Author Archives: Kayaunime

Aspartam Dalam Minuman Berenergi

 

Aspartam merupakan pemanis buatan yang diizinkan penggunaannya dalam batas tertentu. Menurut ketentuan Surat Keputusan Kepala Badan POM No. H.K.00.05.5.1.4547 tentang Persyaratan Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pemanis Buatan dalam Produk Pangan, maka aspartam dapat digunakan secara aman dan tidak bermasalah bila sesuai takaran yang diperbolehkan. Untuk kategori pangan minuman berkarbonasi dan non karbonasi, batas maksimum penggunaan Aspartam adalah 600 mg/kg.

Kandungan aspartam pada produk minuman berenergi yang disebutkan pada pesan singkat/SMS tersebut, jika produk tersebut sudah terdaftar di Badan POM (cek nomor registrasi pada kemasannya), berarti sudah melalui proses evaluasi terhadap aspek keamanan, manfaat, dan mutunya, berarti kandungan aspartamnya sesuai dengan kadar yang diizinkan. Yang kemudian akan menjadi masalah adalah bila seseorang mengkonsumsi produk yang mengandung aspartam secara berlebihan sehingga jika diakumulasi dapat melebihi kadar asupan harian yang dapat diterima tubuh (acceptable daily intake/ADI).  Nilai ADI Aspartam adalah 50 mg/kg berat badan. Jadi sebaiknya kita tidak mengkonsumsi produk secara berlebihan.

Di dalam tubuh, Aspartam dipecah menjadi tiga macam senyawa, yaitu metanol, asam aspartat, dan fenilalanin. Meskipun metanol bersifat toksik bagi tubuh, berdasarkan penelitian diketahui bahwa konsumsi produk yang mengandung Aspartam tidak mencapai tingkat toksik metanol. Kesimpulan yang sama juga berlaku bagi asam aspartat. Namun demikian, sejumlah kecil fenilalanin dapat menyebabkan kerusakan otak berat pada individu yang menderita kelainan genetik fenilketonuria (Phenylketouria/PKU). Jadi sebaiknya produk yang mengandung Aspartam dihindarkan bagi penderita kelainan tersebut.

Neurotoksisitas aspartam bergantung pada peningkatan kadar aspartam di dalam darah, dan peningkatan kadar tersebut bergantung pada usia dan individu yang mengalami dan beresiko PKU (Stegink, 1979). Stegink (1979) menunjukkan bahwa menelan 100-200 mg/kg aspartam oleh orang dewasa maupun bayi, menghasilkan rata-rata konsentrasi plasma puncak sebesar 49 µmol fenilalanin/100 mL darah pada menit ke 45-90 setelah dicerna.  Kadar ini masih di bawah dosis toksik. Baik AMA (American Medical Association, 1986) dan AAP (American Academy of Pediatrics, 1985) menyatakan bahwa aspartam aman digunakan untuk orang yang tidak mengidap PKU dan aman untuk janin pada kadar yang telah ditentukan. American Diabetes Association (ADA) menyetujui bahwa aspartam aman digunakan.

sumber : http://ik.pom.go.id

Kosmetik Alami sebagai Perawatan Kesehatan

 

Ketertarikan dan kegemaran kaum hawa akan kosmetik dapat ditelusuri dari zaman Mesir sekitar 4000 SM. Selain itu, penggunaan kosmetik juga dapat ditemukan pada masyarakat Yunani dan Romawi kuno.

Sementara di era Victorian, pemakaian kosmetik mendapat kecaman dari beberapa pihak, sebaliknya manusia abad 20 memandang kosmetik sebagai sebuah lahan industri yang sangat menguntungkan dan dapat meraup uang dalam jumlah banyak dengan perusahaan-perusahaan multinasionalnya. Kaum feminis boleh saja menentangnya, namun banyak yang percaya bahwa dengan memakai make-up seseorang akan tampak lebih muda, cantik, dan bahkan menigkatkan sex appeal-nya. Make up dapat mengubah penampilan seseorang secara dramatis dan digunakan oleh para aktor dan aktris secara luas, sama halnya seperti seorang dokter yang menyamarkan luka pada pasiennya secara klinis. Meski demikian, saat ini umumnya wanita-wanita di dunia menggunakan kosmetik dalam jumlah yang banyak.

Foundation atau bedak dipakai agar wajah terlihat lebih halus dan menyembunyikan noda. Sentuhan lipstik menambahkan warna, bentuk, dan isi pada bibir, sedang eye shadow dan maskara dipakai agar mata terlihat lebih berkarakter dan terlihat lebih besar. Saat ini, prosedur operasi dan make up permanen juga telah memungkinkan untuk dilakukan berkat kemajuan ilmu pengetahuan.

Setiap kemajuan dalam suatu bidang pasti ada sisi buruknya. Hal tersebut terjadi juga pada kosmetik. Lipstik bisa mengandung bahan kimia seperti besi oksida, sedang pada eye shadow terdapat dye carmine, sejenis ekstrak hewani. Disatu sisi, batas antara obat dan kosmetik menjadi kabur, sehingga mungkin saja ketika seseorang menggunakan deodoran untuk menunjang penampilannya, seseorang lainnya mungkin melihat deodorant sebagai obat antiperspirant.

Continue reading

Waspada Bahaya di Balik Krim Pemutih

Siapa perempuan yang tak bangga memiliki kulit putih berseri tanpa noda spot coklat atau kehitaman di wajah? Tidak ada. Bahkan yang berkulit gelap dari ‘sononya’ ingin tampak lebih putih. How come?

