah dan obesitas. Disebutkan pada studi tersebut bahwa pada individu dewasa muda dengan obesitas akan mengalami peningkatan tekanan darah sebanyak 10 kali lebih besar daripada individu dengan berat badan normal. 

  Strategi Pencegahan Overweight dan Obesitas

          Overweight dan Obesitas merupakan suatu kondisi dengan penyebab multi faktor, oleh karena itu penanganan yang tepat hendaknya mempertimbangkan pendekatan secara multi disiplin. Pencegahan Overweight dan Obesitas terdiri dari tiga tahapan yaitu Pencegahan primer, sekunder dan tertier. Pencegahan Primer adalah dengan pendekatan komunitas untuk mempromosikan cara hidup sehat. Usaha pencegahan dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja dan pusat kesehatan masyarakat. Pencegahan sekunder bertujuan untuk menurunkan prevalensi Obesitas sedangkan pencegahan tertier bertujuan untuk mengurangi Obesitas dan komplikasi penyakit yang ditimbulkannya.

           Pada dasarnya prinsip dari pencegahan dan penatalaksanaan Overweight dan Obesitas adalah mengurangi asupan energi serta meningkatkan keluaran energi, dengan cara pengaturan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, modifikasi gaya hidup serta dukungan secara mental dan sosial.

 1. Pengaturan nutrisi dan pola makan

  Tujuan utama pengaturan nutrisi pada individu dengan overweight dan obesitas tidak hanya sekedar menurunkan berat badan, namun juga mempertahankan berat badan agar tetap stabil dan mencegah peningkatan kembali berat badan yang telah didapat. Konsumsilah sedikit lemak (30 % dari jumlah keseluruhan kalori yang dikonsumsi). Kurangi konsumsi makanan tinggi karbohidrat dan lemak, perbanyak konsumsi serat. Upayakan tetap memilih makanan dan minuman secara berhati-hati agar tetap dapat mengontrol kalori, lemak, gula dan garam yang dikonsumsi.Konsumsi makanan yang dilakukan harus tetap dapat memenuhi kecukupan gizi. Ini berarti vitamin dan mineral harus terdapat dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan.

 2. Perbanyak aktivitas fisik

  Olahraga dan aktivitas fisik memberi manfaat yang sangat besar dalam penatalaksanaan overweight dan obesitas. Olahraga akan memberikan serangkaian perubahan baik fisik maupun psikologis yang sangat bermanfaat dalam mengendalikan berat badan. Contoh yang paling jelas adalah sebagai berikut,  jika kita melakukan aktivitas lari selama 1 jam penuh kegiatan ini akan membakar 600 kalori setara dengan kalori yang dihasilkan jika kita mengkonsumsi satu buah hamburger fast food. Olahraga yang dilakukan secara konsisten dan teratur tidak hanya dapat membakar kalori, namun juga mengurangi lemak, meningkatkan massa otot tubuh, dan memberi manfaat yang cukup baik secara psikologis.

3.  Modifikasi pola hidup dan perilaku

  Perubahan pola hidup dan perilaku diperlukan untuk mengatur atau memodifikasi pola makan dan aktifitas fisik pada individu dengan overweight dan obese. Dengan demikian diharapkan upaya ini dapat mengatasi hambatan-hambatan terhadap kepatuhan individu pada pola makan sehat dan olahraga. Strategi yang dapat dilakukan adalah pengawasan sendiri terhadap berat badan, asupan makanan dan aktivitas fisik; mengontrol keinginan untuk makan (motivasi keluarga dan lingkungan seringkali diperlukan dalam hal ini); mengubah perilaku makan dengan mengontrol porsi dan jenis makanan yang dikonsumsi; dan dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan.

 

Kosmetik Aman Pada Ibu Hamil

Bagaimana tips menggunakan kosmetik selama hamil?

  • Konsultasikan apakah bahan yang dipakai aman untuk ibu hamil, tidak disarankan untuk facial dengan kosmetik yang mengandung bahan kimia seperti AHA, formaldehyde acid, glicolic acid dsb karena berbahaya bagi janin.
  • Bersihkan sisa kosmetik sebelum idur dan gunakanlah pelembab serta tabir surya sebelum beraktivitas di bawah sinar matahari. Krim khusus, minyak zaitun atau baby oil dapat mengurangi rasa gatal atau guratan kecoklatan akibat perut yang membesar.