Bahkan iklan produk pemutih wara-wiri di televisi, belum lagi di media cetak. Anda tahu, dari dua produk pelembab yang terjual, salah satunya adalah produk pemutih kulit.

Apapun rela dilakukan perempuan untuk tampil lebih cantik dengan kulit putih cling. Bahkan harga bukan masalah, sekalipun harus mengeringkan tabungan bertahun-tahun! Putih sudah menjadi obsesi, yang tak jarang membuat kita lupa diri, tak waspada terhadap produk krim pemutih yang beredar di pasaran.

Mendapatkan kulit putih, atau tepatnya lebih cerah, tidak bisa dengan cara instan. Jika Anda menemukan putih dengan cara instan, katakan dalam hitungan minggu, patut dicurigai ada sesuatu di balik itu.

Secara umum terdapat berbagai jenis krim pemutih di pasaran. Krim-krim ‘ampuh’ ini umumnya mengandung berbagai jenis zat aktif seperti hidrokuinon, monobenzil dan monometil hidrokuinon, raksa, asam askorbat dan peroksida.

Namanya juga bahan kimia, selalu ada efek sampingnya jika tak digunakan sesuai takaran yang disarankan. Krim yang mengandung bahan aktif hidrokuinon amat mengesankan sekali cara kerjanya dalammembasmi spot hitam atau warna yang tidak merata pada kulit, meski hasilnya berbeda pada setiap individu.

Dalam suatu kajian yang telah dijalankan di Amerika Syarikat (Arndt dan Fitzpatrick, 1965), krim yang mengandungi 2% dan 5% hidrokuinon telah diuji ke atas 56 subjek yang mempunyai masalah spot kehitaman pada kulit. Menariknya, 12% dari jumlah subjek kajian adalah penduduk berketurunan kulit hitam. Mereka ini menggunakan krim mengandung hidrokuinon dua kali sehari selama tiga bulan.
Hasilnya menakjubkan. Krim mengandung hidrokuinon dapat menghilangkan spot hitam pada 44 orang yang mengikuti penelitian dari jumlah 56 responden.

Pemakaian hidrokuinon yang berlebihan bukannya tak membawa efek samping. Krim yang mengandungi 5% hidrokuinon telah dilaporkan memberi kesan sampingan (iritasi dan rasa terbakar pada kulit). Namun jika kadarnya hanya 2% pemakai hanya mengalami sedikit iritasi atau terbakar saja.

Pemakaian hidroquinon berlebih dapat menyebabkan kulit iritasi, dan jika dihentikan kulit akan seperti semula, bahkan bisa lebih buruk. Lebih bahaya lagi merkuri. Logam yang sebenarnya sudah dilarang itu memang menjadikan kulit tampak putih mulus, tetapi lama-kelamaan akan mengendap di bawah kulit. Setelah bertahun-tahun kulit akan biru kehitaman, bahkan dapat memicu timbulnya kanker.

Kadar zat pemutih hidroquinon untuk kosmetik hanya diperbolehkan dua persen, lebih dari itu harus diperlakukan sebagai obat.

Krim pemutih merupakan campuran bahan kimia yang bertujuan memucatkan noda hitam (cokelat) pada kulit. Dalam jangka waktu lama krim tersebut dapat menghilangkan atau mengurangi hiperpigmentasi pada kulit. Namun jangan salah, penggunaan yang terus-menerus justru akan menimbulkan pigmentasi dengan efek permanen.

Sayangnya, sekarang banyak konsumen kejeblos, menggunakan pemutih yang bermanfaat instan. Pemutih tersebut bisa menimbulkan efek rebound, yaitu memberikan respons berlawanan saat pemakaian dihentikan.

Hasil kajian tersebut juga menunjukkan bahawa krim ini hanya sesuai untuk pengguna berkulit cerah dengan spot kehitaman tidak banyak. Krim ini bekerja baik untuk perawatan kulit pada peringkat awal pembentukan bintik hitam.

Bagaimana krim seperti itu bekerja? Dari kajian ini didapat hasil hidrokuinon menghalangi pengeluaran melanin oleh melanosit di dalam epidermis. Hidrokuinon juga menembus kulit dan menyebabkan penebalan gentian kolagen.

Efek samping hidrokuinon memang sedikit saja terutama jika dipakai pada kadar rendah, namun ada rasa panas terbakar saat krim dengan hidrokuinon tinggi diaplikasikan pada kulit.

Jika krim seperti ini digunakan dalam jangka panjang, sementara kita juga terekspos sinar matahari, bukan kulit cerah merona yang kita dapat, melainkan sebaliknya. Spot coklat aau kehitaman justru bertambah, bahkan muncul bintik kekuningan pada kulit yang disebut okronosis. Kerusakan ini mungkin bersifat selamanya karena tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengembalikan ke bentuk atau warna semula.

Hidrokuinon bukan saja berbahaya jika digunakan pada kulit pada kadar tinggi. Jika termakan zat ini dapat menyebabkan keracunan yang serius. Jika yang termakan mencapai kepekatan 5-15 gram akan menyebabkan kerusakan sel darah merah (hemolytic anemia).

Siapa sih yang tak ingin kulitnya putih dan mulus dalam hitungan minggu? Tapi harap diingat, begitu kosmetik dihentikan kulit menjadi hitam atau dikotori dengan flek-flek, bahkan merah seperti udang rebus, atau lebih parah lagi muncul kanker kulit.[]

Source: http://www.hanyawanita.com/