Sekarang adalah saatnya membuat beberapa perubahan kulit dan kosmetik pilihan. Kendati masih sedikit penelitian mengenai ini, tetapi ada beberapa bahan yang biasanya ditemukan dalam produk perawatan kulit dan kosmetik yang diduga dapat mengganggu perkembangan janin. Oleh karenanya berhati-hatilah sebelum menggunakannya.

Bahan kosmetik apa saja yang berbahaya bagi ibu hamil?

Beberapa jenis kosmetika dari bahan sintesis harus diwaspadai karen adapat melewati plasenta dan masuk ke otak janin sehingga mengganggu perkembangan janin. Berikut ini kandungan zat dalam kosmetika yang harus anda hindari ketika sedang hamil:

  • Benzoil peroksida, ditemukan dalam banyak produk yang digunakan untuk mengobati jerawat, termasuk kategori C yang sebaiknya dihindari.
  • Salicylic acid (BHA atau beta hydroxxy acid), bahan ini ditemukan dalam produk yang digunakan untuk antipenuaan (antiaging) dan mengobati jerawat.
  • Retinol A, merupakan bentuk vitamin A yang digunakan mengobati jerawat dan pengelupasan kulit mati. Dosis tinggi vitamin A terbukti dapat mengganggu perkembangan bayi.
  • Parabéns, yaitu pengawet yang sangat umum digunakan banyak produk perawatan kulit. Penelitian klinis menunjukkan adanya hubungan bahan ini dengan efek buruk pada sistem reproduksi bayi laki-laki.
  • Assutane, obat jerawat ini beresiko menyebabkan janin lahir cacat yang serius dan kemungkinan keguguran.
  • Hidrokortison, krip topical ini mengakibatkan janin lahir cacat dan janin keracunan.
  • 1,4 Dioksana, Ini merupakan bahan bahaya yang tercantum pada setiap produk perawatan kulit karena merupakan bahan sintesis lain berbasis minyak bumi. Bahan ini hadir dalam banyak jenis produk rambut dan pelembab. Bahan ini dapat menyebabkan kanker dan pengaruh efek pada perkembangan janin.
  • Cream Hair Removers, kemungkinan bahan ini dapat diserap ke dalam kulit sehingga harus dihindari selama kehamilan.

Smoga pengetahuan tersebut dapat lebih membimbing para calon ibu  untuk menjaga keselamatan ibu sendiri dan anak dalam kandungan. Bukankah ALLAH itu indah dan menyukai keindahan (hadist). Maka perhatikanlah penampilan anda, meskipun beban anda bertambah dan sangat menguras tenaga. Tetaplah tampil cantik seperti sebelum dan awal anda bertemu dengan suami anda. Indahkanlah pandangan anda, sehingga orang lainpun akan meng-indahkan anda pada penghormatan mereka pada anda

Waspada Bahaya di Balik Krim Pemutih

Siapa perempuan yang tak bangga memiliki kulit putih berseri tanpa noda spot coklat atau kehitaman di wajah? Tidak ada. Bahkan yang berkulit gelap dari ‘sononya’ ingin tampak lebih putih. How come?

Bahkan iklan produk pemutih wara-wiri di televisi, belum lagi di media cetak. Anda tahu, dari dua produk pelembab yang terjual, salah satunya adalah produk pemutih kulit.

Apapun rela dilakukan perempuan untuk tampil lebih cantik dengan kulit putih cling. Bahkan harga bukan masalah, sekalipun harus mengeringkan tabungan bertahun-tahun! Putih sudah menjadi obsesi, yang tak jarang membuat kita lupa diri, tak waspada terhadap produk krim pemutih yang beredar di pasaran.

Mendapatkan kulit putih, atau tepatnya lebih cerah, tidak bisa dengan cara instan. Jika Anda menemukan putih dengan cara instan, katakan dalam hitungan minggu, patut dicurigai ada sesuatu di balik itu.

Secara umum terdapat berbagai jenis krim pemutih di pasaran. Krim-krim ‘ampuh’ ini umumnya mengandung berbagai jenis zat aktif seperti hidrokuinon, monobenzil dan monometil hidrokuinon, raksa, asam askorbat dan peroksida.

Namanya juga bahan kimia, selalu ada efek sampingnya jika tak digunakan sesuai takaran yang disarankan. Krim yang mengandung bahan aktif hidrokuinon amat mengesankan sekali cara kerjanya dalammembasmi spot hitam atau warna yang tidak merata pada kulit, meski hasilnya berbeda pada setiap individu.

Dalam suatu kajian yang telah dijalankan di Amerika Syarikat (Arndt dan Fitzpatrick, 1965), krim yang mengandungi 2% dan 5% hidrokuinon telah diuji ke atas 56 subjek yang mempunyai masalah spot kehitaman pada kulit. Menariknya, 12% dari jumlah subjek kajian adalah penduduk berketurunan kulit hitam. Mereka ini menggunakan krim mengandung hidrokuinon dua kali sehari selama tiga bulan.
Hasilnya menakjubkan. Krim mengandung hidrokuinon dapat menghilangkan spot hitam pada 44 orang yang mengikuti penelitian dari jumlah 56 responden.

Pemakaian hidrokuinon yang berlebihan bukannya tak membawa efek samping. Krim yang mengandungi 5% hidrokuinon telah dilaporkan memberi kesan sampingan (iritasi dan rasa terbakar pada kulit). Namun jika kadarnya hanya 2% pemakai hanya mengalami sedikit iritasi atau terbakar saja.

Pemakaian hidroquinon berlebih dapat menyebabkan kulit iritasi, dan jika dihentikan kulit akan seperti semula, bahkan bisa lebih buruk. Lebih bahaya lagi merkuri. Logam yang sebenarnya sudah dilarang itu memang menjadikan kulit tampak putih mulus, tetapi lama-kelamaan akan mengendap di bawah kulit. Setelah bertahun-tahun kulit akan biru kehitaman, bahkan dapat memicu timbulnya kanker.

Kadar zat pemutih hidroquinon untuk kosmetik hanya diperbolehkan dua persen, lebih dari itu harus diperlakukan sebagai obat.

Krim pemutih merupakan campuran bahan kimia yang bertujuan memucatkan noda hitam (cokelat) pada kulit. Dalam jangka waktu lama krim tersebut dapat menghilangkan atau mengurangi hiperpigmentasi pada kulit. Namun jangan salah, penggunaan yang terus-menerus justru akan menimbulkan pigmentasi dengan efek permanen.

Sayangnya, sekarang banyak konsumen kejeblos, menggunakan pemutih yang bermanfaat instan. Pemutih tersebut bisa menimbulkan efek rebound, yaitu memberikan respons berlawanan saat pemakaian dihentikan.

Hasil kajian tersebut juga menunjukkan bahawa krim ini hanya sesuai untuk pengguna berkulit cerah dengan spot kehitaman tidak banyak. Krim ini bekerja baik untuk perawatan kulit pada peringkat awal pembentukan bintik hitam.

Bagaimana krim seperti itu bekerja? Dari kajian ini didapat hasil hidrokuinon menghalangi pengeluaran melanin oleh melanosit di dalam epidermis. Hidrokuinon juga menembus kulit dan menyebabkan penebalan gentian kolagen.

Efek samping hidrokuinon memang sedikit saja terutama jika dipakai pada kadar rendah, namun ada rasa panas terbakar saat krim dengan hidrokuinon tinggi diaplikasikan pada kulit.

Jika krim seperti ini digunakan dalam jangka panjang, sementara kita juga terekspos sinar matahari, bukan kulit cerah merona yang kita dapat, melainkan sebaliknya. Spot coklat aau kehitaman justru bertambah, bahkan muncul bintik kekuningan pada kulit yang disebut okronosis. Kerusakan ini mungkin bersifat selamanya karena tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengembalikan ke bentuk atau warna semula.

Hidrokuinon bukan saja berbahaya jika digunakan pada kulit pada kadar tinggi. Jika termakan zat ini dapat menyebabkan keracunan yang serius. Jika yang termakan mencapai kepekatan 5-15 gram akan menyebabkan kerusakan sel darah merah (hemolytic anemia).

Siapa sih yang tak ingin kulitnya putih dan mulus dalam hitungan minggu? Tapi harap diingat, begitu kosmetik dihentikan kulit menjadi hitam atau dikotori dengan flek-flek, bahkan merah seperti udang rebus, atau lebih parah lagi muncul kanker kulit.[]

Source: http://www.hanyawanita.com/